Minggu, 05 Agustus 2018

Day 4 #Challenge : Kebakaran Hutan a.k.a Kebun

Cuaca di kampung sekarang sedang berangin. Angin yang sangat kencang sepanjang hari membuat debu berterbangan ke beranda rumah dan bertumpuk sangat tebal. Umumnya butiran tanah yang seperti pasir yang beterbangan, membuat telapak kaki terasa sangat kotor menginjak lantai.
Dan benar saja, saat di sapu, debu itu terkumpul banyak sekali. Bahkan di beberapa titik lantai sudah terlihat debu-debu yang terkumpul itu.

Musim ini biasa di sebut orang sekampung "usum kumbang" (musim angin kumbang) atau "katiga" (kemarau). Siang hari berangin begitupula malam hari, membuat pohon-pohon seolah akan tumbang, tak jarang memang tumbang betulan. Siang hari menerbangkan debu-debu membuat kotor beranda rumah, bahkan sampai masuk ke dalam rumah, kebanyakan siang hari orang-orang memilih untuk menutup rapat pintu-pintunya. Dan saat malam hari angin yang bertiup membuat sejuk sekaligus membuat tulang serasa ngilu karena terasa sangat dingin, bbrrrrrr -setidaknya itu bagi saya dan kebanyakan orang hihi.

Pagi menjelang siang ini, sekitar pukul 11 lebih 15 menit, ada berita bahwa kebun yang berada di sebelah Selatan, yang posisinya ada di belakang pemukiman warga terjadi kebakaran. Sontak membuat saya dan beberapa anggota keluarga yang ada beserta saudara lain yang letak kebunnya bersebelahan segera ke sana. Misinya sama dan hanya satu, mematikan api yang terlanjur membesar dan cepat sekali merambat karena angin.


Hal ini sangat menghawatirkan bagi kami, dan pasti bagi orang-orang yang mendengar kabar bahwa kebun mereka terbakar. Ditambah riwayat beberapa tahun silam yang sempat terjadi kebakaran di kebun kami juga, mungkin sekitar saat saya kelas 4 atau 5 SD, atau lebih kecil dari itu. Sudah terlalu lama jadi saya sudah tidak ingat kelas berapa tepatnya itu hehe

Itu terjadi pada musim yang sama seperti saat ini, kemarau nan diikuti angin kencangnya. Kebakaran itu menghabiskan 2-3 kebun milik satu keluarga kami, kakak beradik dari Bapak. Di tengah panas api dan panas matahari kami dibantu beberapa tetangga lain mencoba memadamkan api. Sedangkan angin terus berhembus kencang menguntungkan api untuk cepat merambat. Ditambah pula rerumputan yang sudah mulai mengering karna terik matahari.

Pertama sebagian dari kita coba untuk memutuskan api yang dekat dengan kebun yang belum terbakar, mencegah api segera merambat kesana dan ke kebun lainnya. Kemudian kami bahu membahu, dari yang muda sampai yang tua, berusaha memadamkan api yang ada di dalamnya. Setelah beberapa waktu akhirnya kami mampu memadamkan api.

Tapi berhubung api sudah terjalnjur besar dan menyebar ke beberapa kebun, akibatnya, beberapa pohon mati sebelum hidup lebih lama dan tumbuh lebih besar seperti yang lainnya (lebay ya istilahnya hehe) dan tidak mampu bertahan melawan panas api yang menghanguskan akar-akar muda mereka. Walhasil, jika yang lain ditebang saat mereka sudah tumbuh besar untuk di manfaatkan menjadi kayu yang bisa menjadi salah satu bahan membuat rumah, mereka harus ditebang sedari dini dan hanya dijadikan kayu bakar. Ada beberapa sih yang sudah agak besar sehingga bisa dijadikan kayu dipan atau sejenisnya, tapi hanya sedikit.

Manfaat lain dari kebakaran itu, selain memberi kerugian, adalah kami tidak susah payah untuk membabat rumput liar yang tumbuh sembarangan di seluruh kebun hehehe

Nah, untuk penyebab kebakaran di picu dari sepuntung rokok yang di buang tanpa di injak atau di matikan terlebih dahulu. Mengingat bagaimana kondisi angin saat itu dan bagaimana keringnya rerumputan yang berjejal saat itu, tentu saja sangat mudah terpercik sisa-sisa api yang ada di puntung rokok tersebut dan dengan mudahnya menjadi api besar. Setidaknya begitu spekulasi beberapa orang dewasa. Kami anak kecil hanya manggut-manggut dan ikut mengobrol sesama kami tentang kejadian itu.

Kembali pada saat ini -salah satu uwa lelaki sudah di tempat kejadian perkara (TKP) terlebih dahulu disusul kakak sepupu ipar dan krucils (anak kecil) 5 orang. Dan yang lain menyusul karna baru mendengar kabar dari tetangga beberapa saat kemudian. Saat sudah sampai setengah jalan kita menuju TKP, terlihat uwa dan kakak sepupu ipar sudah berjalan pulang. Dan ternyata kebakaran terjadi bukan di kebun kita yang berada di tebing di samping jalur sungai, melainkan kebun tebing milik orang yang tinggal di desa sebelah dan letaknya ada di seberang sisi sungai satunya.


Jadi kebun-kebun kami aman, Alhamdulillah, itu sangat melegakan. Akhirnya kami berputar arah dan kembali pulang sembari mengobrol santai bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar