Jika anda merenung, lalu memahami bahwa Allah swt. telah mencintai anda, sehingga Dia menganugerahkan kepada anda kenikmatan Islam,
Jika anda merenung, lalu memahami bahwa Allah swt. telah mencintai anda,sehingga dia menganugerahkan kenikmatan iman kepada-Nya,
Jika anda merenung, lalu memahami bahwa Allah swt. telah mencintai anda, sehingga Dia membimbing anda ke tempat ini agar anda berukuk dan bersujud kepada-Nya,
Jika anda merenung, lalu memahami bahwa sungguh Allah swt. telah mencintai anda dan memampukan anda untuk berdiri di hadapan-Nya, sehingga anda dapat berucap, “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
Jika anda merenung, lalu memahami bahwa Allah swt. telah mencintai anda, sehingga Dia memuliakan anda dengan berbagai kenikmatan dunia yang dikeluarkan-Nya dari langit dan bumi-Nya sebagai rezeki untukmu,
Jika anda merenung, lalu mendapati bahwa nikmat kesejahteraan menghiasi diri anda, apa artinya? Terlihat jelas dari itu bahwa Allah swt. mencintai anda.
Ya, demi Allah..Demi Allah Yang tiada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya Dia mencintai kita semua.
Dia mencintai kita ketika memuliakan kita dengan kenikmatan mengenal-Nya.
Allah mencintai kita ketika Dia memuliakan kita dengan kenikmatan berdiri di hadapan-Nya.
Allah mencintai kita karena Dia memperkenankan kita untuk bersujud kepada-Nya.
Dan jika anda telah mengetahui bahwa Allah mencintai anda, apakah anda tidak ingin membalas cinta-Nya dengan cintamu?
Apakah anda tidak mau membalas Dia yang mencintai anda dengan cinta?
Seharusnya cinta kepada Allah membuncah di hati anda.
Jika cinta kepada Allah swt. telah menguasai hati anda, maka ia akan mengusir semua kegelapan selain-Nya.
Di hati anda tidak akan ada lagi tempat untuk sesuatu yang lain.
Jika sudah demikian, maka saat anda melihat hamba-hamba Allah swt., kemudian anda merenungkan mereka, maka anda akan mendapati mereka semua lebih baik dari anda.
Jika mereka tidak lebih baik dari anda hari ini, mungkin saja mereka akan lebih baik dari anda di esok hari.
Di antara kebiasaan junjunganku, Syaikh Ahmad Rifa’i, jika murid-murid dan para pencintanya duduk berkumpul di sekelilingnya, sementara beliau menasihati dan mengajari mereka, beliau selalu berhenti seraya berkata:
“Niscaya aku akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Namrudz, dan Haman jika aku memandang diriku lebih baik dari siapapun di antara kalian. Aku Ahmad yang tidak berarti dari yang tidak berarti. Aku bukan apa-apa. Hanya saja Allah swt. menempatkanku di tempatku saat ini.”
Sikap ini dituntut dari kita. Terutama kita yang tengah melakukan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar, kita harus memiliki sifat ini.
Siapa yang berkata kepada anda bahwa orang-orang yang duduk dan mendengarkan ceramah anda lebih rendah dari anda kedudukan mereka di sisi Allah? Siapa yang berkata ini?
Mungkin saja nanti anda menyaksikan ketika manusia menghadap kepada Tuhan semesta alam, anda melihat kebanyakan orang yang dulu anda mengajari dan mendakwahi mereka dan mempraktekkan kepada mereka amar makruf serta nahi mungkar, ternyata anda menyaksikan mereka lebih baik dari anda sendiri, dan ternyata mereka menempati kedudukan yang lebih baik dari kedudukan anda.
Kemudian, jika anda melihat orang fasik, jika anda melihat pelaku maksiat, siapa yang tahu bahwa Allah swt. mungkin akan meliputinya dengan rahmat di hari kiamat, lalu mengampuni dosanya sebagaimana Dia telah menutupinya di dunia?
Tidakkah anda pernah mendengar hadits shohih dari Rasulullah saw., bahwa akan dihadirkan seseorang di hari kiamat..Ini sebagai contoh dari milyaran manusia sepertinya. Bahwa akan dihadirkan seseorang di hari Kiamat, lalu Allah memberhentikan ia di hadapan-Nya. Kemudian Allah menutupinya dengan tirai. Allah swt. bertanya kepadanya : “Apakah kau ingat dosa yang pernah kau lakukan di hari itu?”, Orang itu menjawab, “Iya, Tuhanku.”, Allah swt. bertanya lagi : “Apakah kau ingat dosa yang pernah kau lakukan di hari itu?”, Orang itu menjawab, “Iya, Tuhanku.” , Allah swt. bertanya lagi : “Apakah kau ingat dosa yang pernah kau lakukan di hari ini?”, Orang itu menjawab, “Iya, Tuhanku.”. Kemudian Allah berfirman: “Sungguh Aku telah menutupinya bagimu di alam dunia. Dan sekarang, Aku akan mengampuninya untukmu.”
Kenapa kita tidak berakhlaq dengan akhlaq Allah?
Kenapa kita tidak memenuhi hati-hati kita dengan kasih sayang kepada hamba-hamba Allah?
Kenapa kita tidak menjadikan kasih sayang ini sebagai sarana untuk menarik orang lain kepada perlindungan Allah swt.
Nasihat ini saya tujukan pertama kepada diri saya sendiri karena saya adalah manusia yang paling membutuhkannya. Kemudian saya tujukan nasihat ini kepada setiap saudara saya karena Allah.
Saya memohon kepada Allah swt agar tidak membiarkan kita dalam kesombongan. Saya juga memohon kepada Allah swt. agar mencegah kita untuk menjadi korban bagi syahwat, nafsu, dan keegoisan diri kita. Saya sampaikan ini, dan saya memohon ampunan Allah swt. Yang Maha Azhim.
-Allamah Syahid Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi ra.-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar