Selasa, 06 Oktober 2015

Kajian Entrepreneur

Ustadz Valentino Dinsi
Di AQL Tebet

Notulensi : Nur Hidayati a.k Nuhi

3 Prinsip utama dalam bisnis

1. Temukan dan jual produk atau jasa yg dibutuhkan oleh byk orang dan buatlah mereka rela membayar lebih. Kita dituntut kreatif dan inovatif

2. Jual dan promosikan produk atau jasa secara masif dan agresif.
Dengan promosi yg agresif, konsumen akan terus datang untuk membeli produk atau jasa kita.
Fokuslah mencari konsumen baru dengan tetap mempertahankan yg lama.

3. Belajarlah mengelola keuangan.
Pisahkan keuangan bisnis dengan pribadi

Dalam berbisnis, hendaknya mencontoh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam yang telah expert dalam berdagang dan usaha sendiri selama kurang lebih 25 tahun.

Beliau contoh pengusaha sejati. Dalam berdagang tidak selalu memikirkan untung dan rugi, tapi memikirkan halal dan haram dalam usahanya demi kelangsungan ummat. Bisnis demi kelangsungan ummat termasuk bagian dari fardu kifayah.

"Seorang muslim seharusnya bisa lebih kaya daripada non muslim, karena Nabi Muhammad seorang pedagang.Sedangkan Nabi Isa hanya tukang kayu. Maka seorang muslim harusnya lebih hebat dari non muslim."
(Hermawan Kertajaya)

Sukses akan datang saat kita ikut memikirkan ummat, jadi jika kamu sukses dan hanya dinikmati sendiri itu belum bisa disebut sukses melainkan egois.

Dalam berbisnis yang paling utama adalah menentukan target marketingnya kemudian mulai fokus dalam berbisnis.

Saat memulai usaha,lakukan semua sendiri, tak perlu berbisnis dengan menggandeng orang lain dan jangan menyerahkan bisnis kita kepada orang lain.

Jika bisnis sudah berkembang, gunakan tenaga orang lain untuk mengembangkan bisnis kita seperti halnya Rasulullah yang menginvestasikan usahanya.

Jangan menargetkan berapa penjualan yg kamu peroleh tapi targetkan berapa jumlah sedekahmu tahun ini.Otomatis penjualan akan meningkat saat kita ikut memikirkan ummat
(Ustadz Bachtiar Natsir)

@nuuurhidayati

==========***==========

Jumat, 18 September 2015

Less For More

Di bulan Ramadhan kemarin saya sempat one-on-one mentoring dengan salah satu pemilik saham mayoritas grup perusahaan di sektor agri yang sudah publik. Karena level bisnisnya sudah jauh berbeda, selain network, sebenarnya nggak banyak yang bisa diimplementasikan. Apa yang beliau disampaikan seringnnya terlalu umum, kadang juga sangat korporat. Tapi, justru ada kejadian menarik yang nggak berkaitan sama sesi ini.

Waktu mentoring selesai, saya meletakkan HP BB Armstrong buluk saya di atas meja. Bentuknya memang suram, sesuram jomblo mendalami kisah asmaranya. Ini pun hasil warisan dari istri sendiri, karena HP sebelum ini HP jadul hasil minta ke suhu Al. Melihat HP saya, si Bapak senyum dan mengeluarkan HP yang sama, BB Armstrong, tapi casing luar lebih terawat.

"Sama dong HP kita", kata dia.
"Kok tumben anak muda startup macam kamu nggak pakai HP necis?", tambahnya.

Emang anak gaul perkotaan HPnya keren sih. Mungkin, di pikiran dia, HP saya begini karena memilih jalan sederhana dan anti-kemapanan. Padahal cuma karena kere. Tapi, dipikir-pikir, saya masih wajar pakai HP seadanya, kan makan sehari-hari masih gehu dan bala-bala. Lah, beliau ini kan perusahaannya udah triliunan, Tbk pula, justru saya yang harusnya heran.

"Iya, Pak. Biar praktis, kan udah punya tablet buat internetan. Justru saya yang lebih heran, kok Bapak HPnya cuma gini aja?", tanggap saya.

Seakan sudah berharap saya menanyakan itu, si Bapak tersenyum sambil menunjuk HPnya. "Dengan HP yang harganya segini, saya bisa handle bisnis triliunan, dan menghasilkan triliunan kan. Bandingin sama anak muda yang HP bagus dipakai untuk update social media, nilai produknya timpang. This is less for more!"

Saya tercenung. Selain karena saya baru sadar kalau di kantong kirinya terselip HP necis, yang berarti dialog tadi cuma akal-akalan dia supaya bisa menyampaikan konsep itu ke saya, saya tercenung dengan konsepnya yang luar biasa dalam. Less, for more. Hal yang lebih sedikit, untuk hal yang lebih banyak. Pulangnya saya merenung, dan semakin sadar bahwa aplikasi konsep ini sangatlah luas.

Less for more adalah tentang efisiensi dan daya guna. HP si Bapak adalah simbol dari sumber daya yang kita miliki: waktu, tenaga, orang-orang di sekitar kita, dan lain sebagainya. Dan cara dia menggunakannya menjadi gambaran bagaimana kita bisa mengoptimalkan sumber daya. Seharusnya kita bisa memaksimalkan satu jam waktu dan energi kita, dengan menghasilkan dampak riil yang lebih besar dari biasanya. Saya yang bisnisnya nggak gede-gede amat, hanya bisa khatamkan 1 buku per pekan. Sementara Elang Gumilang yang nilai proyeknya sudah 10 triliunan, bisa menamatkan 1 buku setiap harinya. Apa yang membedakan ini? Penggunaan waktu yang lebih sedikit, untuk hasil yang lebih banyak. Ini berkaitan dengan konsep selanjutnya.

Less for more adalah tentang alokasi. Dalam setiap unsur yang tangible dan berbatas, alokasi menjadi kunci efektivitas, dan ini selalu soal memilih. Dalam unsur waktu yang hanya kita miliki 24 jam sehari (berbatas), alokasi kita terhadap hal tersebut jadi dasar dari dampak yang dihasilkan. Kita tidak bisa tidur 8 jam sehari, main game 4 jam sehari, jalan-jalan 4 jam sehari, lalu berharap jadi pintar dan berkecukupan tiba-tiba, tanpa alokasi waktu belajar dan bekerja, kan? Jika uang kita 5 juta rupiah dan 4 juta dipakai beli HP, tentu akan berbeda hasilnya ketika 500ribu dipakai beli ponsel, 3juta sedekah, dan 1,5juta sisanya berinvestasi. Dalam unsur yang berbatas, memutuskan untuk menghabiskan lebih sedikit pada satu hal, akan menyisakan lebih banyak untuk dimanfaatkan ke hal lain, yang luarannya bisa jauh berbeda. Less for more.

Less for more adalah tentang kejernihan memandang diri. Akar masalah pada konsumerisme manusia jaman sekarang adalah ketidakmampuan membedakan dengan jelas antara kebutuhan, keinginan, dan kemampuan; lalu salah memutuskan mana yang dipilih diantara ketiganya. Saat pada kenyatannya, kebutuhannya hanya nokia 3310, keinginannya iPhone, dan kemampuannya Xiaomi, orang-orang yang bias akan menganggap keinginannya adalah kebutuhan, sehingga menimbulkan hasrat diri untuk memenuhinya. Jurangnya dengan kemampuan lah yang kelak akan menjadi lubang: yang jika memaksa mencapainya akan memberikan tambalan tidak perlu pada materi, dan jika tidak tercapai akan memberi jarak dengan kebahagiaan dan kepuasan. Titik jernih adalah saat sadar bahwa kebutuhan kita selalu lebih sedikit (less) dari keinginan, dan bahwa kemampuan kita bisa didedikasikan pada keinginan yang di arahkan ke sudut lain yang berdampak lebih besar (more).

Penjelasan panjang lebar di atas pada hakikatnya telah diteladankan dengan sederhana oleh Rasulullah dan sahabatnya. Melalui efisiensi waktunya yang bekerja efektif siang hari, dan beribadah tiada lelah di malam hari. Melalui alokasi materinya yang memilih sedekah berlimpah, dengan merelakan memakai sandang tambalan. Melalui mentalitas sederhananya dalam titik jernih yang tiada banding. Lalu, tidak jarang muslim kini yang meneladaninya hanya karena mereka kaya dalam materi, lalu melupakan bahwa kekayaan sebenarnya ada di dalam konsep diri.

-Aa Ganteng- Gibran Huzaifah - efishery.com

Jumat, 04 September 2015

Kisah Nyata Akhwat Mesir : Telat Nikah

Ini cerita menginspirasi banget..  cocok buat kalian yang belum menikah.
~~~~~~~~
Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Ibunya tidak mau tinggal diam sampai memutukan tuk mengakhiri proses taaruf antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka'bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur'an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

"Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar". (An Nisa': 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya. Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo. Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun. Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang. Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku.....

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.

Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku. Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya.....aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku. Perasaanku mulai diliputi kecemasan. Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan. Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan "Selamat, anda hamil!"

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya. Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung. Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab: "Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun."

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar. Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.

Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah. Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya:

"Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan. Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

"Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas". (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

"Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami..." (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

Jazaakumullahu khairan

*copied from my WhatsApp group

Sabtu, 22 Agustus 2015

KIAT SUKSES BISNIS....

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadualnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi. Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman,yang ilmu agamanya lumayan. Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya,"Jadual sholatmu gimana?"

"Jadual sholat? Apa hubungannya?" saya keheranan.

"Sholat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.

" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.

" Sholat dhuhur jam berapa?"

"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.

"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.

" Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.

Temen saya tersenyum dan berkata,"Pantas jadual hidupmu berantakan."

"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.

"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.

"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.

"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.

"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.

"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek. Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna. Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A,"Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok,. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."

Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B,"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada hjadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut,"O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"

Dari seberang sana dia menjawab,"OK Mas, nanti saya sampaikan."

Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, bunyinya: Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.

Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita. Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani. Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

#share dari group WhatsApp, semoga bermanfaat ^^

KikiTA
22-08-2015

Rabu, 19 Agustus 2015

HABIB HUSEIN AL-MUTHAHAR, PENCIPTA LAGU "17 AGUSTUS TAHUN 45"

Selama ini kita hanya mengenalnya sebagai H. Muthahar, pencipta puluhan lagu wajib nasional. Ternyata beliau adalah seorang habib, keturunan Rasulullah SAW. Nama lengkapnya adalah Habib Muhammad Husein Muthahar, paman dari Habib Umar Muthahar Semarang. Beliau juga dikenal sebagai penyelamat bendera pusaka asli (saat Agresi Militer Belanda II) dan pendiri Paskibraka.

Habib Muhammad Husein Muthahar adlh seorang komponis lagu Indonesia yg hebat.. Habib yg dikenal dgn nama H. Mutahar ini tlah menghasilkan ratusan lagu Indonesia, seperti lagu nasional Hari Merdeka, Hymne Syukur, Hymne Pramuka, Dirgayahu Indonesiaku, juga lagu anak2 seperti Gembira, Tepuk Tangan Silang2, Mari Tepuk & lain-lain.. Lagu Hari Merdeka & Hymne Syukur adalah salah satu lagu fenomenal yg diciptakan oleh Habib Muhammad Husein Muthahar..

Terkait penciptaan lagu Hari Merdeka, ada satu cerita yg menarik. Ternyata inspirasi lagu Hari Merdeka ini muncul secara tiba2 saat beliau sedang berada di toilet salah satu hotel di Yogyakarta. Bagi seorang komponis, setiap inspirasi tidak boleh dibiarkan lewat begitu saja. Beliau pun cepat-cepat meminta bantuan Pak Hoegeng Imam Santoso (Kapolri pada 1968–1971). Saat itu Pak Hoegeng belum menjadi Kapolri..

Sang Habib menyuruh Pak Hoegeng untuk mengambilkan kertas & bolpoin. Berkat bantuan Pak Hoegeng, akhirnya jadilah sebuah lagu yg kemudian diberi judul “Hari Merdeka”. Sebuah lagu yg sangat fenomenal & sangat terkenal yg banyak dinyanyikan oleh bangsa Indonesia, bahkan anak2 pun sangat hafal & pandai menyanyikannya..

Berikut lirik lagu "Hari Merdeka" ciptaan Habib Muhammad Husein Muthahar:

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa & Bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia Membela negara kita...

Selain “Hari Merdeka”, lagu berikut juga menjadi karya fenomenal beliau. Judulnya “Syukur”. Lagu ini tercipta dibuatnya pada tgl 7 September 1944 setelah menyaksikan banyak warga Semarang, kota kelahirannya, bisa bertahan hidup dengan hanya memakan bekicot. Berikut lirik lagunya:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniamu
Tanah Air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
KehadiratMu Tuhan

Sekilas Tentang Habib Husein Muthahar

"Husein Mutahar", begitu nama latinnya, lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tgl 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau sama dgn SD Eropa selama 7 thn) , kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dgn SMP selama 3 tahun) & dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dgn SMA selama 3 thn) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta. Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dgn mengambil Jurusan Hukum &;Sastra Timur dgn khusus mempelajari Bahasa Jawa Kuno. Namun perkuliahannya hanya 2 thn, drop out (DO) karena harus ikut berjuang.

Habib Husein Muthahar terlibat Pramuka sejak awal lembaga kepanduan berdiri. Beliau adlh salah seorang tokoh utama Pandu Rakyat Indonesia, gerakan kepanduan independen yg berhaluan nasionalis. Ia juga dikenal anti-komunis. Ketika seluruh gerakan kepanduan dilebur menjadi Gerakan Pramuka, Habib Husein Muthahar juga menjadi tokoh di dalamnya.

Dlm kehidupan berorganisasi, pengalaman beliau adlh sbb :
1. Ikut mendirikan & bergerak seb pemimpin Pandu serta menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan & Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s/d 20-5-1961.
2. Ikut mendirikan & bergerak seb Pembina Pramuka, duduk seb anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka & Andalan Nasional Urusan Latihan 1961-1969.
3. Sekjen Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka 1973-1978, & anggota biasa 1978-2004.

Habib Muhammad Husein Muthahar, yg juga mantan duta besar Italia ini, kemudian meninggal dunia di Jakarta tgl 9 Juni 2004 di usia 88 thn. Lahu Al-Fatihah..
``````````````````````````````````````
*informasi ini disampaikan oleh Departemen Komunikasi & informasi GEMUIS BETAWI

Rabu, 29 Juli 2015

Lebih Afdhol Puasa Syawwal di Akhrikan

Mengapa puasa 6 hari Syawwal sebaiknya diakhirkan setelah hari-hari ied?

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi -hafizhohulloh- mengatakan:

Lebih Afdholnya… hendaknya seseorang menjadikan hari-hari iednya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).

Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina: ‘itu adalah hari-hari makan dan minum… maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya”.

Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari idul fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini…

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak’ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa’, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.

Dan telah datang keterangan dari Nabi -alaihis sholatu wassalam- bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan: ‘sungguh aku sedang berpuasa (sunnah)’.

Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya’.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih afdhol dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dengan tidak berpuasa). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih afdhol dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan: ‘Jika ada dua keutamaan yang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain… maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan’. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.

Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak’ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan syawwal; ia dibolehkan selain pada hari ied.

Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan nuansa bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan bahwa mementingkan hal itu akan mendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa)…

Oleh:
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى
(Kandidat Doktor Univ Islam Madinah)
[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5]. (87)

Pijar Cita-cita

Tulisan ini terinspirasi saat guru kami, Ustadz Budi Ashari, Lc bertutur menyampaikan fungsi sejarah. Salah satunya adalah fungsi motivasi. Beliau mengajarkan bagaimana belajar sejarah yang menyenangkan. Belajar cara mendalami sejarah agar lebih bersemangat. Belajar mengambil ibrah dari kisah-kisah bernilai tinggi. Mari bersama kita selami betapa dahsyatnya sejarah masuk ke relung jiwa kita.

Kisah ini dimulai seperti yang tertulis di dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala’. Imam Adz Dzahabi sang penulisnya menceritakan kisah pertemuan empat pemuda istimewa. Pemuda pertama adalah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khottob. Ketiga pemuda lainnya adalah putra Zubair bin Awwam yang dilahirkan dari rahim Asma’ binti Abu Bakar-shahabiyah yang disebut Nabi sebagai Dzatun Niqatain-. Mereka adalah Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair.

Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah. Kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “berharaplah!”. Ya, ini adalah pertemuan berharap. Majelis harapan. Majelis impian. Majelis asa. Majelis cita-cita.

Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”

Masya Allah... Anak muda yang ingin menjadi khalifah. Sejak muda telah berfikir cita-cita dan tanggung jawab yang besar.

Selanjutnya Urwah bin zubair berkata, “Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.”

Keinginannya sangat mulia, ingin menjadi seorang ulama, seorang ilmuan besar.

Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”

Lihatlah! Mush’ab bercita-cita dua hal sekaligus: menjadi pemimpin di Iraq dan menikahi wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik di zamannya. Keduanya putri dari sahabat-sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Terakhir, sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.”

Sebuah pinta yang terkesan sederhana, tapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba tiap insan bertaqwa.

***

Detik demi detik berganti. Waktu pun berlalu. Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita tulus yang mereka katakan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun. ‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah. Banyak sanat hadits darinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya. Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.

Masya Allah... kekuatan keinginan, cita, dan asa yang Allah ijabah. Allah izinkan harapan-harapan itu terwujud.

Keinginan yang belum bisa kita lihat adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu? Tapi Imam Adz Dzahabi rahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan. Aamiin, semoga...

Bagaimana rasanya ketika kisah ini dibaca? Bukankah banyak pelajaran mahal yang bisa diambil?

Majelis cita-cita yang di bahas di atas bukan sebuah pertemuan yang sangat formal. Mereka “hanya” sedang duduk bersama. Berbicara ringan namun syarat makna. Mereka membincang asa yang berorientasi kemuliaan hidup di akhirat, bukan saja di dunia.

Benarlah bahwa perkataan muslim adalah doa. Doa-doa yang akhirnya Allah wujudkan menjadi nyata. Maka hendaklah tiap muslim menjaga lisannya. Perkataan empat pemuda istimewa ini bukan komentar tak jelas arah. Bukan pula omong kosong, atau bualan belaka seperti yang dilakukan sebagian pemuda hari ini di saat kongkow mereka. Kata-kata yang hanya menggambarkan hidup tanpa kejelasan visi disertai kerontangnya ruhiyah, naudzubillah...

Merekalah pemuda-pemuda dengan sentuhan Nabi yang ditempa dengan keimanan dan Quran. Para pemuda yang dibina dengan pendidikan terbaik. Mereka tumbuh menjadi pemuda yang berani bercita-cita dan mewujudkan apa yang mereka inginkan. Dengan keimanan yang menghujam, yakin seutuhnya atas izin dan pertolongan Allah. Maka ini jadi PR para orang tua dan pendidik untuk melahirkan kembali generasi gemilang seperti ini.

Benarlah pula bahwa salah satu fungsi sejarah adalah motivasi. Tidakkah ini memotivasi kita? Renungkan! Siapapun punya kesempatan istimewa.

Siapalah Abdullah bin Zubair? Sehingga kemudian ia bercita-cita ingin menjadi khalifah. Ia bukan dari keluarga istana (meski keluarganya adalah keluarga sahabat Nabi yang mulia). Namun ia tetap berani bercita-cita, dan yang terpenting berani untuk berusaha meraihnya.

Maka, berharaplah! Bercita-citalah! Setiap orang berhak memiliki impian dan asa. Ia boleh menggantungkannya setinggi langit, tapi ia harus siap untuk memperjuangkannya sekuat tenaga.

Pun bedakan dengan orang-orang yang hanya berkhayal. Perbedaan orang yang bercita-cita dan berkhayal adalah ketika dia melaksanakan, mencoba berupaya maksimal untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan orang yang hanya bermimpi dan berkhayal adalah yang tetap dalam tempat tidurnya. Tidak kemana-mana. Tidak bergerak sama sekali. Maka bagaimana mungkin ia akan meraih impian-impiannya?

Manusia boleh bercita-cita. Biarkan pijar semangat meraihnya terus berkobar dan menyinari kehidupan kita. Jangan biarkan padam! Mari bersama semaksimal mungkin dalam upaya menjadi hamba Allah yang mulia, sholih, dan berilmu. Sampai suatu hari kita akan menyaksikan hadits Nabi “bekerja”:

“Bekerjalah kalian! setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya masing-masing.”

Jum'at, 29 Agustus 2014 10:33 Ditulis oleh Nunu Karlina

Senin, 20 April 2015

Karena Aku Tak Sempurna

Aku seorang muslim yang mencoba taat.
Aku menggunakan hijab ini untuk Allah, karena Allah memerintahkanku dan kaumku, kaum hawa untuk menutupi auratku.
Aku mencoba untuk mengenakan hijab sesuai dengan syariatnya dan ternyata aku menemukan kedamaian padanya (mengenakan hijab yang menutupi dada, red*).

Lantas apakah jikalau aku telah berhijab lalu aku bisa dikatakan sempurna?
Apakah telah bisa aku dianggap takberkhilaf?

Tidak!
Jelas aku katakan tidak!
Bukan aku ingin merendah hati atau menutupi, tapi hanya dengan berhijab lalu aku dianggap seorang manusia yang sempurna dan haram melakukan dosa.

Bukan hijabnya. Bukan dosanya.
Disini aku menyoroti pada diriku, dan mungkin pada saudari-saudariku lainnya, yang tak lain dan tak bukan hanyalah seorang manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Karna sejatinya hanya Allah saja yang memiliki kesempurnaan.

Melakukan dosa memang sepatutnya dihindari, tapi apadaya, sesering apa kita menghindar, sejauh apa kita menjauh, satu ataupun dua pasti kita terjatuh juga. Mungkin bukan pada dosa besar (naudzubillah), tapi dosa-dosa kecil yang seringnya tak kita sadari pasti pernah kita lakukan.

Bukan ingin berbangga diri atas seringnya khilaf dan menumpuknya dosa-dosa, namum sebaliknya, diri ini ingin mengingatkan kembali kepada saudara-saudariku seiman dan tentunya untuk diriku pribadi, bahwa kita tidak sempurna dan kitalah tempatnya khilaf dan dosa. Maka dari itu aku ingin memohon maaf atas segala dosa dan khilaf yang aku lakukan, karena ketidaksempurnaanku.

Segala salah dan khilaf datangnya dari diri ini, bukan dari hijabku apalagi dari agamaku. Aku terima jika aku ditegur karna salahku yang baik tidak disengaja apalagi sengaja, tidak lansung apalagi langsung, aku terima dan aku memohon maaf. Hal itu adalah ajang bagiku untuk muhasabah diri dan mencoba untuk meningkatkan diri.

Namun, ku mohon jangan bawa hijabku! Jangan bawa agamaku! Mengapa aku yang salah tapi hijabku yang dijadikan suatu alasan untuk memarahi ataupun menasehati. Hijab hanyalah simbol, pelindung dan suatu bentuk lain dari ketaatan. Sedangkan akhlak, adanya di diriku.

Aku hanya berusaha untuk menjadi pribadi muslim yang baik dan lebih baik setiap harinya. Dan bantulah aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan jalan dan ajaran yang lebih baik pula.

Tapi jangan lupa, seperti yang pernah diucapkan oleh Imam Syafi'i, "Nasihatilah aku ketika sendiri, jamgan nasihati dikala ramai. Karena nasihat dikala ramai itu bagai hinaan yang menyayat hati."

Terima kasih atas pengajaran kalian yang coba mengingatkanku dan membawaku kepada jalan yang sebenarnya ingin aku tempuh.

Semoga Allah melindungi, merahmati serta memberika  pengampunan-Nya seluas-luasnya. Serta semoga kita dapat terus belajar dan bertumbuh kearah yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Yours sincerely.
20-04-2015

Jumat, 17 April 2015

Allah, tetaplah ada dalam hatiku

Aku merasa tersesat dikeramaian kota
Terbengkalai dalam istana yang megah nan indah
Terjerumus kedalam sumur yang dalam dan gelap
Hampa ditengah kemegahan dan sangat jauh dari rumah

Namunku selalu mendapat setitik cahaya ditengah kegelapan
Ada lambaian tangan yang menyapa
Tangan itu terjulur dan memberi ketenangan
Seolah dengan-Nya aku dapat pulang dengan tenang

Aku tak ingin kehilangan cahaya itu, yang menjadi tumpuanku berjalan
Tak ingin ku abaikan, lambaian demi lambaian, yang memberiku harapan
Tak mau aku lepaskan tangan itu, yang menuntunku kembali pulang.

Ya Allah..
Berkali-kali aku jatuh, berkali-kali pula Engkau mengangkatku
Seseringnya aku tersesat, sesering itu pula Kau meluruskanku
Sebanyak apapun aku berbelok, sebanyak itu pun Engkau menunjukkanku jalan yang benar

Sungguh besar kasih dan sayang-Mu terhadap hamba
Maha Penyayang dan Maha Pengasih, itulah Engkau adanya
Tak terkelakkan segala hal yang hanya Engkau saja yang memilikinya
Maka pastilah Engkau disebut Allah Maha Esa!
Maka benarlah Engkau disebut Allah tiada bandingan-Nya.

Ya Allah terima kasih..
Atas segala yang Kau beri untukku
Ya Allah terima kasih..
Untuk semua hal yang Kau tentukkan untukku
Ya Allah tetaplah..
Tetaplah memenuhi hatiku,
Tetaplah menuntun hatiku menuju pada-Mu

Karna aku tanpa-Mu adalah bukan apa-apa
Akan tetapi diri-Mu adalah segalanya bagiku

St. Gondangdia
Jum'at, 17 April 2015
8.08 PM

Rabu, 01 April 2015

Aku, Kalian

Aku kehilangan harapan
Tiang tempatku berpegang tlah hilang
Aku merasakan kehampaan yang mendalam
Ramaipun tak lagi mengisi kekosongan dihati

Aku ringkih dengan hati yang menangis
Aku rapuh bagai pohon yang kegilangan penopangnya
Karena tak ada lagi kalian yang mengisi

Dahulu persahabatan ini sangat berarti
Setiap pertemuan slalu ku nanti
Namun kini, kian hari kian sirna
Bukan karna rasa itu tak lagi ada
Tapi karna ku merasa kalian semakin jauh
Jauh dan makin jauh dariku
Semakin jauh tuk bersama

Memang kesibukan menyita waktu kita
Mungkin waktu terasa semakin sempit sekedar tuk bercengkrama
Tapi aku masih menanti, hari-hari yang dulu kembali
Namun penantian bergani dengan kekosongan
Penantian berganti kepiluan

Tangisku pecah, tangisku buncah laksana ombak yang tak kian habis
Aku ingin pergi, aku ingin berhenti
Mengharapkan kehangatan, kebersamaan dan keceriaan
Mengharapkan hati ini kembali merasa
Bahwa sahabatku selalu ada

Aku tak ingin menghujat
Aku tak ingin mencaci dan memaki
Aku tak ingin menyalahkan
Karena semua ini bukan salah kalian
Ini hanyalah ke egoan diri yang terlalu menggunung tinggi dan mengikuti nurani
Ini hanyalah kesalahan diri yang 'senang' terbawa emosi

Dari hati seorang sahabat untuk sahabat-sahabatnya.

01/04/2015

Selasa, 31 Maret 2015

Kepribadian : My Personality

Selamat pagi..

Kali ini aku mau bahas sedikit tentang kepribadian. Tulisan ini bukan artikel ilmiah seperti jenis-jenis kepribadian dan klasifikasinya, etc.

Tulisan kali ini gak lain cumam sebuah langkah yang aku buat sekedar untuk mengenali diri sendiri. Tentunya penting bukan buat kita untuk mengenali kepribadian setidaknya kepribadian yang kita miliki?

Nah, pertama-tama, aku itu seseorang yang cenderung penyendiri. Terkadang aku nyaman untuk berbincang-bincang dengan diri sendiri (bukan berarti gila ya!! Hehe) dan gak terlalu terbuka sama orang lain. Aku orang yang pendiam dan gak terlalu suka menjadi sorotan publik, aku lebih suka beraksi dibelakang panggung, jadi yang sibuk tapi di 'behind the scene' hehehe.

Jiwaku sedikit banyaknya suka travelling walau sejauh ini belum pernah traveling sendiri sih (but I'd love to!). Mungkin karna terlalu banyak faktor yang dipikirkan, seperti kuliah dan pekerjaan yang gak mungkin seenaknya ditinggal sedangkan waktu cuti kerja biasanya aku ambil saat hari raya idul fitri untuk pulang kampung. Serta faktor lainnya adalah keuangan, karna aku harus mikirin biaya kuliah dan lain sebagainya.

Aku suka melihat pemandangan dan mencintai fotografi walaupun sekarang hanya bisa asal jepret dengan android kesayangan :).

Orang yang jarang mencurahkan isi hatinya dan berbagi masalah, that's who I'm. Bukan karna gak percaya sama orang tersebut, tapi mungkin aku terbiasa menjalaninya sendiri. Mungkin juga karna merasa tidak bisa terlalu mengandalkan orang lain, atau seringnya ditolak saat meminta tolong hahaha I'd never know.

But, tetep ada orang yang biasa aku suka curhat sama dia. She is my best friend. ^_^
Oiya, btw about best friend, aku sangat menghargai hubungan persahabatan. Bukankah sahabat itu sudah lebih dari sekedar teman biasa?
Yups, persahabatan itu hubungan yang langka dan sakral menurutku. Their is very special. So, I love them, my dearest best friends. I love my family too, of-course ♡♥

Aaand, well.. mungkin itu aja yang bisa aku share. Semoga kita bisa mengenali diri kita sendiri ya guys. Dan dengan demikian, semoga kita lebih bisa mengontrol diri kedepannya, karena kita sudah tau diri kita sendiri. Bagi yang suka marah semoga bisa mengontrol amarahnya hehehe (seems, me too hihi)

So far, aku cukup mengenali diri sendiri dan coba terus mengontrol hal-hal jelek yang ada. How about you, guys?

Have a nice day!! ;)

Senin, 23 Maret 2015

Barisan do'aku

Ya Allah,
Engkaulah Yang Maha Memiliki langit dan bumi.
Engkau Maha Kaya lagi Maha Pemurah.
Engkaulah Robb satu-satunya Yang Maha Kuat dan patut tuk disembah..

Sungguh hamba-Mu ini hina dan tak berdaya,
Ampunkan dosa dan alfa hamba,
Ampunkan dosa dan alfa kedua orangtua hamba,
Ampunkan dosa dan alfa saudara & sanak keluarha hamba,
Ampunkan dosa dan alfa saudara seiman hamba..

Kami hanyalah hamba-Mu yang kecil dan rapuh,
Yang selalu memohonkan pengampunan-Mu,
Yang selalu mengharap kasihsayang dan perlindungan dari-Mu,
Yang haus akan ridho serta rahmat-Mu..

Mudahkalah ya Robb,
Bagi kami untuk taat beribadah kepada-Mu,
Untuk mensyukuri nikmat dalam segala bentuk yang Kau anugerahkan,
Untuk bersabar dalam ujian kebahagiaan dan kesedihan dari Engkau,
Untuk semakin mencintai Engkau dan Rasul utusan-Mu..

Allah Yang Maha Berkehendak,
Hilangkanlah hutang yang mengikat kami,
Jauhkanlah azab yang mengancam kami,
Haramkanlah kami dari neraka-Mu yang menggelegar,
Ampuni dan lindungilah kami ya Robb, Yang Maha Pengampun lagi Maha Pelindung..

Sungguh, jiwa dan raga kami ini adalah milik-Mu,
Nyawa ini akan kembali kehariban-Mu,
Segala dunia dan isinya kepunyaan-Mu,
Jauhkanlah kami dari mencintai dunia dan melupakan akhirat,
Berikanlah kami hidayah dan peringatan-Mu yang membawa kami pada ketakwaan terhadap-Mu..

Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati,
Segumpal daging ini adalah bentuk kuasa-Mu yang lain,
Dari sekian kuasa yang tak terhingga hitungannya,
Luaskanlah hati kami dalam menerima hidayah-Mu,
Lapangkan hati kami untuk menerima segala ketetapan-Mu,
Lunakkan hati kami dalam menerima kebaikan dan karunia dari-Mu,
Jauhkanlah kami dari segala penyakit hati,
Jadikanlah kami hamba yang tak henti memuji dan mengagungkan-Mu,
Hamba yang hanya bergantung dan mengharap kepada-Mu..

Ya Allah,
Sungguh Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa,
Yang Maha lembut lagi Maha Sempurna,
Yang berhak untuk menyombong lagi Maha Agung,
Hanya pada Engkau-lah kami memohon dan memunjatkan pinta,
Perkenankanlah doa-doa kami,
Ampunkanlah kami..
Aamiin ya Robb..

Bakti Terhadap Orang Tua


Semua orang pasti memiliki orang tua. Ibu dan Ayah merupakan sosok yang tak akan pernah tergantikan sepanjang hidup kita. Mereka membesarkan kita dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang yang tiada tara. Budi baik keduanya sangat terhingga sehingga meski kita berusaha keras dengan cara apapun untuk membalasnya tak akan tergantikan.

Seperti kisah soerang anak yang menggendong ibunya yang telah tua renta dan melakukan thowaf keliling Ka'bah, itu pun belum bisa membalas setarik nafas yang sang ibu keluarkan ketika melahirkannya.

Ada dua hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod pada hadits no. 10 dan 11 yang menerangkan bagaimana balas budi pada orang tua sebagaimana berikut ini.

Tidak Bisa Membalas Budi Orang Tua
Dari Abu Hurairah dari “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.” (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 10, shahih) Lihat Al Irwa’ (1737): [Muslim: 20, kitab Al ‘Itqu, hal 25-26]
Faedah dari hadits di atas:
1- Agungnya hak orang tua dalam Islam, sampai sulit untuk dibalas jasa-jasa mereka.
2- Jika orang tua adalah seorang budak (hamba sahaya), maka seorang anak wajib membeli orang tuanya lantas memerdekakannya.
3- Budak dinyatakan merdeka bisa jadi hanya dengan kepemilikan anggota kerabatnya.
4- Anak tidaklah menunaikan hak orang tua yang menjadi budak hingga ia memerdekakannya ketika telah membelinya.

Sambil Menggendong Ibu di Punggung
Dari Abi Burdah, ia melihat melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung,
إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ –  إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ
Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.
ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ طَافَ ابْنُ عُمَرَ فَأَتَى الْمَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ : يَا بْنَ أَبِى مُوْسَى إِنَّ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ  تُكَفِّرَانِ مَا أَمَامَهُمَا
Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada makam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya.” (Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 11, shahih secara sanad)
Faedah dari hadits di atas:
1- Dorongan berbakti pada ibu.
2- Besarnya hak orang tua yang mesti dipenuhi oleh anak.
3- Shalat menghapuskan berbagai dosa kecil.
4- Keutamaan thowaf dan shalat di belakang maqam (bebas jejak kaki) Ibrahim.
5- Sulitnya membalas jasa orang tua walaupun dengan menggendongnya ketika thowaf, seperti itu belum bisa membalas seluruh jasa mereka.

Jika kita telah melihat kedua hadits di atas bahwa jasa orang tua (terutama ibu) teramat sulit itu dibalas, lantas bagaimana kita membalas jasa mereka?
Jadilah anak yang berbakti, taat pada perintah mereka selama dalam kebaikan, jadi pula anak sholih yang rajin menyertai mereka dalam do’a-do’a kita. Jika mereka telah tiada, banyak doakan mereka, jadilah anak sholih yang giat ibadah karena setiap amalan anak bermanfaat bagi orang tua yang sudah tiada, juga ikatlah hubungan baik dengan kerabat dan kolega mereka. Ibnu Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ
“Sesungguhnya kebajikan terbaik adalah perbuatan seorang yang menyambung hubungan dengan kolega ayahnya.” (Disebutkan dalam Adabul Mufrod no. 41, shahih)Lihat As Silsilah Ash Shahihah (3063): [Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 11-13]

Di antara doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut :

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS: Al-Israa' Ayat: 24)

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ
Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS: Ibrahim Ayat: 41)
رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan". (QS: Nuh Ayat: 28)
Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)


Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka putuslah rezeki kita :
Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

Semoga kita dijadikan oleh Allah SWT menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua kita, menjadi anak yang sholeh dan sholehah, selalu mendoakan keduanya, dan dimudahkan untuk meraih surga dengan bakti tersebut. aamiin
Wallahu waliyyut taufiq.
Semoga bermanfaat

Rabu, 18 Februari 2015

Kereta Lovers part 2

Masih tentang kereta, kadang-kadang nyebelin dan kadang menyenangkan. Why?

Because, pas kereta lengang alias kosong itu kita bisa nyamaaan binggo, loh.. maksudnya nyaman banget duduk manis di kursi khasnya (kursi panjang yang ada di kanan-kiri tiap-tiap gerbong) sambil menikmati perjalanan. Ada yang main hp, baca buku, ngobrol bahkan sampe baca kitab (masing-masing agama).

Walaupun ada yang berdiri tapi hanya satu atau dua orang (tidak banyak), itu juga masih bisa dibilang, yaaa nyaman lah..

Daaaan, pas gerbong penuh pake banggeeettt itu, huaaaaa huha.. huha.. huha.. padet, sesek, dan I can't move! Hehehe, apalagi kalau keretanya harus ketahan menunggu sinyal masuk dari stasiun yang akan disinggahi, rasanya waktu berhenti berputar -nggak selebay itu sih hehe *pisss*

Hanya saja kaki ga bisa dibohongi. Pegel abisss (ada yang bilang sampe cantengan, aslinya saya pribadi ga ngerti sih apa artinya cantengan hihihi), bisa dibayangkan lah ya bagaimana rasanya, dengan kondisi gerbong penuh sesak tak bisa bergerak.

Disisi lain, saat momen itu, saya kadang melihat keluar jendela dan melihat sekeliling. Kadang ada beberapa anak-anak yang bermain disekitar rel. Ada juga ibu-ibu atau bapak-bapak yang dengan sabar menununggu kereta tuntas melewat, bukan asal liatin, tapi karna memang mereka juga mau nyebrang hehehe

Kalau pas lagi waktu Magrib kita bisa liat sunset yang diem-diem mulai meninggalkan langit dan terlihat diantara gumpalan awan dan bangunan hehehe, so beautifull!! ^_^

Atau kita juga bisa liat orang-orang yang ada sangat dekat dengan kita (gimana ga deket sangat yaa kan?? Hehe), ada yg asyik chatting, main game, telponan, ngobrol atau bahkan diam seribu bahasa, bahasa suara dan bahasa tubuh, bete mungkin ya nungguin sinyal masuk (iya banggeeett). Dan saya mengamati hihi

Actually, there is many more story yang bisa diceritain. Tapi berhubung artikelnya sudah panjang, kita lanjut next time lagi yakss.. See yaa ;-)

Rabu, 21 Januari 2015

Seri Teknik Bisnis :"Membuat pembeli Kembali lagi"

Pada dasarnya pekerjaan kita sebagai seorang penjual hanya ada 2 yang utama, pertama adalah membuat Orang datang membeli produk kita, dan yang kedua mempertahankan agar pembeli terus membeli produk yang kita jual.

Seorang teman pernah bertanya tentang kondisi bisnisnya yang sudah lama berjalan dan hanya bisa bertahan tanpa berkembang, tidak ada peningkatan dan pertumbuhan, omsetnya begitu begitu saja seakan mentok pada titik tertentu dalam waktu yang lama. Mgkn bisa jadi ketika membaca tulisan ini, permasalahan anda juga sama dengan teman saya ini :-)

Hal diatas terjadi pada banyak bisnis karena selama ini kita terlalu fokus pada bagaimana cara membuat orang membeli produk kita, namun kita lupa pada pekerjaan kedua, bagiamana mempertahankan pembeli lama agar terus menerus membeli. Seakan mengisi air di bak mandi yang bocor, tidak akan pernah bertambah omsetnya karena bak mandinya bocor. Inilah yang membuat bisnis kita tidak bertambah omsetnya, pernahkan kita menghitung berapa longlife customer kita?

Riset yang dilakukan oleh barkley Univ di Us menunjukkan bahwa biaya mendatangkan pembeli baru besarnya 6 kali lebih mahal dari pada mempertahankan pembeli lama,artinya bahwa kebanyakan bisnis terlalu fokus mengeluarkan yang untuk iklan agar pembeli baru datang, padahal itu mahal, sedngkan lupa mempertahankan pembeli lama yang sebenarnya lebih murah.

Dan yang lebih menarik lagi dari riset ini disimpulkan bahwa jika Omset bisnis kita, 70% nya bukan berasal dari Repeat order, pembeli lama yang beli kembali, maka ini menandakan bahwa bisnis kita berkualitas buruk. Dengan bahasa lebih sederhana bisa dikatakan bahwa jika omset kita berasal selalu dari pembeli baru, pembeli lama tidak beli lagi, itu menandakan bahwa customer merasa tidak puas dengan bisnis kita, atau kecewa sehingga tidak ingin kembali. Maka sudah saatnya kita menelusuri dari mana omset kita datang.

Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan bagaimana Raihanshop.com membangun Omset yang 90% berasal dari pembeli lama. Bagaimana membuat pembeli baru untuk datang kembali berbelanja, bagaimana mempertahankan pembeli agar selalu kembali.

Terutama Bagi kita yang mengidentifikasikan diri sebagai penjual online, ada sebuah buku yang bagus untuk dibaca judulnya “Media social Bible” (Kitab Suci Media Sosial). Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin fokus mengembangkan bisnisnya menjadi yang ternama dengan menggunakan media sosial di internet.

Ada point menarik didalamnya tentang bagaimana membangun engagement (keterikatan yang kuat) di media sosial. Pemahaman tentang cara membangun hubungan dan keterikatan antara brand  dengan audiensi di media sosial menjadi kebutuhan yang mesti kita penuhi sebagai syarat membangun bisnis online.

Dalam bab membangun engagement di media sosial antara kita dan audiensi, ada hal pokok yang sebelumnya perlu kita ketahui:
Bahwa di media sosial, Content Is The King. Singkatnya, bahwa audiensi kita di media sosial hanya akan menjadi loyal jika mereka dapat merasakan manfaatnya dari konten yang kita berikan. Orang di media sosial dapat dengan cepat memutuskan untuk menjadi followers/fans jika ia merasakan manfaat dari konten yang kita berikan.

Masuk ke dalam ranah media sosial tidak berarti melulu berjualan ataupun berpromosi. Namun yang lebih penting dari itu adalah membangun brand bisnis dan meningkatkan ketertarikan antara perusahaan kita dengan audiensi.

Dengan memahami kedua hal ini, maka selanjutnya untuk dapat membangun keterikatan ini, ada empat Pilar yang harus kita bangun, yang berguna tidak hanya untuk penjual online, namun untuk semua bisnis:

1. Communicate
Komunikasi di media sosial yang baik terjadi apabila ada komunikasi dua arah, karenanya penentuan topik/tema komunikasi menjadi penting untuk diperhatikan.

Tanda bahwa komunikasi dengan audiensi baik adalah kita mendapatkan feedback dari status atau tulisan yang kita share di media sosial (Facebook), feedback dapat berupa komentar, like atau share. Semakin banyak yang didapat maka komunikasi yang kita bangun semakin efektif.

Maka kita perlu juga, disamping melakukan share foto2 produk kita, sesekali perlu untuk share juga content2 yang menarik, lucu, unik, atau bijak. Jika mampu, maka balaslah setiap koment yang diberikan oleh audiens pada content kita.

Seringkali kita sekedar sharing konten lalu mengabaikan komentar, like atau share yang ada. Jika kita membalas komentar maka kita telah membangun komunikasi yang efektif, dan pada akhirnya brand kita akan mudah dikenal.

Dalam konteks bisnis saya, hubungan komunikasi dibangun dengan membuat grup di Facebook yang isinya antara saya dengan semua reseller. 

Membangun komunikasi dua arah adalah langkah awal untuk membangun keterikatan jangka panjang antara perusahaan kita dengan audiensi kita di media sosial.

Bagi bisnis apapun, buatlah saluran komunikasi antara bisnis kita dengan customer. Agar kita dapat menyamoaikan informasi untuk costomer dan begitu pula sebaliknya, customer dapat memberikan feedback bagi perkembangan bisnis kita. Dengan memberikan ruang komunikasi kepada customer, maka customer akan merasa menjadi bagian dari bisnis yang kita bangun, dan membuat mereka betah karena dihargai dan didengarkan.

2. Collaborate
Membangun kerjasama antara kita dengan audiensi adalah tahapan selanjutnya setelah berhasil membangun komunikasi. Membuat audiens merasa memiliki brand kita, audiensi merasa dekat dan menjadi bagian dari brand kita adalah fokus dari tahapan kedua ini.

Ada contoh kolaborasi yang diceritakan dalam buku “Social Media Bible” ini; sebuah website yang dibuat oleh Starbuck untuk membangun komunitas pelanggan, dimana di dalamnya pelanggan dapat memberikan masukan, ide, saran dan ngobrol semua hal tentang Starbuck.

Banyak brand besar yang membangun komunitas yang berhubungan dengan brand-nya dan berkolaborasi dengan komunitas tersebut dalam rangka mengikat anggota komunitas semakin dalam dengan brand perusahaan.

Membangun kolaborasi adalah bagian daripada membangun keterikatan antara brand kita dengan audiensi yang ada di lingkaran media sosial brand kita.

Honda adalah brand yang memiliki customer loyal, orang yang sudah memakai Honda biasanya sebagian besar akan memilih untuk membeli lagi honda. Perusahaan ini mendukung aktivitas komunitas pemilik kendaraan honda dan  sering melakukan kegiatan bersama dengan customer seperti bakti sosial dan acara acara lain bersama dengan customer.

3. Educate
Mengedukasi audiensi tentang produk atau yang berhubungan dengan produk kita adalah tahapan yang bertujuan agar muncul kesadaran di dalam diri audiens tentang pentingnya produk kita, seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Forex misalnya,banyak mengadakan edukasi tentang investasi kepada audiensi agar sadar tentang pentingnya edukasi. Dan pada akhirnya bertujuan untuk mengikat audiensi.

Bisa juga edukasi dilakukan untuk tujuan lain yang pada intinya memberikan manfaat kepada audiensi. Misal untuk Online Shop yang jualan baju ketika memberikan konten tentang cara memcuci baju agar baju awet, atau membedakan penjual jujur dan tidak, atau konten lain yang mengedukasi dan memberikan manfaat.

Hampir setiap malam saya biasanya menghabiskan waktu untuk membuat tulisan dan di-share ke grup jualan, tema-tema edukasi diantaranya tentang bagaimana menjual, bagaimana beriklan, bagaimana merayu calon pembeli, bagaimana menghadapi komplain, dan tema lain yang selalu di-share ke reseller.

Banyak tanggapan positif atas materi edukasi yang sering saya share, komentar reseller diantaranya, berterima kasih, merasa sangat tertolong, merasa beruntung bergabung di grup, dll.

4. Entertain
Dan terakhir, Sesekali berilah kontent hiburan, lucu, unik, hadiah atau yang lain. 

Kembangkanlah ide dalam mengimplementasikan ke empat pilar membangun engagement (ikatan) dengan audiensi diatas, sesuaikan dengan industri dan karakter audiens kita masing-masing. Dan jangan lupa bahwa di media sosial konten adalah hal yang penting.

Semoga dapat membantu kita dalam membangun bisnis kita masing-masing.
Happy doing business.
Fitra Jaya Saleh

Sumber : www.MusaSukses.com

Sabtu, 17 Januari 2015

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita Oleh: Salim A. Fillah

Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta.

[sumber: salimfillah.com]

Senin, 12 Januari 2015

Nasehat Warren Buffett, Orang terkaya urutan ketiga di Dunia

Berikut ini adalah wawancara yang pernah ia lakukan dengan CNBC. Dalam wawancara tsb ditemukan beberapa aspek menarik dari hidupnya :
 
1).“Anjurkan anak anda untuk berinvestasi”
Ia membeli saham pertamanya pada umur 11 tahun dan seka rang ia menyesal karena tidak memulainya dari masih muda.

2).“Dorong Anak Anda untuk mulai belajar berbisnis”
Ia membeli sebuah kebun yang kecil pada umur 14 tahun dengan uang tabungan yang didapatinya dari hasil mengirim kan surat kabar.

3).“Ia masih hidup di sebuah rumah dengan 3 kamar berukur an kecil di pusat kota Ohama, yang ia beli setelah ia menikah 50 tahun yang lalu”

4).“Jangan membeli apa yang tidak dibutuhkan, dan dorong Anak Anda untuk berbuat yang sama”
Ia berkata bahwa ia mempu- nyai segala yang ia butuhkan dalam rumah itu. Meskipun rumah itu tidak ada pagarnya.

5).“Jadilah apa adanya”
Ia selalu mengemudikan mobilnya seorang diri jika hendak bepergian dan ia tidak mempunyai seorang supir ataupun keamanan pribadi.

6).“Berhematlah”
Ia tidak pernah bepergian dengan pesawat jet pribadi, walaupun ia memiliki perusaha an pembuat pesawat jet terbesar di dunia. Berkshire Hathaway, perusahaan miliknya, memiliki 63 anak perusahaan.

7).“Ia hanya menuliskan satu pucuk surat setiap tahunnya kepada para CEO dalam perusahaannya, menyampaikan target yang harus diraih untuk tahun itu”

8).“Tugaskan pekerjaan kepada orang yang tepat”
Ia tidak pernah mengadakan rapat atau menelpon mereka secara reguler.

9).“Buat Tujuan yang jelas dan yakinkan mereka untuk fokus ke tujuan”
Ia hanya memberikan 2 pera turan kepada para CEOnya. Peraturan nomor satu: Jangan pernah sekalipun menghabiskan uang para pemilik saham. Peraturan nomor dua : Jangan melupakan peraturan nomor satu.

10).“Jangan Pamer, Jadilah diri sendiri & nikmati apa yang kamu lakukan”

Ia tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat kalangan kelas atas. Waktu luangnya di rumah ia habiskan dengan menonton televisi sambil makan pop corn.

Bill Gates, orang terkaya di dunia bertemu dengannya untuk pertama kalinya 5 tahun yang lalu. Bill Gates pikir ia tidak memiliki keperluan yang sangat penting dengan Warren Buffet, maka ia mengatur pertemuan itu hanya selama 30 menit.

Tetapi ketika ia bertemu dengannya, pertemuan itu berlangsung selama 10 jam dan Bill Gates tertarik untuk belajar banyak dari Warren Buffet. Warren Buffet tidak pernah membawa handphone dan di meja kerjanya tidak ada komputer.

Berikut ini adalah nasihatnya untuk orang-orang yang masih muda:

1. "Jauhkan dirimu dari pinjaman bank, hutang, cicilan atau kartu kredit dan berinves tasilah dengan apa yang kau miliki.

2. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

3. Hiduplah sederhana sebagai mana dirimu sendiri.

4. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengar kan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

5. Jangan memakai merk, pakailah yang benar, nyaman untukmu.

6. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

7. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

8. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajar kanlah pada orang lain.
"Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Hebat dalam segala Hal, Tapi Orang yang Bisa Menemukan Hal Sederhana dalam Hidupnya dan selalu Mengucap Syukur."

Orang yg paling bahagia di dunia ialah orang yg giat menabung berapapun itu..
sebisa mungkin tidak memiliki hutang, cicilan, kredit ini itu 
karena kita tidak tau kapan kita mati, kapan kita  di PHK dan juga Usaha kita bangkrut..
 
Hiduplah secara sederhana..
Apa adanya...
tidur kita akan lebih nyenyak..
senyum kita akan tulus terpancar..

SO . . . . . . .
FIND HAPPINESS INSIDE YOU..
Temukan kebahagiaan dlm dirimu.

Repost :)

Kamis, 08 Januari 2015

Repost : Rumus Kesuksesan by Supardi Lee

Sederhana, tapi tak mudah.
Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana. Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi niscaya. Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat. Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya. Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses? Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya. Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula.

Nah, bagaimana pola sukses itu?

Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:
1. Keyakinan Diri yang Positif

Segalanya berawal dari sini. Ini citra diri anda. Self image. Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri? Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal? Anda orang baik atau orang buruk? Anda ganteng / cantik atau buruk rupa? Anda layak kaya atau layak miskin? Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas? Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya? Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat? Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak?

Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri. Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses. Anda orang baik. Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas. Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain. Tidak rendah diri. Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan.

Kenapa ini penting? Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu. Iya kan?

2. Melakukan Keharusan.

Langkah kedua adalah melakukan keharusan. Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit. Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan. Tapi sangat baik bila dilakukan.

Keharusan ini bersifat seperti imunisasi. Bayi harus diimunisasi. Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan. Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya. Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan.

Setiap orang harus bangun pagi-pagi. Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi. Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri. Setiap orang harus bisa berpikir. Setiap orang harus bisa memecahkan masalah. Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar.

Bila anda karyawan, anda harus disiplin. Taat aturan. Betapa pun aturan itu membuat anda kesal. Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu. Bila anda atlet, anda harus keras berlatih. Meski itu melelahkan.

Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda? Tidak!!! 100% tidak bisa sukses.

3. Membentuk Kebiasaan Positif.

Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Setiap orang harus bangun pagi. Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan. Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan. Keharusan anda belum menjadi kebiasaan. Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan. Sebuah kebiasaan positif harus benar-benar jelas.

Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu. Anda melakukan keharusan anda. Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan? Maka ini bukan kebiasaan. Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan. Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu. Satu kata yang benar-benar sangat menentukan.

Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda. Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah. Salah satu kurang, fondasi tak kuat. Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Sukses pun begitu. Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat.

4. Membentuk Kebiasaan Produktif

Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif. Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung. Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif.

Membaca buku itu positif. Apakah produktif? Tidak. Menulis buku lah yang produktif. Hasilnya jelas sebuah buku. Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan. Jadi ada hasilnya. Ada produknya. Anda benar. Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal. Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan. Produktif? Belum. Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu. Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli.

Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif? Jelas tidak. Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif.

5. Berkompetisi.

Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi. Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan. Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang. Segera bangkit ketika dikalahkan. Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

Meraih sukses sulit. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit. Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti anda. Iya kan?

Bagaimana dengan kegagalan? Ternyata, gagal pun membentuk sebuah pola. Pola yang berkebalikan dari pola sukses. Berarti orang gagal itu:

1. Keyakinan pada dirinya sendiri negatif.
2. Tidak melakukan keharusannya, malah asyik melakukan kesenangan.

3. Terbentuk kebiasaannya yang negatif.

4. Terbentuk kebiasaannya yang merusak.

5. Menyerah kalah sebelum berkompetisi.

Nah, ini jadi bahan introspeksi kita bersama. Berada di pola mana hidup kita? Pola sukses atau pola gagal? Berada di tahap mana pada pola tersebut?

by : Supardi Lee

Kamis, 01 Januari 2015

Sama Kah Seperti Dahulu?

Rapuh. Serapuh itu kah?
Saat ingat semua kenangan dengan kalian, saat semuanya kita lakukan bersama-sama.
Sekarang, kalian tampak asing. Mungkin begitu juga yang kalian rasa tentang aku.
Jauh, jauuuhh disana, aku merindukan segala kebersamaan dan kehangatan yang ada diantara kita.
Sering rasanya aku ingin mengakhiri dan membebaskan semua, apa yang ingin kalian lakukan silahkan lakukan, tak perlu ingat lagi tentang kita.
Tapi tak semudah itu.
Aku masih mengharapkan semua kembali seperti dulu, walau sesibuk apapun kita sekarang.
Adakah kesempatan, untuk sama-sama saling menguatkan kembali? Untuk menempuh semua yang telah kita rajut bersama? Untuk mencapai keinginan, tujuan dan cita-cita yang kita buat bersama?
Aku bertanya-tanya, dan terus bertanya.
Adakah dari kalian ingin menjawabnya?

Kebimbangan Hati

Ada sesuatu yang tak bisa ku gambarkan dengan kata-kata, hanya derai air mata yang kemudian mengikuti..

Aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku selalu mempertanyakan pada diriku sendiri, ada apa?

Entah apa yang ku tangisi? Apa yang ku risaukan? Apa yang membuatku begini? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain yang kerap muncul, dan pada akhirnya kebimbangan yang ku dapat.

Seringnya pertanyaan dan kebimbangan yang ada membuatku semakin mengharapkan akan adanya sebuah jawaban.

Menyisakan lorong yang kian mendalam didalam diri. Kosong dan gelap, mungkin itu yang ada dalam lorong tersebut dan aku ada didalamnya.

Allah, tak ingin ku tersesat dan terjerumus pada lubang yang lebih dalam. Tak ingin aku Engkau tinggalkan. Aku tahu aku tak akan pernah benar-benar sendiri, karena Engkau selalu ada dengan hamba-Mu. Tapi aku takut, takut kemudian Engkau tinggalkanku karena aku meninggalkan-Mu.

Dari itu ku mohon, Allah, jangan biarkan aku menjauh dari-Mu. Jangan biarkan aku tersesat. Jangan biarkan aku lengah terhadap-Mu. Jangan biarkan hatiku mengeras, sehingga tak ada satu hidayahpun yang bisa masuk dari ribuan hidayah yang Kau berikan.

Allah.. Allah.. Allah..