Senin, 20 April 2015

Karena Aku Tak Sempurna

Aku seorang muslim yang mencoba taat.
Aku menggunakan hijab ini untuk Allah, karena Allah memerintahkanku dan kaumku, kaum hawa untuk menutupi auratku.
Aku mencoba untuk mengenakan hijab sesuai dengan syariatnya dan ternyata aku menemukan kedamaian padanya (mengenakan hijab yang menutupi dada, red*).

Lantas apakah jikalau aku telah berhijab lalu aku bisa dikatakan sempurna?
Apakah telah bisa aku dianggap takberkhilaf?

Tidak!
Jelas aku katakan tidak!
Bukan aku ingin merendah hati atau menutupi, tapi hanya dengan berhijab lalu aku dianggap seorang manusia yang sempurna dan haram melakukan dosa.

Bukan hijabnya. Bukan dosanya.
Disini aku menyoroti pada diriku, dan mungkin pada saudari-saudariku lainnya, yang tak lain dan tak bukan hanyalah seorang manusia biasa yang jauh dari kata sempurna. Karna sejatinya hanya Allah saja yang memiliki kesempurnaan.

Melakukan dosa memang sepatutnya dihindari, tapi apadaya, sesering apa kita menghindar, sejauh apa kita menjauh, satu ataupun dua pasti kita terjatuh juga. Mungkin bukan pada dosa besar (naudzubillah), tapi dosa-dosa kecil yang seringnya tak kita sadari pasti pernah kita lakukan.

Bukan ingin berbangga diri atas seringnya khilaf dan menumpuknya dosa-dosa, namum sebaliknya, diri ini ingin mengingatkan kembali kepada saudara-saudariku seiman dan tentunya untuk diriku pribadi, bahwa kita tidak sempurna dan kitalah tempatnya khilaf dan dosa. Maka dari itu aku ingin memohon maaf atas segala dosa dan khilaf yang aku lakukan, karena ketidaksempurnaanku.

Segala salah dan khilaf datangnya dari diri ini, bukan dari hijabku apalagi dari agamaku. Aku terima jika aku ditegur karna salahku yang baik tidak disengaja apalagi sengaja, tidak lansung apalagi langsung, aku terima dan aku memohon maaf. Hal itu adalah ajang bagiku untuk muhasabah diri dan mencoba untuk meningkatkan diri.

Namun, ku mohon jangan bawa hijabku! Jangan bawa agamaku! Mengapa aku yang salah tapi hijabku yang dijadikan suatu alasan untuk memarahi ataupun menasehati. Hijab hanyalah simbol, pelindung dan suatu bentuk lain dari ketaatan. Sedangkan akhlak, adanya di diriku.

Aku hanya berusaha untuk menjadi pribadi muslim yang baik dan lebih baik setiap harinya. Dan bantulah aku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan jalan dan ajaran yang lebih baik pula.

Tapi jangan lupa, seperti yang pernah diucapkan oleh Imam Syafi'i, "Nasihatilah aku ketika sendiri, jamgan nasihati dikala ramai. Karena nasihat dikala ramai itu bagai hinaan yang menyayat hati."

Terima kasih atas pengajaran kalian yang coba mengingatkanku dan membawaku kepada jalan yang sebenarnya ingin aku tempuh.

Semoga Allah melindungi, merahmati serta memberika  pengampunan-Nya seluas-luasnya. Serta semoga kita dapat terus belajar dan bertumbuh kearah yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Yours sincerely.
20-04-2015

Jumat, 17 April 2015

Allah, tetaplah ada dalam hatiku

Aku merasa tersesat dikeramaian kota
Terbengkalai dalam istana yang megah nan indah
Terjerumus kedalam sumur yang dalam dan gelap
Hampa ditengah kemegahan dan sangat jauh dari rumah

Namunku selalu mendapat setitik cahaya ditengah kegelapan
Ada lambaian tangan yang menyapa
Tangan itu terjulur dan memberi ketenangan
Seolah dengan-Nya aku dapat pulang dengan tenang

Aku tak ingin kehilangan cahaya itu, yang menjadi tumpuanku berjalan
Tak ingin ku abaikan, lambaian demi lambaian, yang memberiku harapan
Tak mau aku lepaskan tangan itu, yang menuntunku kembali pulang.

Ya Allah..
Berkali-kali aku jatuh, berkali-kali pula Engkau mengangkatku
Seseringnya aku tersesat, sesering itu pula Kau meluruskanku
Sebanyak apapun aku berbelok, sebanyak itu pun Engkau menunjukkanku jalan yang benar

Sungguh besar kasih dan sayang-Mu terhadap hamba
Maha Penyayang dan Maha Pengasih, itulah Engkau adanya
Tak terkelakkan segala hal yang hanya Engkau saja yang memilikinya
Maka pastilah Engkau disebut Allah Maha Esa!
Maka benarlah Engkau disebut Allah tiada bandingan-Nya.

Ya Allah terima kasih..
Atas segala yang Kau beri untukku
Ya Allah terima kasih..
Untuk semua hal yang Kau tentukkan untukku
Ya Allah tetaplah..
Tetaplah memenuhi hatiku,
Tetaplah menuntun hatiku menuju pada-Mu

Karna aku tanpa-Mu adalah bukan apa-apa
Akan tetapi diri-Mu adalah segalanya bagiku

St. Gondangdia
Jum'at, 17 April 2015
8.08 PM

Rabu, 01 April 2015

Aku, Kalian

Aku kehilangan harapan
Tiang tempatku berpegang tlah hilang
Aku merasakan kehampaan yang mendalam
Ramaipun tak lagi mengisi kekosongan dihati

Aku ringkih dengan hati yang menangis
Aku rapuh bagai pohon yang kegilangan penopangnya
Karena tak ada lagi kalian yang mengisi

Dahulu persahabatan ini sangat berarti
Setiap pertemuan slalu ku nanti
Namun kini, kian hari kian sirna
Bukan karna rasa itu tak lagi ada
Tapi karna ku merasa kalian semakin jauh
Jauh dan makin jauh dariku
Semakin jauh tuk bersama

Memang kesibukan menyita waktu kita
Mungkin waktu terasa semakin sempit sekedar tuk bercengkrama
Tapi aku masih menanti, hari-hari yang dulu kembali
Namun penantian bergani dengan kekosongan
Penantian berganti kepiluan

Tangisku pecah, tangisku buncah laksana ombak yang tak kian habis
Aku ingin pergi, aku ingin berhenti
Mengharapkan kehangatan, kebersamaan dan keceriaan
Mengharapkan hati ini kembali merasa
Bahwa sahabatku selalu ada

Aku tak ingin menghujat
Aku tak ingin mencaci dan memaki
Aku tak ingin menyalahkan
Karena semua ini bukan salah kalian
Ini hanyalah ke egoan diri yang terlalu menggunung tinggi dan mengikuti nurani
Ini hanyalah kesalahan diri yang 'senang' terbawa emosi

Dari hati seorang sahabat untuk sahabat-sahabatnya.

01/04/2015