Rabu, 21 Januari 2015

Seri Teknik Bisnis :"Membuat pembeli Kembali lagi"

Pada dasarnya pekerjaan kita sebagai seorang penjual hanya ada 2 yang utama, pertama adalah membuat Orang datang membeli produk kita, dan yang kedua mempertahankan agar pembeli terus membeli produk yang kita jual.

Seorang teman pernah bertanya tentang kondisi bisnisnya yang sudah lama berjalan dan hanya bisa bertahan tanpa berkembang, tidak ada peningkatan dan pertumbuhan, omsetnya begitu begitu saja seakan mentok pada titik tertentu dalam waktu yang lama. Mgkn bisa jadi ketika membaca tulisan ini, permasalahan anda juga sama dengan teman saya ini :-)

Hal diatas terjadi pada banyak bisnis karena selama ini kita terlalu fokus pada bagaimana cara membuat orang membeli produk kita, namun kita lupa pada pekerjaan kedua, bagiamana mempertahankan pembeli lama agar terus menerus membeli. Seakan mengisi air di bak mandi yang bocor, tidak akan pernah bertambah omsetnya karena bak mandinya bocor. Inilah yang membuat bisnis kita tidak bertambah omsetnya, pernahkan kita menghitung berapa longlife customer kita?

Riset yang dilakukan oleh barkley Univ di Us menunjukkan bahwa biaya mendatangkan pembeli baru besarnya 6 kali lebih mahal dari pada mempertahankan pembeli lama,artinya bahwa kebanyakan bisnis terlalu fokus mengeluarkan yang untuk iklan agar pembeli baru datang, padahal itu mahal, sedngkan lupa mempertahankan pembeli lama yang sebenarnya lebih murah.

Dan yang lebih menarik lagi dari riset ini disimpulkan bahwa jika Omset bisnis kita, 70% nya bukan berasal dari Repeat order, pembeli lama yang beli kembali, maka ini menandakan bahwa bisnis kita berkualitas buruk. Dengan bahasa lebih sederhana bisa dikatakan bahwa jika omset kita berasal selalu dari pembeli baru, pembeli lama tidak beli lagi, itu menandakan bahwa customer merasa tidak puas dengan bisnis kita, atau kecewa sehingga tidak ingin kembali. Maka sudah saatnya kita menelusuri dari mana omset kita datang.

Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan bagaimana Raihanshop.com membangun Omset yang 90% berasal dari pembeli lama. Bagaimana membuat pembeli baru untuk datang kembali berbelanja, bagaimana mempertahankan pembeli agar selalu kembali.

Terutama Bagi kita yang mengidentifikasikan diri sebagai penjual online, ada sebuah buku yang bagus untuk dibaca judulnya “Media social Bible” (Kitab Suci Media Sosial). Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin fokus mengembangkan bisnisnya menjadi yang ternama dengan menggunakan media sosial di internet.

Ada point menarik didalamnya tentang bagaimana membangun engagement (keterikatan yang kuat) di media sosial. Pemahaman tentang cara membangun hubungan dan keterikatan antara brand  dengan audiensi di media sosial menjadi kebutuhan yang mesti kita penuhi sebagai syarat membangun bisnis online.

Dalam bab membangun engagement di media sosial antara kita dan audiensi, ada hal pokok yang sebelumnya perlu kita ketahui:
Bahwa di media sosial, Content Is The King. Singkatnya, bahwa audiensi kita di media sosial hanya akan menjadi loyal jika mereka dapat merasakan manfaatnya dari konten yang kita berikan. Orang di media sosial dapat dengan cepat memutuskan untuk menjadi followers/fans jika ia merasakan manfaat dari konten yang kita berikan.

Masuk ke dalam ranah media sosial tidak berarti melulu berjualan ataupun berpromosi. Namun yang lebih penting dari itu adalah membangun brand bisnis dan meningkatkan ketertarikan antara perusahaan kita dengan audiensi.

Dengan memahami kedua hal ini, maka selanjutnya untuk dapat membangun keterikatan ini, ada empat Pilar yang harus kita bangun, yang berguna tidak hanya untuk penjual online, namun untuk semua bisnis:

1. Communicate
Komunikasi di media sosial yang baik terjadi apabila ada komunikasi dua arah, karenanya penentuan topik/tema komunikasi menjadi penting untuk diperhatikan.

Tanda bahwa komunikasi dengan audiensi baik adalah kita mendapatkan feedback dari status atau tulisan yang kita share di media sosial (Facebook), feedback dapat berupa komentar, like atau share. Semakin banyak yang didapat maka komunikasi yang kita bangun semakin efektif.

Maka kita perlu juga, disamping melakukan share foto2 produk kita, sesekali perlu untuk share juga content2 yang menarik, lucu, unik, atau bijak. Jika mampu, maka balaslah setiap koment yang diberikan oleh audiens pada content kita.

Seringkali kita sekedar sharing konten lalu mengabaikan komentar, like atau share yang ada. Jika kita membalas komentar maka kita telah membangun komunikasi yang efektif, dan pada akhirnya brand kita akan mudah dikenal.

Dalam konteks bisnis saya, hubungan komunikasi dibangun dengan membuat grup di Facebook yang isinya antara saya dengan semua reseller. 

Membangun komunikasi dua arah adalah langkah awal untuk membangun keterikatan jangka panjang antara perusahaan kita dengan audiensi kita di media sosial.

Bagi bisnis apapun, buatlah saluran komunikasi antara bisnis kita dengan customer. Agar kita dapat menyamoaikan informasi untuk costomer dan begitu pula sebaliknya, customer dapat memberikan feedback bagi perkembangan bisnis kita. Dengan memberikan ruang komunikasi kepada customer, maka customer akan merasa menjadi bagian dari bisnis yang kita bangun, dan membuat mereka betah karena dihargai dan didengarkan.

2. Collaborate
Membangun kerjasama antara kita dengan audiensi adalah tahapan selanjutnya setelah berhasil membangun komunikasi. Membuat audiens merasa memiliki brand kita, audiensi merasa dekat dan menjadi bagian dari brand kita adalah fokus dari tahapan kedua ini.

Ada contoh kolaborasi yang diceritakan dalam buku “Social Media Bible” ini; sebuah website yang dibuat oleh Starbuck untuk membangun komunitas pelanggan, dimana di dalamnya pelanggan dapat memberikan masukan, ide, saran dan ngobrol semua hal tentang Starbuck.

Banyak brand besar yang membangun komunitas yang berhubungan dengan brand-nya dan berkolaborasi dengan komunitas tersebut dalam rangka mengikat anggota komunitas semakin dalam dengan brand perusahaan.

Membangun kolaborasi adalah bagian daripada membangun keterikatan antara brand kita dengan audiensi yang ada di lingkaran media sosial brand kita.

Honda adalah brand yang memiliki customer loyal, orang yang sudah memakai Honda biasanya sebagian besar akan memilih untuk membeli lagi honda. Perusahaan ini mendukung aktivitas komunitas pemilik kendaraan honda dan  sering melakukan kegiatan bersama dengan customer seperti bakti sosial dan acara acara lain bersama dengan customer.

3. Educate
Mengedukasi audiensi tentang produk atau yang berhubungan dengan produk kita adalah tahapan yang bertujuan agar muncul kesadaran di dalam diri audiens tentang pentingnya produk kita, seperti yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Forex misalnya,banyak mengadakan edukasi tentang investasi kepada audiensi agar sadar tentang pentingnya edukasi. Dan pada akhirnya bertujuan untuk mengikat audiensi.

Bisa juga edukasi dilakukan untuk tujuan lain yang pada intinya memberikan manfaat kepada audiensi. Misal untuk Online Shop yang jualan baju ketika memberikan konten tentang cara memcuci baju agar baju awet, atau membedakan penjual jujur dan tidak, atau konten lain yang mengedukasi dan memberikan manfaat.

Hampir setiap malam saya biasanya menghabiskan waktu untuk membuat tulisan dan di-share ke grup jualan, tema-tema edukasi diantaranya tentang bagaimana menjual, bagaimana beriklan, bagaimana merayu calon pembeli, bagaimana menghadapi komplain, dan tema lain yang selalu di-share ke reseller.

Banyak tanggapan positif atas materi edukasi yang sering saya share, komentar reseller diantaranya, berterima kasih, merasa sangat tertolong, merasa beruntung bergabung di grup, dll.

4. Entertain
Dan terakhir, Sesekali berilah kontent hiburan, lucu, unik, hadiah atau yang lain. 

Kembangkanlah ide dalam mengimplementasikan ke empat pilar membangun engagement (ikatan) dengan audiensi diatas, sesuaikan dengan industri dan karakter audiens kita masing-masing. Dan jangan lupa bahwa di media sosial konten adalah hal yang penting.

Semoga dapat membantu kita dalam membangun bisnis kita masing-masing.
Happy doing business.
Fitra Jaya Saleh

Sumber : www.MusaSukses.com

Sabtu, 17 Januari 2015

Qaulan Sadiidaa untuk Anak Kita Oleh: Salim A. Fillah

Remaja. Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula. Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan teturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar. (QSnAn Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tataulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya, tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa. Lalu sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta.

[sumber: salimfillah.com]

Senin, 12 Januari 2015

Nasehat Warren Buffett, Orang terkaya urutan ketiga di Dunia

Berikut ini adalah wawancara yang pernah ia lakukan dengan CNBC. Dalam wawancara tsb ditemukan beberapa aspek menarik dari hidupnya :
 
1).“Anjurkan anak anda untuk berinvestasi”
Ia membeli saham pertamanya pada umur 11 tahun dan seka rang ia menyesal karena tidak memulainya dari masih muda.

2).“Dorong Anak Anda untuk mulai belajar berbisnis”
Ia membeli sebuah kebun yang kecil pada umur 14 tahun dengan uang tabungan yang didapatinya dari hasil mengirim kan surat kabar.

3).“Ia masih hidup di sebuah rumah dengan 3 kamar berukur an kecil di pusat kota Ohama, yang ia beli setelah ia menikah 50 tahun yang lalu”

4).“Jangan membeli apa yang tidak dibutuhkan, dan dorong Anak Anda untuk berbuat yang sama”
Ia berkata bahwa ia mempu- nyai segala yang ia butuhkan dalam rumah itu. Meskipun rumah itu tidak ada pagarnya.

5).“Jadilah apa adanya”
Ia selalu mengemudikan mobilnya seorang diri jika hendak bepergian dan ia tidak mempunyai seorang supir ataupun keamanan pribadi.

6).“Berhematlah”
Ia tidak pernah bepergian dengan pesawat jet pribadi, walaupun ia memiliki perusaha an pembuat pesawat jet terbesar di dunia. Berkshire Hathaway, perusahaan miliknya, memiliki 63 anak perusahaan.

7).“Ia hanya menuliskan satu pucuk surat setiap tahunnya kepada para CEO dalam perusahaannya, menyampaikan target yang harus diraih untuk tahun itu”

8).“Tugaskan pekerjaan kepada orang yang tepat”
Ia tidak pernah mengadakan rapat atau menelpon mereka secara reguler.

9).“Buat Tujuan yang jelas dan yakinkan mereka untuk fokus ke tujuan”
Ia hanya memberikan 2 pera turan kepada para CEOnya. Peraturan nomor satu: Jangan pernah sekalipun menghabiskan uang para pemilik saham. Peraturan nomor dua : Jangan melupakan peraturan nomor satu.

10).“Jangan Pamer, Jadilah diri sendiri & nikmati apa yang kamu lakukan”

Ia tidak banyak bersosialisasi dengan masyarakat kalangan kelas atas. Waktu luangnya di rumah ia habiskan dengan menonton televisi sambil makan pop corn.

Bill Gates, orang terkaya di dunia bertemu dengannya untuk pertama kalinya 5 tahun yang lalu. Bill Gates pikir ia tidak memiliki keperluan yang sangat penting dengan Warren Buffet, maka ia mengatur pertemuan itu hanya selama 30 menit.

Tetapi ketika ia bertemu dengannya, pertemuan itu berlangsung selama 10 jam dan Bill Gates tertarik untuk belajar banyak dari Warren Buffet. Warren Buffet tidak pernah membawa handphone dan di meja kerjanya tidak ada komputer.

Berikut ini adalah nasihatnya untuk orang-orang yang masih muda:

1. "Jauhkan dirimu dari pinjaman bank, hutang, cicilan atau kartu kredit dan berinves tasilah dengan apa yang kau miliki.

2. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

3. Hiduplah sederhana sebagai mana dirimu sendiri.

4. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengar kan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

5. Jangan memakai merk, pakailah yang benar, nyaman untukmu.

6. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

7. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.
You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.

8. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajar kanlah pada orang lain.
"Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Hebat dalam segala Hal, Tapi Orang yang Bisa Menemukan Hal Sederhana dalam Hidupnya dan selalu Mengucap Syukur."

Orang yg paling bahagia di dunia ialah orang yg giat menabung berapapun itu..
sebisa mungkin tidak memiliki hutang, cicilan, kredit ini itu 
karena kita tidak tau kapan kita mati, kapan kita  di PHK dan juga Usaha kita bangkrut..
 
Hiduplah secara sederhana..
Apa adanya...
tidur kita akan lebih nyenyak..
senyum kita akan tulus terpancar..

SO . . . . . . .
FIND HAPPINESS INSIDE YOU..
Temukan kebahagiaan dlm dirimu.

Repost :)

Kamis, 08 Januari 2015

Repost : Rumus Kesuksesan by Supardi Lee

Sederhana, tapi tak mudah.
Sukses tercapai oleh sebuah pola sederhana. Siapapun yang bisa menjalankan pola ini, maka sukses jadi niscaya. Siapa yang cepat menjalankan polanya, suksesnya pun diraih cepat. Kondisi awal, memang berpengaruh, tapi tidak lebih menentukan dari proses menjalankan polanya. Orang miskin dan orang kaya lebih cepat mana meraih sukses? Bila hanya menghitung kondisi awal, maka orang kaya jawabannya. Tapi penentunya bukan kondisi awal, tapi proses menjalankan polanya. Orang miskin yang lebih cepat menjalankan pola sukses dari orang kaya, akan meraih sukses lebih cepat pula.

Nah, bagaimana pola sukses itu?

Ada 5 tahap yang membentuk pola sukses, yaitu:
1. Keyakinan Diri yang Positif

Segalanya berawal dari sini. Ini citra diri anda. Self image. Ini berkaitan dengan bagaimana anda meyakini diri anda sendiri? Apakah anda manusia yang dilahirkan untuk sukses atau untuk gagal? Anda orang baik atau orang buruk? Anda ganteng / cantik atau buruk rupa? Anda layak kaya atau layak miskin? Anda merasa sebagai orang kelas bawah, kelas menengah atau kelas atas? Ketika berhadapan dengan orang lain, anda merasa diri anda di atas, sejajar atau di atasnya? Juga berkaitan dengan anda merasa diri anda pengikut yang baik atau pemimpin yang hebat? Merasa punya semua bakat dan potensi yang dibutuhkan atau tidak?

Nah, kesuksesan diawali dari keyakinan positif atas diri sendiri. Anda yakin anda dilahirkan untuk sukses. Anda orang baik. Anda ganteng / cantik. Anda layak kaya dan menjadi orang kelas atas. Anda percaya diri berhadapan dengan orang lain. Tidak rendah diri. Tidak juga sombong. Anda layak menjadi pemimpin hebat. Anda pun yakin sekali anda dianugerahi bakat dan potensi yang cukup untuk meraih sukses yang anda inginkan.

Kenapa ini penting? Karena hanya orang yang yakin bahwa dirinya layak sukses yang akan meraih sukses itu. Iya kan?

2. Melakukan Keharusan.

Langkah kedua adalah melakukan keharusan. Dari keharusan yang mendasar dan sederhana sampai melakukan keharusan yang sulit dan rumit. Keharusan – yang paling sederhana sekalipun – biasanya tidak menyenangkan. Tapi sangat baik bila dilakukan.

Keharusan ini bersifat seperti imunisasi. Bayi harus diimunisasi. Ini sebuah keharusan. Sakit rasanya, tapi menguatkan. Sedih melihatnya, tapi harus melakukannya. Resiko lebih besar harus ditanggung bila keharusan ini tak dilakukan.

Setiap orang harus bangun pagi-pagi. Setiap orang harus berolahraga. Setiap orang harus makan makanan sehat dan bergizi. Setiap orang harus bisa mengurus dirinya sendiri. Setiap orang harus bisa berpikir. Setiap orang harus bisa memecahkan masalah. Setiap orang harus terus belajar. Itulah beberapa keharusan yang mendasar.

Bila anda karyawan, anda harus disiplin. Taat aturan. Betapa pun aturan itu membuat anda kesal. Bila anda pebisnis, anda harus punya nilai lebih. Betapa pun sulitnya memiliki nilai lebih itu. Bila anda atlet, anda harus keras berlatih. Meski itu melelahkan.

Nah, bisakah anda meraih sukses bila anda tak bisa melakukan keharusan anda? Tidak!!! 100% tidak bisa sukses.

3. Membentuk Kebiasaan Positif.

Langkah ketiga adalah hasil langkah kedua yang benar-benar jelas, terus dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Setiap orang harus bangun pagi. Maka pagi bisa berarti pukul empat, lima, enam, tujuh, delapan atau bahkan sembilan. Bila anda bangun tidur pukul empat di hari Senin, pukul tujuh di hari Selasa, pukul lima di hari Rabu, pukul delapan di hari Kamis, maka anda baru melakukan keharusan. Keharusan anda belum menjadi kebiasaan. Ketika anda secara konsisten – setiap hari – bangun pukul empat, itulah kebiasaan. Sebuah kebiasaan positif harus benar-benar jelas.

Ketika melihat orang kecelakaan, anda sigap membantu. Anda melakukan keharusan anda. Tapi hal ini tak terjadi setiap hari, kan? Maka ini bukan kebiasaan. Mematikan lampu yang tak digunakan adalah keharusan. Selalu mematikan lampu yang tak digunakan adalah kebiasaan. Nah, keharusan dan kebiasaan dibedakan oleh satu kata saja : selalu. Satu kata yang benar-benar sangat menentukan.

Keyakinan positif, Melakukan keharusan dan Membentuk kebiasaan positif adalah fondasi sukses anda. Ia seperti batu, pasir dan semen dalam fondasi rumah. Salah satu kurang, fondasi tak kuat. Rumah tak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Sukses pun begitu. Hanya bisa diraih bila fondasinya kuat.

4. Membentuk Kebiasaan Produktif

Kebiasaan produktif berbeda dengan kebiasaan positif. Kebiasaan positif berarti tidak negatif, tidak merugikan, dan menyenangkan, tapi tidak menghasilkan kemajuan secara langsung. Kesuksesan diraih secara langsung oleh kebiasaan produktif.

Membaca buku itu positif. Apakah produktif? Tidak. Menulis buku lah yang produktif. Hasilnya jelas sebuah buku. Anda mungkin berpendapat, membaca buku kan menghasilkan pengetahuan. Jadi ada hasilnya. Ada produknya. Anda benar. Tapi produknya masih di tahap mental, bukan fisikal. Maka bila baru di tahap mental, belum bisa dikatakan produktif. Secara mental, anda bisa sangat paham tentang penjualan. Produktif? Belum. Jadi produktif bila anda telah menjual sesuatu. Dan sesuatu yang anda jual itu ada yang beli.

Apakah ini membuat produktif lebih penting dari positif? Jelas tidak. Anda akan sangat sulit untuk bisa produktif, bila anda tidak positif.

5. Berkompetisi.

Kebiasaan produktif akan menghantarkan anda pada sukses. Tetapi untuk bisa bertahan dalam kesuksesan, anda harus siap dan mampu berkompetisi. Tanpa ini, sukses hanya sekejap. Orang sukses adalah orang yang senang berkompetisi. Bersemangat ketika ada saingan. Terpacu ketika ada lawan. Tetap rendah hati ketika menang. Segera bangkit ketika dikalahkan. Maka keyakinan, pelaksanaan keharusan, kebiasaan positif dan kebiasaan produktif benar-benar diuji. Inilah ujian sebenarnya dari sebuah kesuksesan.

Meraih sukses sulit. Mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit. Maka sadari lah bahwa semua kesulitan itu memang sebuah kelayakan untuk orang hebat seperti anda. Iya kan?

Bagaimana dengan kegagalan? Ternyata, gagal pun membentuk sebuah pola. Pola yang berkebalikan dari pola sukses. Berarti orang gagal itu:

1. Keyakinan pada dirinya sendiri negatif.
2. Tidak melakukan keharusannya, malah asyik melakukan kesenangan.

3. Terbentuk kebiasaannya yang negatif.

4. Terbentuk kebiasaannya yang merusak.

5. Menyerah kalah sebelum berkompetisi.

Nah, ini jadi bahan introspeksi kita bersama. Berada di pola mana hidup kita? Pola sukses atau pola gagal? Berada di tahap mana pada pola tersebut?

by : Supardi Lee

Kamis, 01 Januari 2015

Sama Kah Seperti Dahulu?

Rapuh. Serapuh itu kah?
Saat ingat semua kenangan dengan kalian, saat semuanya kita lakukan bersama-sama.
Sekarang, kalian tampak asing. Mungkin begitu juga yang kalian rasa tentang aku.
Jauh, jauuuhh disana, aku merindukan segala kebersamaan dan kehangatan yang ada diantara kita.
Sering rasanya aku ingin mengakhiri dan membebaskan semua, apa yang ingin kalian lakukan silahkan lakukan, tak perlu ingat lagi tentang kita.
Tapi tak semudah itu.
Aku masih mengharapkan semua kembali seperti dulu, walau sesibuk apapun kita sekarang.
Adakah kesempatan, untuk sama-sama saling menguatkan kembali? Untuk menempuh semua yang telah kita rajut bersama? Untuk mencapai keinginan, tujuan dan cita-cita yang kita buat bersama?
Aku bertanya-tanya, dan terus bertanya.
Adakah dari kalian ingin menjawabnya?

Kebimbangan Hati

Ada sesuatu yang tak bisa ku gambarkan dengan kata-kata, hanya derai air mata yang kemudian mengikuti..

Aku bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi, dan aku selalu mempertanyakan pada diriku sendiri, ada apa?

Entah apa yang ku tangisi? Apa yang ku risaukan? Apa yang membuatku begini? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lain yang kerap muncul, dan pada akhirnya kebimbangan yang ku dapat.

Seringnya pertanyaan dan kebimbangan yang ada membuatku semakin mengharapkan akan adanya sebuah jawaban.

Menyisakan lorong yang kian mendalam didalam diri. Kosong dan gelap, mungkin itu yang ada dalam lorong tersebut dan aku ada didalamnya.

Allah, tak ingin ku tersesat dan terjerumus pada lubang yang lebih dalam. Tak ingin aku Engkau tinggalkan. Aku tahu aku tak akan pernah benar-benar sendiri, karena Engkau selalu ada dengan hamba-Mu. Tapi aku takut, takut kemudian Engkau tinggalkanku karena aku meninggalkan-Mu.

Dari itu ku mohon, Allah, jangan biarkan aku menjauh dari-Mu. Jangan biarkan aku tersesat. Jangan biarkan aku lengah terhadap-Mu. Jangan biarkan hatiku mengeras, sehingga tak ada satu hidayahpun yang bisa masuk dari ribuan hidayah yang Kau berikan.

Allah.. Allah.. Allah..