Senin, 01 Desember 2014

Kereta Lovers

Kereta lovers, ya kereta loverss..
Sebutan saya untuk para pengguna jasa layanan kereta api, jabodetabek khususnya, dan sekarang saya jadi salah satu penggunanya :D

Berawal dari kenaikan BBM yang lumayan (memang) bikin sesak dompet, apalagi kenaikannya ditanggal tua, huuuaaaa seseknya hehehe..

Berangkat dari kenaikan itu saya berpikir keras untuk meminimalisir ongkos PP (pulang pergi) ke kantor. Sempet terbersit buat beli sepeda saja untuk kendaraan pribadi saya PP kerja. Tapi setelah dipikir-pikir dan menimbang bahwa sepulang kerja biasanya saya sudah lelah letih lesu dan lunglai (ga segitunya juga sih, hihi pisss) jadi saya urungkan niatan itu. Pun, kalau jadi, paling saya pake di weekend buat olahraga.

Tiba-tiba terpikir untuk mencoba jalur kereta, hmmm Karet - Gondangdia pikirku, berarti harus transit di St. Manggarai. Diputuskanlah, Jum'at 21 November 2014, saya simulasi (nah loh?) pulang dari kantor dengan menggunakan jasa angkutan umum kereta api.

Perjalanan lancar dan sudah dipastikan (dari dulu malah) kereta lebih ekonomis daripada angkutan umum lainnya; bus dan kopaja, so, tahu doong keputusannya apa?? Yups, kereta api jadi pilihan. Setelah itu naik angkot untuk sampai kantor dan jalan kaki untuk sampai ke rumah (oke lah yah sehat hahaha).

Hari sabtu dan minggu kerja libur, yang ada hanya kuliah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki (tak naik kendaraan pun jalan kaki jadi *bigsmile* ).

Nah, hari seninnya saya berangkat kerja naik kereta -masih tahap simulasi (loh? loh?), ingin coba bandingkan antara berangkat kerja menggunakan bus dengan menggunakan kereta.

Hasilnya, alhamdulillah lancar, perjalanan menuju St. Gondangdia jalan kaki kurang lebih 10 menit lumayan itung-itung olah raga. Dari St. Gondangdia sampai dengan St. Manggarai kereta plooong alias kosong, nyaman nyaman. Dan, dari St. Manggarai (transit di St. Manggarai) sampai dengan St. Karet ramai lancar (dikira jalan raya kali yak hehe) didalam kereta :D

Kesimpulannya, naik kereta maupun naik bus untuk masalah waktu relatif sama, dan nyampe kantorpun hampir-hampir sama jamnya. Tapi, jelas dari segi pengeluaran ongkos kereta jauh lebih terjangkau.

Jadi bulatlah tekad "mulai sekarang PP kantor-rumah naik kereta!".

Oke, hari beranjak sore dan pekerjaan pun mulai selesai akhirnya jam kantor habis dan sudah waktunya saya pulang. Sholat maghrib saya kerjakan di kantor, mengingat waktunya yang sedikit dan lebih efektif mengerjakannya di kantor. Setelah itu saya pulang.

Setelah sampai St. Karet saya menunggu kereta datang cukup lama sambil membaca buku dan para penumpang pun terus berdatangan seiring waktu, mungkin keretanya terlambat pikirku. Saat kereta sampai saya dan penumpang lainnya langsung masuk, dan seketika gerbong-gerbong yang lengang jadi penuh. Saya pun mendapat tempat berdiri tepat didepan pintu masuk. Padat tapi tidak sesak.

Oke lah, saya pikir, pasti di St. Sudirman nanti hanya beberapa orang saja yang akan masuk, mengingat kereta sudah penuh. Dengan santainya saya melanjutkan bacaan saya. Terdengar suara pemberitahuan dari kereta bahwa kereta sebentar lagi akan sampai di St. Sudirman jadi saya bersiap-siap, tetap ditempat saya terakhir berdiri dan kemudian menutup buku.

Terlihat dari dalam, diperon 2 St. Sudirman banyak penumpang yang tengah menunggu dan penumpang yang paling depan, sejajar dengan saya, seorang perempuan dengan perawakan besar. Kemudian pintu pun terbuka, penumpang-penumpang itu pun masuk, dan seketika saya telah berpindah dari tempat terakhir saya berdiri terdorong oleh mbak yang perawakannya 2-3 kali lipat dari saya, (maaf) gemuk.

Mungkin kalian tidak percaya bahwa dibalik masker yang saya kenakan mulut saya ternganga, antara kaget dan bengong, speechless haha.. Saya kira dengan penuhnya peron tersebut maka penumpang yang masukpun akan sedikit, tapi nyatanya semua mencoba masuk dan walhasil keretapun sangat penuh dengan penumpang, tidak hanya itu, kondisi peron wanita pada saat itu berjejalan (saking penuhnya). Sudah seperti pepes ikan didalam, misalkan saya berdiri dengan satu kakipun tidak akan terjatuh.

Jadi itulah kisah klimaks dari perjalan kereta saya, bukan karena berjejalannya tapi karena saya benar-benar kaget hahaha.

Sekian dan semoga bermanfaat :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar