Jumat, 26 Desember 2014

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

- Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pd hr Kiamat drpd Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat & bukan pula yg lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang2x sibuk dgn kain kafan & persiapan pengebumian di rumahnya, tiba2x seseorang yg sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada & kain kafan.

Setelah dikuburkan & orang2x mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar & Nakir yg berusaha memisahkan orang tampan itu dr mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dlm keadaan bagaimanapun aku tdk akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dr orang ini sehingga ia dimasukkan ke dlm syurga.”

Lalu ia berpaling kpd sahabatnya & berkata,”Aku adalah Al quran yg terkadang kamu baca dgn suara keras & terkadang dgn suara perlahan.

Jgn khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar & Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tmpt tidur & permadani sutera yg penuh dgn kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yg kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yg tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.

Banyak riwayat yg menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yg pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin

Sumber : share dari group whatsapp.

Senin, 22 Desember 2014

Ibu, Kuatlah! Demi Surga Anakmu…

Para pengikut yang setia mendampingi Abdullah bin Zubair makin sedikit, dan ia mengkhawatirkan keselamatan mereka. Tetapi mereka ini tidak mau meninggalkannya sendirian sebagaimana teman-temannya walau nyawa harus menjadi taruhannya. Abdullah bin Zubair menemui ibunya, Asma’ binti Abu Bakar, yang telah berusia hampir 100 tahun dan telah buta matanya. Dia datang untuk mendiskusikan masalah yang dihadapinya.

Abdullah bin Zubair menceritakan kepada ibunya situasi yang sedang dihadapinya. Termasuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada pasukan yang dipimpinnya. Jumlahnya memang sangat sedikit. Mendengar penuturan putranya tersebut, Asma’ jadi teringat dengan "ramalan" Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam saat melahirkannya. Inilah masa yang digambarkan oleh Rasulullah untuk putranya, dan ternyata ia ditakdirkan untuk menyaksikan kejadian tragis tersebut.

Sebagai seorang ibu yang berhati tegar dan sangat teguh memegang kebenaran, Asma’ berkata, "Demi Allah, wahai anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika engkau berada di jalan kebenaran, dan  engkau menyeru kepada kebenaran tersebut, teruskanlah langkahmu, sahabat-sahabatmu telah banyak yang gugur demi kebenaran tersebut. Janganlah engkau mau dipermainkan oleh budak-budak Bani Umayyah. Tetapi jika sebaliknya, engkau hanya menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruknya orang yang mencelakakan dirimu sendiri dan juga orang-orang yang berjihad bersamamu."

Tentu saja Abdullah bin Zubair bukan tipe yang kedua, yang hanya mementingkan kepentingan duniawiah. Ketika ia menyatakan kekhawatirannya bahwa Hajjaj akan menyalib dan menyayat-nyayat tubuhnya setelah kematiannya, dengan tegas ibu yang perkasa ini berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya kambing itu sama sekali tidak merasakan sakitnya dikuliti setelah ia disembelih. Teruskanlah langkahmu, dan mintalah petolongan kepada Allah!"

Abdullah bin Zubair menjadi lega. Karena yang dikhawatirkan sesungguhnya adalah perasaan ibunya. Sesaat kemudian Asma’ berkata lagi kepada putranya, "Aku memohon kepada Allah, semoga ketabahan hatiku ini menjadi kebaikan bagimu, baik engkau yang mendahului aku menghadap Allah, atau aku yang mendahuluimu."

Asma’ berdoa, "Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, dan puasanya sepanjang siang, serta baktinya kepada dua orang tuanya, Engkau menerimanya disertai dengan cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu  tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah, berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubair ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur."

Bersama ucapan dan doa yang dipanjatkan ibunya ini, langkah dan hati Abdullah bin Zubair terasa lepas. Tidak ada  lagi ganjalan apapun pada dirinya untuk memperoleh kesyahidan yang didambakannya.  Mereka berpelukan, Asma’ mengetahui bahwa anaknya masih memakai baju besi, Asma’ memerintahkan untuk melepaskannya, sambil berkata, "Apa-apaan ini Abdullah? Orang yang memakai ini, hanyalah mereka yang tidak menginginkan apa yang sebenarnya engkau inginkan!"

Abdullah bin Zubair pun melepaskan baju besi yang dipakaianya. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan ibunya, ia bersama sisa pasukannya yang tidak  seberapa terjun menghadapi pasukan Hajjaj. Seperti yang telah diperkirakan, mereka menemui syahidnya di Tanah Haram Makkah, dan Hajjaj menyalib serta menyayat tubuhnya. Asma’ dengan tegar berdiri di tempat penyaliban putranya, sambil terus mendoakan ampunan bagi dirinya. Beliau sendiri yang memandikan dan mengakafani putranya yang syahid.

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Subhanallah…

Kisah Asma’ binti Abu Bakar ini seharusnya sanggup membakar semangat semua Ibu di seluruh dunia yang mengharapkan keluarganya  bertemu Allah dalam kemuliaan.

Ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari kisah di atas:

Seorang Ibu harus tahu visi keluarga Muslim sesungguhnya: Jannah.Seorang Ibu harus yakin dan mampu membuktikan keyakinannya bahwa anak yang dibesarkan dan dididiknya adalah anak sholih.Seorang Ibu harus kuat memotivasi anaknya untuk berjalan di jalan yang benar walaupun anaknya akan tersakiti secara fisik. Seorang Ibu harus “tega” mengajarkan anaknya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, walaupun untuk itu anaknya harus berbeda dengan anak-anak sebayanya.Seorang Ibu mendampingi dengan doa di tiap desahan nafasnya bagi kemuliaan anak-anaknya.

Bila ibu tidak tega mengajarkan anak hafalan, dengan alasan kasihan masa kecilnya dihabiskan untuk serius bukan untuk bermain; yakinkah anak kita akan menjadi anak yang menyematkan Quran dalam dadanya di setiap waktu hidupnya?

Jika tidak tega mengajarkan anak sholat lima waktu dengan alasan belum wajib baginya dan khawatir membangunkannya terlalu pagi; Maka yakinkah anak kita akan menjalankan dan menjaga sholatnya hingga maut menjemputnya?

Bila tidak tega mengajarkan anak berpuasa dengan alasan masih kecil, khawatir kurang gizi dan alasan lainnya; Yakinkah anak kita nantinya akan menjaga puasanya semulia puasa Abdullah bin Zubair?
 

Terakhir,
Mari kita sama-sama belajar menempatkan kasih sayang dan ketidak-tegaan kita pada tempatnya. Kasih sayang dan tidak tega kita terhadap anak-anak kita, kita visikan untuk hidup setelah matinya. bukan pada dunia yang sementara ini.

Percayalah, anak-anak kita lahir dalam keadaan fitrah, mudah diarahkan untuk beribadah pada Rabb-nya. Yang justru mereka kuatirkan adalah bila mereka akan membuat Ibu mereka bersedih hati. Maka Ibu, kuatlah demi surga anakmu…

Selamatkan anak-anak kita dari api neraka dan semoga Allah ridho Jannah sebagai tempat kita semua berkumpul nantinya

Sumber :
www.parentingnabawiyah.com

##Selamat Hari Ibu##

Senin, 01 Desember 2014

Kereta Lovers

Kereta lovers, ya kereta loverss..
Sebutan saya untuk para pengguna jasa layanan kereta api, jabodetabek khususnya, dan sekarang saya jadi salah satu penggunanya :D

Berawal dari kenaikan BBM yang lumayan (memang) bikin sesak dompet, apalagi kenaikannya ditanggal tua, huuuaaaa seseknya hehehe..

Berangkat dari kenaikan itu saya berpikir keras untuk meminimalisir ongkos PP (pulang pergi) ke kantor. Sempet terbersit buat beli sepeda saja untuk kendaraan pribadi saya PP kerja. Tapi setelah dipikir-pikir dan menimbang bahwa sepulang kerja biasanya saya sudah lelah letih lesu dan lunglai (ga segitunya juga sih, hihi pisss) jadi saya urungkan niatan itu. Pun, kalau jadi, paling saya pake di weekend buat olahraga.

Tiba-tiba terpikir untuk mencoba jalur kereta, hmmm Karet - Gondangdia pikirku, berarti harus transit di St. Manggarai. Diputuskanlah, Jum'at 21 November 2014, saya simulasi (nah loh?) pulang dari kantor dengan menggunakan jasa angkutan umum kereta api.

Perjalanan lancar dan sudah dipastikan (dari dulu malah) kereta lebih ekonomis daripada angkutan umum lainnya; bus dan kopaja, so, tahu doong keputusannya apa?? Yups, kereta api jadi pilihan. Setelah itu naik angkot untuk sampai kantor dan jalan kaki untuk sampai ke rumah (oke lah yah sehat hahaha).

Hari sabtu dan minggu kerja libur, yang ada hanya kuliah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki (tak naik kendaraan pun jalan kaki jadi *bigsmile* ).

Nah, hari seninnya saya berangkat kerja naik kereta -masih tahap simulasi (loh? loh?), ingin coba bandingkan antara berangkat kerja menggunakan bus dengan menggunakan kereta.

Hasilnya, alhamdulillah lancar, perjalanan menuju St. Gondangdia jalan kaki kurang lebih 10 menit lumayan itung-itung olah raga. Dari St. Gondangdia sampai dengan St. Manggarai kereta plooong alias kosong, nyaman nyaman. Dan, dari St. Manggarai (transit di St. Manggarai) sampai dengan St. Karet ramai lancar (dikira jalan raya kali yak hehe) didalam kereta :D

Kesimpulannya, naik kereta maupun naik bus untuk masalah waktu relatif sama, dan nyampe kantorpun hampir-hampir sama jamnya. Tapi, jelas dari segi pengeluaran ongkos kereta jauh lebih terjangkau.

Jadi bulatlah tekad "mulai sekarang PP kantor-rumah naik kereta!".

Oke, hari beranjak sore dan pekerjaan pun mulai selesai akhirnya jam kantor habis dan sudah waktunya saya pulang. Sholat maghrib saya kerjakan di kantor, mengingat waktunya yang sedikit dan lebih efektif mengerjakannya di kantor. Setelah itu saya pulang.

Setelah sampai St. Karet saya menunggu kereta datang cukup lama sambil membaca buku dan para penumpang pun terus berdatangan seiring waktu, mungkin keretanya terlambat pikirku. Saat kereta sampai saya dan penumpang lainnya langsung masuk, dan seketika gerbong-gerbong yang lengang jadi penuh. Saya pun mendapat tempat berdiri tepat didepan pintu masuk. Padat tapi tidak sesak.

Oke lah, saya pikir, pasti di St. Sudirman nanti hanya beberapa orang saja yang akan masuk, mengingat kereta sudah penuh. Dengan santainya saya melanjutkan bacaan saya. Terdengar suara pemberitahuan dari kereta bahwa kereta sebentar lagi akan sampai di St. Sudirman jadi saya bersiap-siap, tetap ditempat saya terakhir berdiri dan kemudian menutup buku.

Terlihat dari dalam, diperon 2 St. Sudirman banyak penumpang yang tengah menunggu dan penumpang yang paling depan, sejajar dengan saya, seorang perempuan dengan perawakan besar. Kemudian pintu pun terbuka, penumpang-penumpang itu pun masuk, dan seketika saya telah berpindah dari tempat terakhir saya berdiri terdorong oleh mbak yang perawakannya 2-3 kali lipat dari saya, (maaf) gemuk.

Mungkin kalian tidak percaya bahwa dibalik masker yang saya kenakan mulut saya ternganga, antara kaget dan bengong, speechless haha.. Saya kira dengan penuhnya peron tersebut maka penumpang yang masukpun akan sedikit, tapi nyatanya semua mencoba masuk dan walhasil keretapun sangat penuh dengan penumpang, tidak hanya itu, kondisi peron wanita pada saat itu berjejalan (saking penuhnya). Sudah seperti pepes ikan didalam, misalkan saya berdiri dengan satu kakipun tidak akan terjatuh.

Jadi itulah kisah klimaks dari perjalan kereta saya, bukan karena berjejalannya tapi karena saya benar-benar kaget hahaha.

Sekian dan semoga bermanfaat :D