Jumat, 26 Desember 2014

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

- Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pd hr Kiamat drpd Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat & bukan pula yg lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang2x sibuk dgn kain kafan & persiapan pengebumian di rumahnya, tiba2x seseorang yg sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada & kain kafan.

Setelah dikuburkan & orang2x mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar & Nakir yg berusaha memisahkan orang tampan itu dr mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dlm keadaan bagaimanapun aku tdk akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dr orang ini sehingga ia dimasukkan ke dlm syurga.”

Lalu ia berpaling kpd sahabatnya & berkata,”Aku adalah Al quran yg terkadang kamu baca dgn suara keras & terkadang dgn suara perlahan.

Jgn khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar & Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tmpt tidur & permadani sutera yg penuh dgn kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yg kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yg tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.

Banyak riwayat yg menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yg pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin

Sumber : share dari group whatsapp.

Senin, 22 Desember 2014

Ibu, Kuatlah! Demi Surga Anakmu…

Para pengikut yang setia mendampingi Abdullah bin Zubair makin sedikit, dan ia mengkhawatirkan keselamatan mereka. Tetapi mereka ini tidak mau meninggalkannya sendirian sebagaimana teman-temannya walau nyawa harus menjadi taruhannya. Abdullah bin Zubair menemui ibunya, Asma’ binti Abu Bakar, yang telah berusia hampir 100 tahun dan telah buta matanya. Dia datang untuk mendiskusikan masalah yang dihadapinya.

Abdullah bin Zubair menceritakan kepada ibunya situasi yang sedang dihadapinya. Termasuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada pasukan yang dipimpinnya. Jumlahnya memang sangat sedikit. Mendengar penuturan putranya tersebut, Asma’ jadi teringat dengan "ramalan" Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam saat melahirkannya. Inilah masa yang digambarkan oleh Rasulullah untuk putranya, dan ternyata ia ditakdirkan untuk menyaksikan kejadian tragis tersebut.

Sebagai seorang ibu yang berhati tegar dan sangat teguh memegang kebenaran, Asma’ berkata, "Demi Allah, wahai anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika engkau berada di jalan kebenaran, dan  engkau menyeru kepada kebenaran tersebut, teruskanlah langkahmu, sahabat-sahabatmu telah banyak yang gugur demi kebenaran tersebut. Janganlah engkau mau dipermainkan oleh budak-budak Bani Umayyah. Tetapi jika sebaliknya, engkau hanya menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruknya orang yang mencelakakan dirimu sendiri dan juga orang-orang yang berjihad bersamamu."

Tentu saja Abdullah bin Zubair bukan tipe yang kedua, yang hanya mementingkan kepentingan duniawiah. Ketika ia menyatakan kekhawatirannya bahwa Hajjaj akan menyalib dan menyayat-nyayat tubuhnya setelah kematiannya, dengan tegas ibu yang perkasa ini berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya kambing itu sama sekali tidak merasakan sakitnya dikuliti setelah ia disembelih. Teruskanlah langkahmu, dan mintalah petolongan kepada Allah!"

Abdullah bin Zubair menjadi lega. Karena yang dikhawatirkan sesungguhnya adalah perasaan ibunya. Sesaat kemudian Asma’ berkata lagi kepada putranya, "Aku memohon kepada Allah, semoga ketabahan hatiku ini menjadi kebaikan bagimu, baik engkau yang mendahului aku menghadap Allah, atau aku yang mendahuluimu."

Asma’ berdoa, "Ya Allah, semoga ibadahnya sepanjang malam, dan puasanya sepanjang siang, serta baktinya kepada dua orang tuanya, Engkau menerimanya disertai dengan cucuran Rahmat-Mu. Ya Allah, aku serahkan segala sesuatu  tentang dirinya kepada kekuasaan-Mu, dan aku rela menerima keputusan-Mu. Ya Allah, berilah aku pahala atas segala perbuatan Abdullah bin Zubair ini, pahalanya orang-orang yang sabar dan bersyukur."

Bersama ucapan dan doa yang dipanjatkan ibunya ini, langkah dan hati Abdullah bin Zubair terasa lepas. Tidak ada  lagi ganjalan apapun pada dirinya untuk memperoleh kesyahidan yang didambakannya.  Mereka berpelukan, Asma’ mengetahui bahwa anaknya masih memakai baju besi, Asma’ memerintahkan untuk melepaskannya, sambil berkata, "Apa-apaan ini Abdullah? Orang yang memakai ini, hanyalah mereka yang tidak menginginkan apa yang sebenarnya engkau inginkan!"

Abdullah bin Zubair pun melepaskan baju besi yang dipakaianya. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan ibunya, ia bersama sisa pasukannya yang tidak  seberapa terjun menghadapi pasukan Hajjaj. Seperti yang telah diperkirakan, mereka menemui syahidnya di Tanah Haram Makkah, dan Hajjaj menyalib serta menyayat tubuhnya. Asma’ dengan tegar berdiri di tempat penyaliban putranya, sambil terus mendoakan ampunan bagi dirinya. Beliau sendiri yang memandikan dan mengakafani putranya yang syahid.

 ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Subhanallah…

Kisah Asma’ binti Abu Bakar ini seharusnya sanggup membakar semangat semua Ibu di seluruh dunia yang mengharapkan keluarganya  bertemu Allah dalam kemuliaan.

Ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari kisah di atas:

Seorang Ibu harus tahu visi keluarga Muslim sesungguhnya: Jannah.Seorang Ibu harus yakin dan mampu membuktikan keyakinannya bahwa anak yang dibesarkan dan dididiknya adalah anak sholih.Seorang Ibu harus kuat memotivasi anaknya untuk berjalan di jalan yang benar walaupun anaknya akan tersakiti secara fisik. Seorang Ibu harus “tega” mengajarkan anaknya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, walaupun untuk itu anaknya harus berbeda dengan anak-anak sebayanya.Seorang Ibu mendampingi dengan doa di tiap desahan nafasnya bagi kemuliaan anak-anaknya.

Bila ibu tidak tega mengajarkan anak hafalan, dengan alasan kasihan masa kecilnya dihabiskan untuk serius bukan untuk bermain; yakinkah anak kita akan menjadi anak yang menyematkan Quran dalam dadanya di setiap waktu hidupnya?

Jika tidak tega mengajarkan anak sholat lima waktu dengan alasan belum wajib baginya dan khawatir membangunkannya terlalu pagi; Maka yakinkah anak kita akan menjalankan dan menjaga sholatnya hingga maut menjemputnya?

Bila tidak tega mengajarkan anak berpuasa dengan alasan masih kecil, khawatir kurang gizi dan alasan lainnya; Yakinkah anak kita nantinya akan menjaga puasanya semulia puasa Abdullah bin Zubair?
 

Terakhir,
Mari kita sama-sama belajar menempatkan kasih sayang dan ketidak-tegaan kita pada tempatnya. Kasih sayang dan tidak tega kita terhadap anak-anak kita, kita visikan untuk hidup setelah matinya. bukan pada dunia yang sementara ini.

Percayalah, anak-anak kita lahir dalam keadaan fitrah, mudah diarahkan untuk beribadah pada Rabb-nya. Yang justru mereka kuatirkan adalah bila mereka akan membuat Ibu mereka bersedih hati. Maka Ibu, kuatlah demi surga anakmu…

Selamatkan anak-anak kita dari api neraka dan semoga Allah ridho Jannah sebagai tempat kita semua berkumpul nantinya

Sumber :
www.parentingnabawiyah.com

##Selamat Hari Ibu##

Senin, 01 Desember 2014

Kereta Lovers

Kereta lovers, ya kereta loverss..
Sebutan saya untuk para pengguna jasa layanan kereta api, jabodetabek khususnya, dan sekarang saya jadi salah satu penggunanya :D

Berawal dari kenaikan BBM yang lumayan (memang) bikin sesak dompet, apalagi kenaikannya ditanggal tua, huuuaaaa seseknya hehehe..

Berangkat dari kenaikan itu saya berpikir keras untuk meminimalisir ongkos PP (pulang pergi) ke kantor. Sempet terbersit buat beli sepeda saja untuk kendaraan pribadi saya PP kerja. Tapi setelah dipikir-pikir dan menimbang bahwa sepulang kerja biasanya saya sudah lelah letih lesu dan lunglai (ga segitunya juga sih, hihi pisss) jadi saya urungkan niatan itu. Pun, kalau jadi, paling saya pake di weekend buat olahraga.

Tiba-tiba terpikir untuk mencoba jalur kereta, hmmm Karet - Gondangdia pikirku, berarti harus transit di St. Manggarai. Diputuskanlah, Jum'at 21 November 2014, saya simulasi (nah loh?) pulang dari kantor dengan menggunakan jasa angkutan umum kereta api.

Perjalanan lancar dan sudah dipastikan (dari dulu malah) kereta lebih ekonomis daripada angkutan umum lainnya; bus dan kopaja, so, tahu doong keputusannya apa?? Yups, kereta api jadi pilihan. Setelah itu naik angkot untuk sampai kantor dan jalan kaki untuk sampai ke rumah (oke lah yah sehat hahaha).

Hari sabtu dan minggu kerja libur, yang ada hanya kuliah yang bisa dijangkau dengan jalan kaki (tak naik kendaraan pun jalan kaki jadi *bigsmile* ).

Nah, hari seninnya saya berangkat kerja naik kereta -masih tahap simulasi (loh? loh?), ingin coba bandingkan antara berangkat kerja menggunakan bus dengan menggunakan kereta.

Hasilnya, alhamdulillah lancar, perjalanan menuju St. Gondangdia jalan kaki kurang lebih 10 menit lumayan itung-itung olah raga. Dari St. Gondangdia sampai dengan St. Manggarai kereta plooong alias kosong, nyaman nyaman. Dan, dari St. Manggarai (transit di St. Manggarai) sampai dengan St. Karet ramai lancar (dikira jalan raya kali yak hehe) didalam kereta :D

Kesimpulannya, naik kereta maupun naik bus untuk masalah waktu relatif sama, dan nyampe kantorpun hampir-hampir sama jamnya. Tapi, jelas dari segi pengeluaran ongkos kereta jauh lebih terjangkau.

Jadi bulatlah tekad "mulai sekarang PP kantor-rumah naik kereta!".

Oke, hari beranjak sore dan pekerjaan pun mulai selesai akhirnya jam kantor habis dan sudah waktunya saya pulang. Sholat maghrib saya kerjakan di kantor, mengingat waktunya yang sedikit dan lebih efektif mengerjakannya di kantor. Setelah itu saya pulang.

Setelah sampai St. Karet saya menunggu kereta datang cukup lama sambil membaca buku dan para penumpang pun terus berdatangan seiring waktu, mungkin keretanya terlambat pikirku. Saat kereta sampai saya dan penumpang lainnya langsung masuk, dan seketika gerbong-gerbong yang lengang jadi penuh. Saya pun mendapat tempat berdiri tepat didepan pintu masuk. Padat tapi tidak sesak.

Oke lah, saya pikir, pasti di St. Sudirman nanti hanya beberapa orang saja yang akan masuk, mengingat kereta sudah penuh. Dengan santainya saya melanjutkan bacaan saya. Terdengar suara pemberitahuan dari kereta bahwa kereta sebentar lagi akan sampai di St. Sudirman jadi saya bersiap-siap, tetap ditempat saya terakhir berdiri dan kemudian menutup buku.

Terlihat dari dalam, diperon 2 St. Sudirman banyak penumpang yang tengah menunggu dan penumpang yang paling depan, sejajar dengan saya, seorang perempuan dengan perawakan besar. Kemudian pintu pun terbuka, penumpang-penumpang itu pun masuk, dan seketika saya telah berpindah dari tempat terakhir saya berdiri terdorong oleh mbak yang perawakannya 2-3 kali lipat dari saya, (maaf) gemuk.

Mungkin kalian tidak percaya bahwa dibalik masker yang saya kenakan mulut saya ternganga, antara kaget dan bengong, speechless haha.. Saya kira dengan penuhnya peron tersebut maka penumpang yang masukpun akan sedikit, tapi nyatanya semua mencoba masuk dan walhasil keretapun sangat penuh dengan penumpang, tidak hanya itu, kondisi peron wanita pada saat itu berjejalan (saking penuhnya). Sudah seperti pepes ikan didalam, misalkan saya berdiri dengan satu kakipun tidak akan terjatuh.

Jadi itulah kisah klimaks dari perjalan kereta saya, bukan karena berjejalannya tapi karena saya benar-benar kaget hahaha.

Sekian dan semoga bermanfaat :D

Sabtu, 08 November 2014

Ibu Memang Bukan Aktifis

Renungan berharga bagi kita insyaALLAH...

Ibu memang bukan aktivis

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak?

Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak. Tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia…

Anakku, kita memang berada di satu atap nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini di manakah rumahmu nak? ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah, dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.

Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu.

Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.

Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak. Tapi bukankah aku ini ibumu, yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku.

Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu.

Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak?

Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat nak, ada rapat di sana sini. Ada jadwal mengkaji, ada juga jadwal untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya. Di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada di sana.

Ternyata memang tak ada nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal nak, andai engkau tahu, sejak kau ada di rahim ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu, selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku…

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, di mana profesionalitasmu untuk ibu? Di mana profesionalitasmu untuk keluarga? Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat.

Ah, waktumu terlalu mahal nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya.

Semoga dapat menjadi introspeksi diri bagi kita...

Senin, 03 November 2014

KITA

Sisi lain dalam kehidupanku,
Sisi lain dari sifatku,
Sisi lain dari hari-hariku..

Akan ada waktunya,                              
Dimana kamu pun akan menjadi bagian dalam hariku,
Menjadi pelengkap dari sisi lain sifatku,
Dan sisi lain dari kehidupanku..

Waktu dimana masa akan terus berlalu,
Dan kita telah bersama..
Mengarungi cinta dan asa bersama,
Dalam bahtera yang akan kita sebut keluarga.

Aku dan kamu yang menjadi kita,
Lautan samudra kita lewati bersama,
Bermacam riak ombak yang menghempas akan kita lalui bersama,
Hingga kitapun akan bersama-sama sampai pada tujuan.

Selasa, 28 Oktober 2014

Edisi Hijab by KikiTA

Ketika kamu berhijab, hati kamu juga terjaga kok. Alasan "menjaga hati dulu sebelum memakai hijab" itu terbantahkan yaa. So, hijrahnya jangan ditunda-tunda ya saudariku ;)  

Berhijab itu perintah langsung dari Allah, Tuhan kita yang sangat sayang sama kita. Dengan berhijab kita memuliakan diri sendiri loh. Secara ga lansung kita menjauhkan maksiat dan niat jahat terhadap diri kita, cantik.. ^^
 
Saat kita sudah berhijab, tunjukkan keseriusan kita. Hijab itu bukan utk main-main. Jadi usahakan utk ga mejeng foto-foto kita yg ga pake hijab meski itu foto lama ;)({})

Berhijab itu menenangkah hati dan fikiran dari hal-hal yang ambigu dan menakutkan.

Tenang karna aurat kita terjaga, insya Allah menjauhkan fikiran-fikiran kotor dari manusia yang suka berfikir kotor. Toh, pakaian kita syar'i jadi ga mengundang nafsu setan yang sesat itu. Godaan dan candaan yang kita dapet juga baik, mendoakan malah. Contohnya nih, abang-abang yang suka nongkrong dijalan. Mereka tuh genit sama perempuan yang auratnya keliatan. Nah kalo sama kita mereka baik banget, secara gasih do'a gitu. "Assalamu'alaikum neng", atau "Assalamu'alaikum bu haji", ada lagi nih kalimatnya pas nanya ke kita, "mau pulang bu haji?".

Baik kan doain kita biar kita selamat dengan mereka ngucap salam ke kita? Jadi kita jawab aja salamnya.. kan kalo ada yang ngucap salam kita wajib jawab salam.. saling mendoakan dalam kebaikan kan bagus, ya tooh? ^^

Baik juga mereka doain kita biar bisa berangkat haji. Lah, mereka kan manggilnya "bu haji", jadi mereka doain kita biar jadi haji/hajah dong? Iyalaaahh, hihi.. di aminkan saja, lisan atau didalam hati.. siapa tau Allah juga denger trus kita bisa beneran berangkat haji, syukur-syukur bisa bawa orang tua kita nanti.. aamiin (sekali dayung, 2-3 danau terlampaui) :D

Menurut pengalamanku, berhijrah untuk berhijab itu menguntungkan sekali.. NGGAK MAU LEPAS&JAUH DARI HIJAB SAMA SEKALI (0.0) Hijab I'm fallin in love kata OSD <3<3

Jumat, 10 Oktober 2014

I Said : Hijab I'm in Love ♡♥

Tiba-tiba keingetan pas pertama kali hijrah untuk berhijab, meski tanggal tepatnya aku ngga bisa pastiin tapi bulannya sudah jelas pasti, bulan Mei 2010.

Bulan itu adalah masa-masa transisi antara hijrahnya seorang Kiki untuk berhijab dan kenaikan kelas dari kelas 10 menuju kelas 11 disekolah menengah tingkat kejuruan. Plus baru berpulangnya mendiang nenek dari bapak (semoga Allah memberikan beliau kelapangan di alam kubur dan kelak di akhirat, aamiin).

Awal-awal hijrah ituu.. panas iya, kali temen-temen pada nanya dikasih jawaban ngeles punya (asli, males banget ditanya-tanya waktu itu hihi), seneng iya, siap ga siap jadi siap (apadeh?), dan lain sebagainya sih..

Awal hijrah ituu.. ngga tau, tiba-tiba pakai hijab aja dan ngga lepas-lepas abis itu, Alhamdulillah istiqomah sampai sekarang (ngga sempet lepas hijab trus pakai lagi).

Niat, alhamdulillah sudah ada sejak SMP. Tapi awalnya bukan niat, cuman sekedar seneng aja gitu ngeliat yang berhijab, entah itu orang ataupun sekedar animasi, tapi ngeliatnya.. berasa istimewanya tuh disini (nunjuk ke hati *gayaalaanakgaholgetoohh hihi).

Ada satu gambar yang didapet dari internet waktu nyari-nyari gambar tugas pas SMP praktek internet sekelas kr warnet (plus didampingin ibu gurunya juga :p), cuman nyari tugas apanya lupa hehe.. yang di inget cuman satu gambar itu yg seneenngg deh ngeliatnya, pas di download nama filenya Aisyah.jpg (masih inget sampe sekarang hihi). Gambar kartun akhwat pake baju+kerudung putih panjang-ujung belakang kerudungnya menguntai kebawah dan tertiup angin, pake bawahan dengan warna keabu-abuan (anak SMA pikirku diawal liat) lagi jalan-naikin tangga sambil bawa tas. Ngeliat itu gambar kartun akhwat yang dinamain Aisyah sama pengunggahnya tuh rasanya adem dimata sejuk dihati, keliatan anggun (bukan Hastin yah!!), cantik, baik, sopan, manis, cerdas dan berwibawa (cucok deh pokoknya :D). Dari situ diriku kepincut sama hijaber (haha bahasanya, sadaaappp :p).


 *ini dia gambar yang aku maksud ^_^

Itu tuh pas kelas 2/3 SMP (piece udah lupa ane -.-v), dan pas mau lanjut ke tingkat SMA/sederajat (pas akhir-akhir kelas 3 SMP) ada niatan tuuh buat berhijab total pas sekolah maupun dirumah. Eeehh, pas masuk SMK kelas 1 belum kelaksana, padahal secara peraturan sekolahku tercintah tentang seragam sekolah itu udah mendukung banget nget ngeeett, tinggal nambahin kerudung aja sendiri. Taunya belum (tepok jidat x_x).

Jadi itu peraturan seragam di sekolah itu harus serba panjang, baju lengan panjang, rok atau celana juga harus panjang. Kan.. tinggal nambahin kerudung kan?? Oiya, ketambah lagi malah ikut ekskul dance, hadeehhhh tepok jidat 2x. Itu tuh gara-gara kepincut ngeliat kakak kelas yang nge-dancenya lihai banget, suka deh, ikut deh tuh ekskul hihihi..

Tapi alhamdulillah, ekskulnya ga jalan. Kumpul waktu awal-awal semester 1 aja, kesana-sananya ngga pernah ngumpul sama sekali. Jadi pasif deh tuh, jadwalnya ekskul kita pulang (yeay!! :D). Nah diakhir ajaran semester 2 kelas 1 itu akhirnya aku hijrah deh (Alhamdulillah jahiliyahnya mulai terputus hohoho). Pra dan pasca libur kenaikan udah berhijab dan lanjut kelas 2, kelas 3, sampai sekarang (Alhamdulillah 3x). Mulai masuk kelas 2 dan temen-temen udah tau aku berhijab pada diajakin deh tuh masuk Rohis sekolah ^_^

Lucunya, aku ngga pengen ikut ekskul Rohis (tadinya) dibilang aku mau ikutan? Hahaha bisa banget yah temenku itu X-D.
"Kak, kak.. Kiki mau ikut Rohis katanya.." kata si Hastin ke kakak kelas. Lah aku bengong, hahaha (kupeluk deh si Hastin ini :* )

Memang siih, sebelumnya dia ngajakin, "Ki masuk Rohis aja yuk, di dance udah ngga kan?" (Sama-sama mantan anak dance, jadi tau dia hehe) "iya udah nggak." Jawabku kalem.

Hmmm, kalo dikenang lagi sekarang lucu, bikin mesem-mesem sendiri. Apalagi pas Mei itu waktu hari-hari pertama pakai kerudung ke sekolah, setiap ketemu temen deket atau kakak kelas yang akrab ditanyain, "Kiki sekarang pake kerudung?" Sembari masang mimik muka penasaran dan ada juga yang seneng. Mau tau jawaban aku apa?? "Ah, nggak.." (masih ragu jawab iya inii :p) "kok sekarang pakai kerudung? Kan bukan hari jum'at.." "ah, inii.. dasinya ilang." Jawaban nyeletuk yang selama beberapa hari itu sebelum akhirnya libur semester jadi alibi yang ampuh.. Mereka ada yang jawab "oohh.." ada juga yang jawab "yaahh, terusin aja lebih bagus" itu jawaban temen sebangku ku tentunya, yang udah berhijab dari SMP (kalau nggak salah), kak Lina, plus nyubit pipi lagi (bonus kan tuh hahaha ^_^).

Sekarang... Hijab I'm in love.. lope lope dah sama hijab.. kalo kata orang-orang yang pacaran mah, "I can't live without you.." haha :D

Ada ungkapan yang pas banget deh bagiku, "Hampir semua muslimah berhijab menyesal.. kenapa tidak dari dulu berhijab.". Iya, nyesel kenapa ngga dari dulu hijrahnya hihi, tapi walau ngga dari dulu tetep harus disyukuri, karna kita masih dikasih kesempatan untuk lebih taat kepada-Nya dengan berhijab :D (Alhamdulillah..)

Semoga dihati ini, dan hati-hati setiap muslimah selalu diberikan keistiqomahan untuk senantiasa berhijab, dan semakin baik lagi disetiap harinya, menjadi kader yang sholehah dan pantang menyerah dalam berjuang di medan dakwah.. semoga Allah tidak mencabut nikamat ini, nikmat untuk menjadi hamba-Nya yang taat kepada-Nya, sebaliknya, menjadikannya lebih dan lebih sehingga membuat kita lebih dekan dan lebbbiihhh dekat lagi kepada-Nya, aamiin ^-^

Sekian dari Kiki, semoga dapat memtik pelajaran dari setiap kalimat yang tersusun diatas dan kurang lebihnya mohon maaf..
Senyum manis dari hati, untuk para shalihat yang bikin bidadari-bidadari dilangit cemburu ^_^ (aamiin, insya allah).

Rabu, 13 Agustus 2014

SRJ is Us ^_^

Assalamu'alaikum wr wb..

Kali ini aku ingin menggoreskan penaku tentang SRJ..
Apa itu SRJ? Tentang apa sih SRJ itu?
Yups, bermula dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan Anya di group WhatsApp yang dikasih judul KPI SMK 2.

Hmmm, berhubung group tersebut adalah group baru jadi kami sepakat untuk berkenalan kembali agar satu sama lain makin kenal dan salah satu isian yang ada untuk perkenal itu adalah bagian 'Organisasi'.

Nah, kebetulan, anggota group ini banyak member SRJ-nya, jadilah setiap dari member yang mengirimkan data dirinya mengisi bagian organisasi dengan organisasi yang masing-masing ikuti, salah satunya SRJ Group.

Mungkin si Anya, selaku mimin atau admin group KPI ini jadi penasaran, banyak juga nih yang nyantumin SRJ di bagian organisasinya, makadari itu terlontarlah pertanyaan dari dia, "Oohh ya disini banyak memeber SRJ ya? boleh sharing kah itu tentang apa?"

Rasa menggelitik di dalam hati pun muncul yang kemudian aku pun menanyakan hal yang sama kepada hatiku, apa itu SRJ?

Saat pertanyaan itu muncul, ada sesuatu yang ku rasakan disini (nunjuk dada)..
Perasaan hangat, senang, nyaman, ngangenin, gurauan, ceria, rame, kadang riweuh, gontot-gontotan (debat), dan segala rasa yang terasa dan hal-hal yang teringat kembali, menyeruak menjadi suatu makna yang sulit diungkapkan namun sangat berharga untuk dilupakan.

 Dengan segala rasa itu dihati, aku mulai mengetik di layar gadgetku, "SRJ tuh komunitas, anggotanya mantan rohis angktan 2011." Aku klik tombol kirim dengan emoticon senyuman di pipi merona.. dan begitu pula dalam raut wajahku saat itu.. ^_^
Kemudian aku sambung penjelasan awal ini dengan penuh semangat membara dalam hati, "Yang punya impian besar, bersama-sama kita akan rihlah to Mekah di tahun 2022.. aamiin.. Ada yang mau tambahkan?"

Setelah penjelasanku terposting di dinding group KPI SMK 2, kak Eva pun hadir dengan penjelasannya, "Program kita untuk saat ini adalah silaturahim angkatan kami secara rutin disertai dengan kegiatan diskusi serta sharing seputar info dunia Islam, tsaqofah tarbiyah, dan memperkuat ukhuwah ^_^.. Ada yang mau menambahkan lagi?"

Disusul kemudian oleh Angel, "SRJ itu kepanjangan dari Sahibul Raudhotul Jannah (koreksi kalo salah) yang diambil dari nama markas Rohis SMK 2 dan terinspirasi dari film 5 Menara ... jadi kombinasinya begitu deh :D .. Ada yang mau menambahkan lagi? aamiin buat mimpi kita bersama .. Do'akan yah teman-teman" tulisnya.

Membaca dua penjelasan dari dua saudara ini bikin aku bertambah semangat dan ikut nimbrung lagi akhirnya, "SRJ ituuu ukhuwah islamiyah yang sangat terasaaa pake banget hehe", "SRJ itu aku + mereka = persaudaraan", "aku + mereka = persahabatan" tulisku menambahkan dengan disertai emoticon smile yang matanya lope-lope dan kiss termanis hihihi


Akhirnya, member yang lain pun bermunculan..
Hastin : SRJ itu keluarga :* <3 p="">
Eva : SRJ itu insya Allah persaudaraannya, persahabatannya hingga ke Raudhatul Jannah  :) :* :*
Hastin : aamiin insyaallah..
Eva : aamiin
Angel : aamiin .. :* :* :*  ikutan ah .. SRJ itu .. aku + kamu = Kita .. :* :*
Zakiah : SRJ itu ada aku di dalamnya.. (ditambah mimik nyengir pake salam peace 2 jari) :* :*
Ita : aamiin.. SRJ itu keluarga ..

Tak ingin ketinggalan, aku juga harus ikutan hehehe, "aamiin.. aaahh jadi kangen pake banget kan sama kalian, peluk jauh atu-atu ({})" dari kalimat ini muncul gurauan dari Hastin dengan mengatakan, "Dih .. pengen banget peluk-peluk.." yang aku sahuti dengan bilang, "Ga ajak atin juga :p" yang kemudian disusul tawa renyahnya didinding group, "wuahahahaha :D :D :D" tulisnya.

Yang bertanya pun akhirnya muncul juga, dan berkomentar, "Masyaallah.. luaaar biasaaa (dibubuhkan emot smile dengan lope-lope dimatanya 3x, hihihi)", "apapun itu singkatannya.. semoga menjadi doa yaa.. aamiin". "Aamiin", sahut Angel (makasih lho do'anya Anya ^_^)

Sedikit tambahan datang dari Maylisa tentang SRJ, "Aamiin.. Aku baru gabung di SRJ.. buat aku mereka bukan cuma sahabat.. tapi bisa menjadi guru untuk satu sama lainnya.." disusul kata "aamiin" dari aku dan Angel.

Seneng banget ada pertanyaan ini, menandakan apa yang selama ini kita bangun dan jalani bersama-sama tidak percuma dan hanya buang-buang waktu. Makasih untuk Anya yang sudah menanyakan tentang SRJ. Yaa, meskipun ngga semua member ada di group KPI SMK 2 dan kasih komen, tapi se-enggaknya ini sudah mewakili. ^_^ :D :)

Semoga kita makin istiqomah dijalan-Nya, menjadi hamba-hamba-Nya yang saling sayang-menyayangi, ingat-mengingatkan, saling koreksi dan berkumpul karena Allah.. Semoga ilmu-ilmu yang datang kepada kita dimanapun, kapanpun dan dari siapapun dapat kita serap dengan baik dan dapat tertunaikan dengan baik pula sehingga kita dapat saling berbagi tidak hanya untuk komunitas kita pribadi di SRJ, melaikan kepada orang lain juga..

Uhibbukifillah yaa ikhwah..
Semoga kelak kita dipertemukan di Surga-Nya dalam keadaan beriman dan bertaqwa..
aamiin..

Demikian goresan penaku kali ini, semoga bermanfaat untuk semuanya :D
Dan terima kasih atas do'anya ;)


Wassalamu'alaikum wr wb..


Regards,
Kiki Tungki Aryani