Cinta yang seperti apakah yang kalian inginkan sahabat?
Cinta yang penuh ambisi dalam pemenuhan kepuasan?
Cinta yang mencintai namun tak mengerti dan memahami?
Cinta yang memberi dan menerima?
Cinta yang sejuk dan damai?
Cinta yang tulus?
Cinta yang apa adanya?
Cinta yang kasih sayang?
Cinta yang saling melengkapi?
Cinta yang memilih-milih?
Cinta yang mengatur?
Aku ingin cinta yang apa adanya, seperti cinta Allah SWT yang tiada tara dan tiada duanya.
Aku ingin cinta yang tulus, seperti cinta yang Rasulullah SAW berikan kepada umatnya
Aku ingin cinta yang kasih sayang, seperti Rasulullah SAW yang penuh belas kasih.
Aku ingin cinta yang sejuk dan damai, seperti cinta Islam kepada pemeluknya.
Aku ingin cinta yang memberi dan menerima, seperti Allah SWT yang selalu memberi apa yang kita minta dan menerima taubat kita atas segala dosa dan khilaf kita dengan catatan kita tidak mengulanginya lagi (taubat nasuha).
Betapa Allah SWT tidak pernah memilih-milih untuk memberikan kasih sayang-Nya, tidak hanya kepada yang berkulit putih atau pun hitam, tidak hanya kepada yang berambut kriting atau pun lurus, tidak hanya kepada yang pendek atau pun tinggi. Tapi Allah SWT memberikan kasih sayang-Nya kepada seluruh hambanya. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
Allah SWT dan Rasul-Nya sangat menyayangi kita selaku hamba-Nya dan umatnya, alasan apakah yang membuat kita tidak dapat mencintai-Nya dan Rasul-Nya dengan cinta yang sesungguhnya? Yaitu pada tingkatan yang pertama, bukan yang kedua, yang ketiga, tingkatan-tingkatan seterusnya apalagi yang terakhir.
Dapatkah kalian merasakan betapa besarnya cinta dan kasih sayang yang telah Allah dan Rasul-Nya berikan? Subhanallah Alhamdulillah Laailahailallah Allahu'akbaru!
Sadarkah kita bahwa cinta yang ada pada diri kita seringkali bukanlah cinta, melainkan hanyalah ambisi belaka. Ambisi untuk memiliki, untuk pembuktian, dan bahkan ambisi untuk pertaruhan. Masya Allah.
Yang pada akhirnya ambisinya akan menjadi penyakit dalam dirinya, bahkan telah menjadi penyakit hati yang dalam dan berkerak. Na'udzubillah.
Cinta yang mengatur-ngatur pasangannya untuk menjadi apa yang diinginkan itu bukanlah cinta, tapi ke-egoisan. Cinta seperti itu mengurung pasangan kita dalam sebuah sifat yang bukan sifatnya, tingkah laku yang bukanlah dia semestinya. Dia akan terpenjara dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri demi orang yang ia sayangi. Cinta seperti ini tidak benar, karena cinta ini bukan mencintai pasanganya, melainkan mencintai orang lain dalam tubuh pasangannya dengan menanamkan jiwa orang lain tersebut kedalam jiwa pasanagnnya. Cinta yang benar adalah mencintai pasangannya apa adanya, menjadi pelengkap bagi kekurangan dan kelemahannya, mensyukuri kelebihannya untuk menjadi penyempurna bagi kekurangan yagn dimiliki.
Cinta yang benar adalah mencintai pasangannya karena Rabb-nya dan menjadikan pasangannya semakin mencitai Rabb-nya dengan mencintainya.
Berani mencintai berarti kita harus berani menerima dan menghadapi resiko, menafikan ke egoisan, memberi ruang bagi perbedaan. Karena setiap orang berbeda, setiap insan memiliki sifat dan sikap yang tak sama, maka menghadapinya harus diimbangi dengan kelapangan dada, kesabaran, keluasan dan ketulusan hati, kebijaksanaan dan mengesampingkan ego. Terkadang, saat kita dalam suatu masalah, kita dengan mudahnya memutuskan sesuatu yang bisa jadi akan kita sesali disuatu hari nanti karena ada emosi yang mendampingi tindak-tanduk kita pada waktu itu.
Tiada cinta yang sempurna melainkan cinta yang dilandasi oleh cinta kepada Rabb-nya dan kepada pemimpin umatnya -Rasulullah. Cinta yang berlandaskan karena-Nya akan membawa sang pencinta dan orang yang dicintainya untuk menjadi seorang hamba Rabb-nya yang berkualitas, yang terus menerus mengintropeksi (muhasabah) diri, senantiasa gemar melakukan kebajikan dan tidak ingin melakukan keburukan yang akan menjerumuskannya kedalam lembah kenistaan -Na'udzubillah, selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan ibadah yang dilakukannya, dan hal-hal lain yang tentu saja membawa dampak yang positif bukan sebaliknya, yaitu membawa dampak negatif.
Tahukah kalian sahabat, Allah adalah Tuhan yang tiada sesembahan yang tidak patut disembah melainkan-Nya. Tuhan yang mencintai hamba-Nya.
Dalam bentuk apakah rupa cinta Allah kepada hamba-Nya? Yakni dengan segala nikmat yang selalu Allah berikan kepada kita. Nikmat sehat yang luar biasa sangat kita syukuri, sehingga aktifitas-aktifitas kita dapat berjalan dengan baik. Nikmat rezki yang luar biasa melimpah ruah dari Sang Maha Kaya. Nikmat umur yang alhamdulillah sampai detik ini kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hari, menghirup udara kembali. Dan nikmat-nikmat lain yang tentunya sangat banyak (pendapat penulis, penj).
Segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pemilik Kerajaan Dunia dan Akhirat ini patut disyukuri. Dan alangkah luar biasanya apabila kita dapat mensyukuri segala hal yang telah Allah berikan kepada kita, baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Karena segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita sudahlah pasti hal tersebut merupakan yang terbaik bagi kita. Ingatkah pada ungkapan "Apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata Allah, namun apa yang menurut Allah baik maka tentulah baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya"?
Namun terkadang manusia lalai dan lupa untuk hanya sekedar berterima kasih kepada penciptanya yang luar biasa Penyayang dan Pengasih. Astaghfirullah, yaa Rabb jauhkanlah hamba dari golongan orang-orang yang tidak pandai bersyukur, aamiin.
Maka dari itu sahabat, marilah kita muhasabah (intropeksi) diri kita. Telah pandaikah kita mensyukuri segala nikmat dan kasih sayang yang telah Allah swt berikan kepada kita? Menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur atas rizki yang telah Allah berikan, ilmu yang begitu banyak nan luas yang dapat ditampung oleh otak kita yang begitu kecil. Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang bersabar apabila diberikan ujian-ujian yang pasti semua orang mengalami ujian, hanya saja dalam hal-hal yang berbeda dan tak serupa. Sudahkah kita berpasrah dan menerima segala ketentuan-Nya yang tentunya baik bagi kita walau terkadang kita tidak mengetahui hal tersebut? Sejauh manakah rasa cinta kita yang kita berikan kepada-Nya dimana cinta-Nya terhadap hamba-Nya terus mengalir dan mengalir setiap harinya?
Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang senantiasa mencintai-Nya lebih dari apapun, bangga menjadi hamba-Nya dan menjadi umat nabi Muhammad saw. I am proud to be a moeslem, I do love Allah and Rasulullah, and I do love Islam too. Allah is the only God, there is no God except Him, Allah is the only one worthy of worship and Muhammad is His prophet, messenger of Allah.
Dan semoga kita dapat menjadi agen dakwah yang baik. Menjadi hamba-Nya yang senantiasa dapat menolong agama Allah. Seperti terdapat dalam firman-Nya :
"Hai Orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) allah, niscaya Dia (Allah) akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)
Atau firman Allah yang artinya :
Tahukah kalian sahabat, Allah adalah Tuhan yang tiada sesembahan yang tidak patut disembah melainkan-Nya. Tuhan yang mencintai hamba-Nya.
Dalam bentuk apakah rupa cinta Allah kepada hamba-Nya? Yakni dengan segala nikmat yang selalu Allah berikan kepada kita. Nikmat sehat yang luar biasa sangat kita syukuri, sehingga aktifitas-aktifitas kita dapat berjalan dengan baik. Nikmat rezki yang luar biasa melimpah ruah dari Sang Maha Kaya. Nikmat umur yang alhamdulillah sampai detik ini kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hari, menghirup udara kembali. Dan nikmat-nikmat lain yang tentunya sangat banyak (pendapat penulis, penj).
Segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pemilik Kerajaan Dunia dan Akhirat ini patut disyukuri. Dan alangkah luar biasanya apabila kita dapat mensyukuri segala hal yang telah Allah berikan kepada kita, baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Karena segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita sudahlah pasti hal tersebut merupakan yang terbaik bagi kita. Ingatkah pada ungkapan "Apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata Allah, namun apa yang menurut Allah baik maka tentulah baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya"?
Namun terkadang manusia lalai dan lupa untuk hanya sekedar berterima kasih kepada penciptanya yang luar biasa Penyayang dan Pengasih. Astaghfirullah, yaa Rabb jauhkanlah hamba dari golongan orang-orang yang tidak pandai bersyukur, aamiin.
Maka dari itu sahabat, marilah kita muhasabah (intropeksi) diri kita. Telah pandaikah kita mensyukuri segala nikmat dan kasih sayang yang telah Allah swt berikan kepada kita? Menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur atas rizki yang telah Allah berikan, ilmu yang begitu banyak nan luas yang dapat ditampung oleh otak kita yang begitu kecil. Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang bersabar apabila diberikan ujian-ujian yang pasti semua orang mengalami ujian, hanya saja dalam hal-hal yang berbeda dan tak serupa. Sudahkah kita berpasrah dan menerima segala ketentuan-Nya yang tentunya baik bagi kita walau terkadang kita tidak mengetahui hal tersebut? Sejauh manakah rasa cinta kita yang kita berikan kepada-Nya dimana cinta-Nya terhadap hamba-Nya terus mengalir dan mengalir setiap harinya?
Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang senantiasa mencintai-Nya lebih dari apapun, bangga menjadi hamba-Nya dan menjadi umat nabi Muhammad saw. I am proud to be a moeslem, I do love Allah and Rasulullah, and I do love Islam too. Allah is the only God, there is no God except Him, Allah is the only one worthy of worship and Muhammad is His prophet, messenger of Allah.
Dan semoga kita dapat menjadi agen dakwah yang baik. Menjadi hamba-Nya yang senantiasa dapat menolong agama Allah. Seperti terdapat dalam firman-Nya :
"Hai Orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) allah, niscaya Dia (Allah) akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)
Atau firman Allah yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana `Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”. (QS. As-Shaff)
atau dalam firman-Nya yang lain, yang artinya :
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar". (At-Taubah 111)
Rasulullah saw pun bersabda yang artinya :
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran senantiasa menang dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi mereka, hingga golongan akhir dari mereka memerangi Dajjal.” (HR. Ahmad)
Menolong agama Allah tidaklah dengan banyaknya Shalat, zakat, sedekah, puasa! Orang yang hanya Shalat, zakat, puasa, dll, tapi enggan menolong agama-Nya adalah orang yang egois, mementingkan diri sendiri serta lemah Iman yang ditunjukkan oleh lemahnya perhatiannya terhadap Islam. Menolong agama Allah adalah dengan berjihad dijalan-Nya, berdakwah menyeru kepada jalan-Nya, dan dengan membantu orang-orang yang melaksanakan keduannya.
~ Semoga bermanfaat
Wallahu A’lam.
atau dalam firman-Nya yang lain, yang artinya :
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar". (At-Taubah 111)
Rasulullah saw pun bersabda yang artinya :
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran senantiasa menang dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi mereka, hingga golongan akhir dari mereka memerangi Dajjal.” (HR. Ahmad)
Menolong agama Allah tidaklah dengan banyaknya Shalat, zakat, sedekah, puasa! Orang yang hanya Shalat, zakat, puasa, dll, tapi enggan menolong agama-Nya adalah orang yang egois, mementingkan diri sendiri serta lemah Iman yang ditunjukkan oleh lemahnya perhatiannya terhadap Islam. Menolong agama Allah adalah dengan berjihad dijalan-Nya, berdakwah menyeru kepada jalan-Nya, dan dengan membantu orang-orang yang melaksanakan keduannya.
~ Semoga bermanfaat
Wallahu A’lam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar