Rabu, 24 April 2013

Our Nights with the Stars *



Sekitar 4 atau 5 tahun lalu, antara usia 14 dan 15, saat kelas VIII atau kelas IX sekolah menengah pertama (SMP), malam-malam kita menjadi begitu berharga dan menjadi aktifitas yang membuatku rindu. Ingin rasanya kembali ke masa itu, atau sekedar mengulanginya kembali, hmmmm..

Aku masih ingat bagaimana kita mempersiapkan malam kita sore itu.. Dengan membelia 2 batang lilin, kalau tidak salah harganya masih Rp. 500,- / batangnya, hihihi lucu sekali. Dua lilin itu akan menjadi penerang kita disetiap malamnya, oh, dan tak lupa korek api batangannya satu.. Korek itu akan awet mungkin lebih dari satu minggu, namun untuk lilinnya mungkin hanya bertahan sampai hari ke tiga, itu pun kalau kita beruntung, hehe..

Aku juga masih ingat seharian kita sibu membersihkan balkon atap rumahku dari debu dan dari dedaunan yang berada disekitarnya.. Yang sulit adalah saat sampah telah terkumpul, kita harus memindahkannya ke karung goni. Tentu tidak akan sulit untuk memindahkan dedaunan, namun debu dan serbuk bunga yang akan menjadi buah dari pohon mangga itu yang sulit. Jika masih menggunung tentu mudah mengambilnya, tapi jika sudah tinggal sisa-sisanya saja maka kita akan menyapukannya ke saluran air hujan yang menuju ke bawah rumahku..

Setelah balkon bersih maka kita lanjut ke rumahmu untuk mengambil tikar yang sudah terbagi menjadi dua, meski sudah tidak bagus namun masih bisa digunakan dan memang sangat bermanfaat bagi kita. Terlebih dahulu kita meminta izin kepada mamamu yang tak lain adalah bibiku, dan syukurlah dia memperbolehkannya. Hanya saja dia terlihat heran saat kita menjawab pertanyaannya tentang untuk apa tikar itu? hehehehe

Semua berjalan lancar, kita pun memberihkan badan kita setelah seharian bermandikan keringat memberishkan balkon. Oh ya, pasti teman-teman yang membaca cerita kita terheran-heran bagaimana cara kita naik ke atas balkon yang menjadi bagian atap rumahku, walau tak terlalu luas -mungkin hanya sekitar satu meter, dan panjangnya sepanjaaang, yaa sepanjang rumahku bagian depan..

Ayo katakan. bagai mana kita bisa mencapai balkon yang pastinya tinggi itu, mungkin sekitar 2.5 meter atau 3 meter?? Hmm, entahlah berapa tingginya... Oke, akan ku beritahu. Kami berdua naik kesana lewat pohon mangga yang ada di pekarangan samping rumahku. Setiap orang yang akan naik kesana memang selalu naik pohon itu selain menggunakan tangga yang terbuat dari bambu tentunya, that is a handmade ladder, you know! Walau tentu bukan kami yang membuatnya hehehe..

Siang berganti malam, dan waktu pun berlalu dengan seluruh persiapan yang kami lakukan, akhirnya langit telah gelap gulita dan mulailah bermunculan bintang yang gemerlap mengangkasa. Sekita jam 18.30 WIB langit sudah gelap memang, dan bintang sudah dapat terlihat sedikit demi sedikit dan kemudian bertambah banyak banyak dan baaannnnyyyaaakkkk sekali.. (rasanya seperti sedang melihatnya langsung, indah sekali! subhanallah walhamdulillah :D)

Setelah shalat maghrib kamu langsung kerumahku, atau aku yang menjemput kerumahmu.. Kemudian kita mengambil tikar, bantal, korek api dan lilin yang sudah kita siapkan dirumahku (itu adalah benda-benda yang menjadi perlengkapan kita sehari-hari dikemudian harinya), kemudian kita mulai memanjat pohon satu persatu dengan saling mengoper perlengkepan kita. Setelah sampai di sudut balkon sebelah barat kita mulai menyalakan lilin dan meletakkannya tak jauh dari tempat kita menggelar tikar dan kemudian menaruh bantal di atasnya. ^_^
Segala sesuatunya sudah rapih dan kita mulai merebahkan badan kita mengahadap langit, kemudian kita mulai bercerita dan berimajinasi. Terkadang rasi-rasi bintang terlihat jelas dan rasi-rasi bintang yang kita bentuk sendiripun begitu indah dan lucu-lucu hahahaha

Ingatkah? Jika kamu menemukan bentuk rasi yang kamu ciptakan sendiri maka kamu akan mencoba memperlihatkannya kepadaku, begitupun aku sebaliknya.. Ramai sekali saat kita mencoba mengarahkan satu sama lain untuk melihat rasi bintang yang kita buat, hihihihi... Kegiatan ini kami namakan "berkemah", namun bukan berkemah seperti arti harfiahnya, ini hanya istilah yang kita gunakan untuk melihat bintang... (uuu, aku jadi kaaannnngggeeennn sekali sampai berkaca-kaca *_* hehehe).


Terkadang sekilas aku sering melihat seperti ada cahaya yang jatuh, aku terkaget dan menanyakan padamu pernahakn kamu melihat seperti ada cahaya yang jatuh? Awal mulanya kamu menjawab tidak tapi tak lama kemudian kamu bilang "eh iya, tadi aku ngeliat tapi kecil". Entah itu bintang jatuh atau hanya seberkas torehan cahaya yang terlihat oleh kita yang berasal dari dua buah benda langit yang saling bertabrakan di langit nan jauh disana.. Lama kelamaan kita sering melihatnya, bahkan adakalanya kita melihat "bintang jatuh" itu bersamaan :)...

Oh iya, teman-teman pembaca pasti ingin tahu juga bagaimana asal ceritanya kita bisa melakukan aktifitas ini. Berangkat dari hobi kami manjat pohon (eits, jangan samakan sama monkey yaa, awas loh!), suatu malam kami naik ke balkon untuk sekedar main-main dan sambil cerita-cerita (biasa deehhh, the girls), kemudian aku iseng menaiki genting yang tersusun rapih itu yang menaungi rumahku agar tidak kehujanan, kepanasan dan keanginan (?). Dia merasa heran untuk apa aku naik keatas, dan aku yang memang -bisa dikatakan- dari kecil menyukai bintang menaiki genting rumahku untuk melihatnya. Sekalin naik aku fikir hohohoho.. Kemudian diapun mengikutiku setelah aku sampaikan niatku melihat bintang ditempat yang lebih tinggi lagi dari balkon, setelah sampai dipuncak kami pun duduk-duduk berdua (rasanya pegal duduk dipuncak segitiga atap rumah, asal kalian tahu saja), dan mulailah kami berimajinasi seperti yang kami lakukan saat "berkemah". Bedanya kami kesakitan karena duduk disana dan pegal menengadahkan dagu kami ke angkasa.

Namun itu tak mengurangi rasa senang kami melihat bintang-bintang yang indah itu, nah, dari sanalah kami membuat gagasan untuk "berkemah" ini, lebih baikkan daripada bersakit-sakitan duduk diatas atap dan berpegal-pegalan menengadahkan dagu??.. hihihihi, sekarang sudah tahu kan?? :D

Di malam-malam berikutnya kami membawa cemilan dan kain sarung karna udara malam yang dingin menusuk tulang. Terkadang kami menggotong tangga bambu milik paman kami untuk naik ke balkon, dan tak jarang kakak dan adikku, adiknya dan saudara kami yang lain ikut naik.. Acara "berkemah" kami pun jadi ramai, namun intinya tetaplah kami bersenang-senang... (happyyyyyyy ^_^ )

Sekarang, hari-hari telah berlalu menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan dan bulan pun berganti tahun... Hmmm, setelah kami lulus SMP "berkemah" pun tak kami lakukan lagi karena kami harus terpisah saat melanjutakan sekolah ke jenjang berikutnya yakni SMK. Karena aku akan disekolahkan ditempat perantauan kedua orang tuaku dan tempat tetehku menimba ilmu maka kamipun berpisah (tidak untuk selamanya, alhamdulillah). Dan disinilah aku menuntut ilmu selanjutnya, Jakarta sang Ibu Kota Negara..

Sesekali kami melakukannya lagi -naik ke balkon malam-malam, namun tidak "berkemah" lagi. Hanya sekedar main-main disana sambil cerita-cerita (again yaaa, the girls hehehe).. Itu pun saat aku ada dirumah, kampung halamanku yang tak terlupakan.

Sekarang, setelah lulus SMK kami kembali bersama lagi.. The "Sunflower" back together.. (hey hey, ingatkaann pastinya sama "Sunflower"??)
Setelah lulus dia melanjutkan kuliah di Ibu Kota jadi kami bersama lagi, walau kami kuliah di tempat yang berbeda. Dan "berkemah" pun sulit untuk dilakukan disini, mengingat jarang sekali bintang-bintang terlihat karena mereka tertutup awan kotor yang terbentuk dari polusi, hmmm :(

Saat kita mudik nanti, kita lakukan itu lagi yuk Lia? Sepupuku, saudaraku, my lovely best friend ^_^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ku haturkan Alhamdulillahi, rasa syukurku kepada Allah SWT atas nikmat yang telah Allah berikan padaku.. Love Allah :* ^_^
Salam hangatku untuk keluarga besar di Cirebon dan Bogor sana, semoga kalian sehat selalu dan dalam naungan kasih sayang Allah SWT. Barakallahu my big family :* ^_^

Senin, 01 April 2013

Wahai Adik-adikku, Adik-adik Kami



Assalamu'alaikum wr wb..

Tulisan ini kubuat atas dasar kemau-anku dalam memajukan dakwahku- dakwah kita bersama dalam ruang liangkup sekolah, yakni Rohis.
Tulisan ini kubuat atas dasar keinginan kita bersama, satu angkatanku, para anggota Rohis yang kini telah menjadi alumni Rohis.
Yang tak ingin lepas begitu saja walau sudah bukan menjadi tugas kami..
Yang tetap ingin berjuang membangun Rohis kita yang tengah luka dan meradang..

Tulisan ini kubuat atas dasar kekecewaanku, kekecewaan kami pada kalian, adik-adikku, adik-adik kami..
Tulisan ini kubuat atas kebimbangan kami dalam menghadapi kalian, saudara-saudari yang kami sayangi..
Atas tindak-tanduk kalian yang entah semestinya atau tidak..
Atas respon kalian terhadap niat baik kami untuk memajukan organisasi kita bersama, jalan dakwah kita bersama..

Aku sangat ingin bertanya, apa yang kalian inginkan sebenarnya untuk rumah kita ini?
Aku sangat ingin tahu apa yang ada dihati dan pikiran kalian?
Aku sangat ingin tahu apa yang harus kita lakukang untuk menghadapi kalian lagi? Untuk menyikapi sikap kalian lagi?
Setelah dengan cara baik, halus, lembut, menurut, merespon, mendukung, menyemangati bahkan membantu kalian yang telah kami lakukan..

Apakah cara kami terlalu lembut atau terlalu kasar?
Apakah kami terlalu mencampuri ataukah terlalu lepas tangan?
Apakah kalian tidak ingin memperjuangkan Rohis kita?
Kalau ingin, mengapa kalian terlihat begitu tak bersemangat? Tak bergairah untuk membangunnya?
Apa, apa dan apa?
Semua rasa berkecamuk dalam hatiku, aku sedih... Kami sedih...
Kami bingung, apa yang harus kami lakukan?

Kalian bilang tidak mau begini, kami menuruti..
Kalian bilang kalian belum mampu, baik kami beri kalian waktu dan bimbingan semampu kami..
Kalian bertanya dan meminta pendapat akan masalah kalian bersama, kami jawab dan bantu berpikir untuk memecahkannya bersama..
Masalah kalian dalam Rohis adalah masalah kami, suka dan duka yang ada dalam organisasi ini adalah suka duka kita bersama..
 
Bukan maksudku mengungkit tentang apa yang telah kami lakukan untuk kalian dan organisasi ini,
Bukan pula ku bermaksud untuk menyinggung, memojokkan apalagi menyalahkan kalian,

Hanya saja, aku ingin kalain memberitahukan kami apa yang harus kami perbuat untuk kalian?

Adik-adikku, adik-adik kami, harus kalian tahu kami sayang pada kalian dan cinta pada jalan dakwah ini..
Itu mengapa kami terus berpikir dan berusaha untuk terus dalam jalinan silaturahim yang kental dengan kalian, dengan segala keterbatasan yang kami miliki..

Kami ingin kalian dan organisasi kita sukses dan terus maju, agar kalian tidak meneruskan apa yang telah kami tinggalkan dulu..
Pekerjaan yang kami ingin mulai namun belum sepenuhnya kami memulainya, sehingga membuahkan penyesalan dalam hati kami..

Mengapa dulu kita tidak memulainya? Mengapa dulu kita tidak melakukan ini dan itu?
Mengapa? Itu yang terus menggelayut dalam benak kami..
Kami belum melakukan apa-apa untuk Rohis kita, maka kami ingin memulainya dengan kalian..
Memulainya bersama-sama dengan kalian...

Tahukah kalian?
Kami telah ada pada titik "menyerah", ingin rasanya "lepas tangan" mengurusi kalian..
Kami merasa kecewa, sedih, marah pada kalian!
Tapi kami mencoba berpikir bahwa mungkin cara kamilah yang salah,
Mungkin kami terlalu memaksakan kehendak kami..
Mungkin kami belum mencoba untuk menanyakan dan mempertimbangkan bagaimana perasaan kalian, mampukah kalian, atau sekedar bertanya apa yang ingin kalian lakukan..

Maafkan aku adik-adikku, maafkan kami kami,
Atas didikan kami yang telalu lemah atau mungkin terlalu keras pada kalian selama kami menjadi senior kalian di Rohis,
Sehingga membuat kalian seperti ini, sehingga menciptakan aura yang tak seharusnya ada dalam organisasi kita..
Maafkan kami atas kesalahan yang telah kami perbuat, mungkin secara tidak sadar atau bahkan parahnya secara sadar kami..
Maafkan kami yang tak sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah yang jiwa kami ada pada genggaman-Nya..
Maka dari itu bantulah kami, bantulah kami... 
Tujuan kami satu, mengajak pada kebaikan yang di ridhoi-Nya..

Semoga kita menjadi saudara seiman yang diberi keberuntungan oleh Sang Maha Pemberi Keberuntungan,
Semoga kita selalu istiqomah dalam jalan dakwah ini
Semoga langkah kita, jalan dakwah ini di ridhoi-Nya,
Semoga kita selalu ada dalam naungan kasih sayang Allah SWT,
Semoga kita menjadi umat Rasulullah yang diberi kesempatan untuk berjuang dalam ranah dakwah menjunjung agama yang benar ini, agama Allah SWT.
Semoga kita termasuk umat Rasulullah yang kelak diberi syafaat beliau pada hari akhir..

Kami sayang kalian, dan kami cinta jalan dakwah ini..
Bertemu dalam ketaan bersatu dalam perjuangan!
Salam ukhuwah Islamiah dan salam dakwah!

Tertanda,
Kiki Tungki Aryani dan kakak-kakak kalain...

Wassalamu'alaikum wr wb..

Jumat, 15 Maret 2013

UNTUKMU DARI HATIKU


Rasa perih ini terus menjangkiti hatiku..
Katakan wahai kau yang membuat aku jadi begini,
Harus apakah diriku ini?
Harus bagaimana?

Hatiku tengah meronta,Memohon untuk berhenti melakukan ini!
Menyakiti hati dan jiwaku dengan terus mencintaimu
Karena aku tahu hatimu tidak untukku.

Aku tak ingin bertemu denganmu,Karna itu menyesakkanku.
Rasanya, semakin sakit!
Mengertilah,
Sejujurnya aku tak ingin melihatmu walau hanya sekejap mata!

Wahai kau yang telah lama diam dihatiku..Do’akanlah bahwa rasa ini ada karena-Nya,
Karna aku selalu berharap begitu kepada Rabb-ku..
Agar aku diberikan ketenangan oleh Maha Pembolak-balik hati..
Agar aku diberikan ketabahan dan kesabaran dalam rasa ini..

Do’akanlah pula untukku,Agar aku segera melupakanmu,
Dan segera mendapat ganti yang telah Rabb-ku tentukan di Lauh Mahfudz..
Agar baik bagiku dan baik pula bagimu..

Rabu, 13 Maret 2013

LOVE

Cinta yang seperti apakah yang kalian inginkan sahabat?
Cinta yang penuh ambisi dalam pemenuhan kepuasan?
Cinta yang mencintai namun tak mengerti dan memahami?
Cinta yang memberi dan menerima?
Cinta yang sejuk dan damai?
Cinta yang tulus?
Cinta yang apa adanya?
Cinta yang kasih sayang?
Cinta yang saling melengkapi?
Cinta yang memilih-milih?
Cinta yang mengatur?

Aku ingin cinta yang apa adanya, seperti cinta Allah SWT yang tiada tara dan tiada duanya.
Aku ingin cinta yang tulus, seperti cinta yang Rasulullah SAW berikan kepada umatnya
Aku ingin cinta yang kasih sayang, seperti Rasulullah SAW yang penuh belas kasih.
Aku ingin cinta yang sejuk dan damai, seperti cinta Islam kepada pemeluknya.
Aku ingin cinta yang memberi dan menerima, seperti Allah SWT yang selalu memberi apa yang kita minta dan menerima taubat kita atas segala dosa dan khilaf kita dengan catatan kita tidak mengulanginya lagi (taubat nasuha).

Betapa Allah SWT tidak pernah memilih-milih untuk memberikan kasih sayang-Nya, tidak hanya kepada yang berkulit putih atau pun hitam, tidak hanya kepada yang berambut kriting atau pun lurus, tidak hanya kepada yang pendek atau pun tinggi. Tapi Allah SWT memberikan kasih sayang-Nya kepada seluruh hambanya. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?

Allah SWT dan Rasul-Nya sangat menyayangi kita selaku hamba-Nya dan umatnya, alasan apakah yang membuat kita tidak dapat mencintai-Nya dan Rasul-Nya dengan cinta yang sesungguhnya? Yaitu pada tingkatan yang pertama, bukan yang kedua, yang ketiga, tingkatan-tingkatan seterusnya apalagi yang terakhir.


Dapatkah kalian merasakan betapa besarnya cinta dan kasih sayang yang telah Allah dan Rasul-Nya berikan? Subhanallah Alhamdulillah Laailahailallah Allahu'akbaru!

Sadarkah kita bahwa cinta yang ada pada diri kita seringkali bukanlah cinta, melainkan hanyalah ambisi belaka. Ambisi untuk memiliki, untuk pembuktian, dan bahkan ambisi untuk pertaruhan. Masya Allah.
Yang pada akhirnya ambisinya akan menjadi penyakit dalam dirinya, bahkan telah menjadi penyakit hati yang dalam dan berkerak. Na'udzubillah.

Cinta yang mengatur-ngatur pasangannya untuk menjadi apa yang diinginkan itu bukanlah cinta, tapi ke-egoisan. Cinta seperti itu mengurung pasangan kita dalam sebuah sifat yang bukan sifatnya, tingkah laku yang bukanlah dia semestinya. Dia akan terpenjara dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri demi orang yang ia sayangi. Cinta seperti ini tidak benar, karena cinta ini bukan mencintai pasanganya, melainkan mencintai orang lain dalam tubuh pasangannya dengan menanamkan jiwa orang lain tersebut kedalam jiwa pasanagnnya. Cinta yang benar adalah mencintai pasangannya apa adanya, menjadi pelengkap bagi kekurangan dan kelemahannya, mensyukuri kelebihannya untuk menjadi penyempurna bagi kekurangan yagn dimiliki.
Cinta yang benar adalah mencintai pasangannya karena Rabb-nya dan menjadikan pasangannya semakin mencitai Rabb-nya dengan mencintainya.

Berani mencintai berarti kita harus berani menerima dan menghadapi resiko, menafikan ke egoisan, memberi ruang bagi perbedaan. Karena setiap orang berbeda, setiap insan memiliki sifat dan sikap yang tak sama, maka menghadapinya harus diimbangi dengan kelapangan dada, kesabaran, keluasan dan ketulusan hati, kebijaksanaan dan mengesampingkan ego. Terkadang, saat kita dalam suatu masalah, kita dengan mudahnya memutuskan sesuatu yang bisa jadi akan kita sesali disuatu hari nanti karena ada emosi yang mendampingi tindak-tanduk kita pada waktu itu.

Tiada cinta yang sempurna melainkan cinta yang dilandasi oleh cinta kepada Rabb-nya dan kepada pemimpin umatnya -Rasulullah. Cinta yang berlandaskan karena-Nya akan membawa sang pencinta dan orang yang dicintainya untuk menjadi seorang hamba Rabb-nya yang berkualitas, yang terus menerus mengintropeksi (muhasabah) diri, senantiasa gemar melakukan kebajikan dan tidak ingin melakukan keburukan yang akan menjerumuskannya kedalam lembah kenistaan -Na'udzubillah, selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dengan ibadah yang dilakukannya, dan hal-hal lain yang tentu saja membawa dampak yang positif bukan sebaliknya, yaitu membawa dampak negatif.

Tahukah kalian sahabat, Allah adalah Tuhan yang tiada sesembahan yang tidak patut disembah melainkan-Nya. Tuhan yang mencintai hamba-Nya.
Dalam bentuk apakah rupa cinta Allah kepada hamba-Nya? Yakni dengan segala nikmat yang selalu Allah berikan kepada kita. Nikmat sehat yang luar biasa sangat kita syukuri, sehingga aktifitas-aktifitas kita dapat berjalan dengan baik. Nikmat rezki yang luar biasa melimpah ruah dari Sang Maha Kaya. Nikmat umur yang alhamdulillah sampai detik ini kita masih diberikan kesempatan untuk menjalani hari, menghirup udara kembali. Dan nikmat-nikmat lain yang tentunya sangat banyak (pendapat penulis, penj).


Segala nikmat yang diberikan oleh Sang Pemilik Kerajaan Dunia dan Akhirat ini patut disyukuri. Dan alangkah luar biasanya apabila kita dapat mensyukuri segala hal yang telah Allah berikan kepada kita, baik yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Karena segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita sudahlah pasti hal tersebut merupakan yang terbaik bagi kita. Ingatkah pada ungkapan "Apa yang menurut kita baik belum tentu baik dimata Allah, namun apa yang menurut Allah baik maka tentulah baik bagi kita. Begitu pula sebaliknya"?

Namun terkadang manusia lalai dan lupa untuk hanya sekedar berterima kasih kepada penciptanya yang luar biasa Penyayang dan Pengasih. Astaghfirullah, yaa Rabb jauhkanlah hamba dari golongan orang-orang yang tidak pandai bersyukur, aamiin.

Maka dari itu sahabat, marilah kita muhasabah (intropeksi) diri kita. Telah pandaikah kita mensyukuri segala nikmat dan kasih sayang yang telah Allah swt berikan kepada kita? Menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur atas rizki yang telah Allah berikan, ilmu yang begitu banyak nan luas yang dapat ditampung oleh otak kita yang begitu kecil. Sudahkah kita menjadi hamba-Nya yang bersabar apabila diberikan ujian-ujian yang pasti semua orang mengalami ujian, hanya saja dalam hal-hal yang berbeda dan tak serupa. Sudahkah kita berpasrah dan menerima segala ketentuan-Nya yang tentunya baik bagi kita walau terkadang kita tidak mengetahui hal tersebut? Sejauh manakah rasa cinta kita yang kita berikan kepada-Nya dimana cinta-Nya terhadap hamba-Nya terus mengalir dan mengalir setiap harinya?

Semoga kita dapat menjadi hamba-Nya yang senantiasa mencintai-Nya lebih dari apapun, bangga menjadi hamba-Nya dan menjadi umat nabi Muhammad saw. I am proud to be a moeslem, I do love Allah and Rasulullah, and I do love Islam too. Allah is the only God, there is no God except Him, Allah is the only one worthy of worship and Muhammad is His prophet, messenger of Allah.

Dan semoga kita dapat menjadi agen dakwah yang baik. Menjadi hamba-Nya yang senantiasa dapat menolong agama Allah. Seperti terdapat dalam firman-Nya :
"Hai Orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) allah, niscaya Dia (Allah) akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)

Atau firman Allah yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana `Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”. (QS. As-Shaff)

atau dalam firman-Nya yang lain, yang artinya :
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar". (At-Taubah 111)

Rasulullah saw pun bersabda yang artinya :
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran senantiasa menang dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi mereka, hingga golongan akhir dari mereka memerangi Dajjal.” (HR. Ahmad)

Menolong agama Allah tidaklah dengan banyaknya Shalat, zakat, sedekah, puasa! Orang yang hanya Shalat, zakat, puasa, dll, tapi enggan menolong agama-Nya adalah orang yang egois, mementingkan diri sendiri serta lemah Iman yang ditunjukkan oleh lemahnya perhatiannya terhadap Islam. Menolong agama Allah adalah dengan berjihad dijalan-Nya, berdakwah menyeru kepada jalan-Nya, dan dengan membantu orang-orang yang melaksanakan keduannya.

~ Semoga bermanfaat
Wallahu A’lam.

Sabtu, 09 Februari 2013

TENANGLAH WAHAI HATI, ALLAH BERSAMAMU...


Bismillahirahmanirahim
Assalamu'alaykum warrohmatullahi wabarrokatuh...

Pernahkah kalian, sahabatku, merasakan hati -segumpal darah yang terdapat dalam tubuh ini- sungguh gundah, resah dengan segudang perasaan yang tidak menentu? Terasa kering dan tak hidup?
Tahukah kalian? Hati pun perlu diberi "makan", tidak hanya tubuh kita yang perlu makan. Begitu pula dengan otak, ia pun butuh "makan".
Hati, otak dan tubuh kita memerlukan asupan berupa "makanan", hanya makanan yang mereka perlukan berbeda.

Adakah yang tahu apakah makanan hati, otak dan tubuh kita?
Jika ditanya mengenai "makanan" tubuh kita semua pasti telah sanggaaatt paham, bahwa tubuh kita memerlukan energi yang terkandung dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari untuk menjalani aktifitas kita yang pasti berbeda-beda. Semakin banyak aktifitas kita semakin besar pula kebutuhan kita akan energi yang menjadi penopangnya.

Dan sahabat semua pastilah tahu apa makanan yang diperlukan tubuh, seperti nasi yang merupakan makanan pokok kita (orang timur) dengan lauk-pauk pelengkapnya.. Tidak hanya makanan yang dapat kita konsumsi, tubuh kita pun memerlukan "makanan" berupa sinar matahari yang menyehatkan. Dibawah ini beberapa manfaat Sinar matahari, antara lain :
1. Sumber VItamin D
Dalam sinar matahari mengandung sinar yang namanya ultraviolet. Nah pada saat kita berjemur, sinar ini disaring oleh kulit, dan sinar ini merubah simpanan kolesterol di kulit menjadi vitamin D. Kalau kita menerima sinar matahari selama 5 meint saja, itu sama dengan memberikan 400 unit vitamin D pada tubuh.
2.  Meredam Kolesterol Darah.
Hal ini bisa terlihat dari derasnya keringat bila kita berjemur di bawah sinar matahari. Seolah semua penyakit yang diderita keluar. Setelah kolesterol yang ada di bawah kulit tadi dirubah menjadi vitamin D, otak dan tubuh akan memberikan sinyal kepada kolesterol untuk keluar dari darah menuju kulit. Sehingga kolesterol pun ikut teredam karenanya.
3. Membunuh Bakteri.
Sinar matahari juga mampu membunuh bakteri penyakit, virus dan juga jamur. Biasanya terapi sinar matahari ini diberikan kepada penderita TBC, erysipelas, pneumonia, mumps dan asma. Beberapa virus penyebab kanker juga dapat dibinasakan oleh sinar ultraviolet ini.
4. Mengurangi Gula Darah.
Gula darah berhubungan dengan penyakit kencing manis atau diabetes mellitus. Sinar matahari adalah insulin alami yang memberikan kemudahan penyerapan glukosa untuk masuk ke dalam sel-sel tubuh. Hal inilah yang merangsang tubuh untuk mengubah gula menjadi glycogen yang kemudian disimpan di hati dan otot.
5. Kesehatan Pernafasan.
Peningkatan kapasitas darah untuk membawa oksigen dan menyalurkannya ke jaringan-jaringan tubuh. Sinar matahari mampu meningkatkan jumlah gkikogen yang otomatis juga akan memberikan kebugaran pernafasan.
6. Membentuk dan Memperbaiki Tulang.
Dengan meningkatnya vitamin D dalam tubuh karena paparan sinar matahari dapat meningkatkan penyerapan kalsium. Kondisi inilah yang dapat membentuk dan memperbaiki tulang.
7. Meningkatkan Kekebalan.
Pada saat kita terkena sinar matahari, maka akan terjadi penambahan sel darah putih, terutama limfosit yang berguna untuk melawan penyakit, dan otomatis antibodi pun akan ikut meningkat.

Nah, banyak sekali manfaat yang bisa tubuh kita dapat dari sinar matahari. maka dari itu, setidaknya luangkan waktu selama 30 menit saja untuk dapat menikmati panasnya sinar matahari dan lebih baik dilakukan pada pagi hari untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada sebagian orang merasakan tubuh akan terasa lemas apabila tidak terkena sinar matahari pagi.

Kemudian, adakah yang tahu apakah "makanan" untuk otak kita itu?
"Makanan" yang diperlukan oleh otak kita adalah ILMU.
Ya! Ilmu pengetahuan itu merupakan "makanan" yang sangat penting bagi diri kita, tidak kalah penting dengan makanan yang diperlukan oleh tubuh.
Dengan memiliki ilmu kita akan memperoleh wawasan yang luas tentang berbagai hal, karena ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dan ilmu ada dalam berbagai aspek kehidupan kita.
Namun ilmu pengetahuan umum yang kita miliki harus berimbang dengan ilmu agama yang masing-masing kita anut. Agar terjadinya keseimbangan dalam kehidupan dunia pada saat ini dan kehidupan akhirat kelak..

Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu.
"Makanan" untuk hati kita. Apakah itu?
"Makanan" untuk hati kita adalah hubungan spiritual kita dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT. (Karena saya beragama Islam maka saya menyangkutkan dengan agama saya).
Saat hati kita terasa kering dan gersang, seolah tanah yang tandus dan tidak dapat kita tanami dengan tumbuhan-tumbuhan yang menyejukkan. Maka pada saat itu kita perlu waspada akan terjadinya hati yang "mati". Kurang respeknya kita terhadap hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita dengan sesama manusia (hablumminallah wa hablumminannas {Ali Imron : 112}), tidak adanya rasa bersalah saat melakukan maksiat, hati merasa biasa saja apabila meninggalkan kewajiban 5 waktu kita, dan melakukan perbuatan dosa lainnya itu merupakan tanda-tanda "mati"nya hati.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-Sedikit ulasan mengenai Hablumminallah dan Hablumminannas-
Hablumminallah (Tali DARI Allah) biasanya di
masyarakat kebanyakan berubah artinya menjadi
"hubungan kepada Allah". Hablumminallah, tali sebagaimana fungsinya adalah untuk mengikat & menarik, yang mana tali ini adalah tali yang ujungnya dari Allah. Secara umum dan ringkas, itulah keimanan. Yang mana faktor/komponen itulah yang mengikat & menarik kita.
Hablumminannas (Tali dari para manusia).
Singkatnya, wujud/bentuk konkrit dari iman adalah
adanya "ikatan sesama manusia" yg memegang keimanan.
Hablumminallah & hablumminannas, adalah satu paket
kesatuan yang tidak bisa dipisah, sebagaimana dalam Ali
Imron 112 tersebut, dan juga sebagaimana dalam dua kalimat
syahadat.
Flow sederhananya mungkin seperti ini:
Iman kepada Allah ya mengikuti semua kehendak Allah.
Kehendak Allah (yg untuk manusia) ada di Firman Allah
yakni Al-Quran.
Mengikuti ketentuan Al-Quran = iman kpd Allah.
Dan utk bisa melaksanakan ketentuan Al-Quran,
dibutuhkan;
sarana-prasarana, infrastruktur, otoritas, dst, yg
semuanya itu ada ditangan "ikhtiar" manusia.
Sebagaimana yg dicontohkan Rasulullah Nabi Muhammad
SAW.
Maka mengimani Allah, tidak lepas dari "memegang"
kebersamaan manusia (Umat Islam).
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maka untuk "menghidupakan" hati yang "mati", yang pertama kali kita perlu lakukan adalah bersegera mengintropeksi (muhasabah) diri, sekiranya apa-apa yang menjadi penyebab "mati"nya hati ini kita perbaiki. Kemudian kita perlu meningkatkan intensitas pendekatan kita kepada Allah SWT. Seberapa dekatkah kita dengan Sang Pencipta yang Maha Rohman dan Maha Rohim ini?
"Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahmaan : 13)
Langkah selanjutnya adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan terjemahannya untuk membantu kita memahami "surat cinta" yang telah Allah SWt berikan kepada ummat Nabi Muhammad SAW. Apabila pada saat kita membaca Al-Qur'an tiba-tiba saja air mata kita keluar (menangis), maka artinya hati kita menemukan kedamaiannya. Penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri kita (insya Allah) ikut dibersihkan. Dan apabila itu (menangis) terjadi maka lanjutkanlah membaca Kalam-Nya. Dan usahakan agar kita tetap continue membacanya setiap hari. Sedikit namun tetap berlanjut lebih disukai Allah SWT dari pada banyak namun hanya pada saat itu saja.

Huallahu’alam bissawab
Yang benar datangnya dari Allah SWT dan kesahalan datangnya dari diri saya sendiri.
~ Semoga bermanfaat ^_^ ~
Subhaanakallaahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika..
Wa'afhuminkum, wassalamu'alaykum warrohmatullahi wabarrokatuh..