Rabu, 29 Juli 2015

Lebih Afdhol Puasa Syawwal di Akhrikan

Mengapa puasa 6 hari Syawwal sebaiknya diakhirkan setelah hari-hari ied?

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi -hafizhohulloh- mengatakan:

Lebih Afdholnya… hendaknya seseorang menjadikan hari-hari iednya untuk kebahagiaan dan kesenangan (dengan tidak berpuasa).

Oleh karena itu, telah valid dalam sebuah hadits yang shohih dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau mengatakan untuk hari-hari (tasyriq) di Mina: ‘itu adalah hari-hari makan dan minum… maka janganlah kalian berpuasa di dalamnya”.

Apabila hari-hari Mina yang tiga, karena dekat dengan hari Idul Adha mengambil hukum ini, tentunya hari-hari idul fitri tidak jauh keadaannya dari hukum ini…

Oleh karena itulah, kamu dapati orang-orang akan menjadi ‘tidak enak’ apabila mereka diziarahi oleh seseorang di hari raya, lalu dia menolak hidangan yang disuguhkan dan mengatakan ‘aku sedang berpuasa’, sebaliknya mereka senang bila hidangan itu dinikmati tamunya.

Dan telah datang keterangan dari Nabi -alaihis sholatu wassalam- bahwa ketika beliau diundang oleh seorang sahabatnya dari kalangan Anshor untuk menikmati hidangan bersama sebagian sahabatnya, lalu ada sahabatnya yang menjauh dan mengatakan: ‘sungguh aku sedang berpuasa (sunnah)’.

Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengatakan kepadanya: ‘Sungguh saudaramu telah bersusah payah untukmu, jadi BATALKAN puasamu dan berpuasalah di hari lainnya’.

Ketika tamu masuk pada hari-hari ied, terutama hari kedua dan ketiga, tentu seseorang akan senang dan lega ketika melihat tamunya menikmati hidangannya. Jadi, keadaan seseorang bersegera untuk berpuasa pada hari kedua dan ketiga, ini perlu ditinjau lagi.

Sehingga lebih afdhol dan lebih sempurna bila seseorang menyenangkan perasaan orang lain (dengan tidak berpuasa). Bisa jadi di hari kedua dan ketiga ini ada acara-acara undangan, bisa jadi dia menjadi tamu mereka, dan mereka senang bila dia ada dan ikut menikmati hidangan mereka.

Maka perkara-perkara seperti ini; mementingkan silaturrahim dan membahagiakan kerabat, tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat keutamaan yang lebih afdhol dari amalan (puasa) sunnah.

Ada sebuah kaidah mengatakan: ‘Jika ada dua keutamaan yang sama bertabrakan, dan salah satunya bisa dilakukan di waktu lain… maka hendaknya keutamaan yang bisa dilakukan di waktu lain diakhirkan’. Bahkan, silaturrahim tidak diragukan lagi termasuk diantara amalan taqorrob yang paling utama.

Di sisi lain, syariat telah melapangkan untuk para hambanya dalam puasa 6 hari Syawwal ini, dia menjadikannya ‘mutlak’ (tidak terikat), boleh dilakukan di seluruh hari bulan syawwal, maka pada hari apapun puasa itu dilakukan di bulan syawwal; ia dibolehkan selain pada hari ied.

Berdasarkan keterangan ini, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk mempersulit dirinya dalam bersilaturrahim dan membahagiakan kerabatnya dan orang yang menziarahinya pada hari ied.

Oleh karena itu, hendaknya dia mengakhirkan puasa 6 hari syawal ini, sampai setelah hari-hari yang dekat dengan ied, karena orang-orang membutuhkan hari-hari ied itu untuk menciptakan nuansa bahagia dan memuliakan tamu, dan tidak diragukan bahwa mementingkan hal itu akan mendatangkan pahala, yang bisa saja melebihi pahala sebagian amal ketaatan (puasa)…

Oleh:
Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى
(Kandidat Doktor Univ Islam Madinah)
[Kitab: Syarah Zadul Mustaqni’, 107/5]. (87)

Pijar Cita-cita

Tulisan ini terinspirasi saat guru kami, Ustadz Budi Ashari, Lc bertutur menyampaikan fungsi sejarah. Salah satunya adalah fungsi motivasi. Beliau mengajarkan bagaimana belajar sejarah yang menyenangkan. Belajar cara mendalami sejarah agar lebih bersemangat. Belajar mengambil ibrah dari kisah-kisah bernilai tinggi. Mari bersama kita selami betapa dahsyatnya sejarah masuk ke relung jiwa kita.

Kisah ini dimulai seperti yang tertulis di dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala’. Imam Adz Dzahabi sang penulisnya menceritakan kisah pertemuan empat pemuda istimewa. Pemuda pertama adalah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khottob. Ketiga pemuda lainnya adalah putra Zubair bin Awwam yang dilahirkan dari rahim Asma’ binti Abu Bakar-shahabiyah yang disebut Nabi sebagai Dzatun Niqatain-. Mereka adalah Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair.

Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah. Kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “berharaplah!”. Ya, ini adalah pertemuan berharap. Majelis harapan. Majelis impian. Majelis asa. Majelis cita-cita.

Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”

Masya Allah... Anak muda yang ingin menjadi khalifah. Sejak muda telah berfikir cita-cita dan tanggung jawab yang besar.

Selanjutnya Urwah bin zubair berkata, “Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.”

Keinginannya sangat mulia, ingin menjadi seorang ulama, seorang ilmuan besar.

Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”

Lihatlah! Mush’ab bercita-cita dua hal sekaligus: menjadi pemimpin di Iraq dan menikahi wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik di zamannya. Keduanya putri dari sahabat-sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Terakhir, sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.”

Sebuah pinta yang terkesan sederhana, tapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba tiap insan bertaqwa.

***

Detik demi detik berganti. Waktu pun berlalu. Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita tulus yang mereka katakan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun. ‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah. Banyak sanat hadits darinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya. Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.

Masya Allah... kekuatan keinginan, cita, dan asa yang Allah ijabah. Allah izinkan harapan-harapan itu terwujud.

Keinginan yang belum bisa kita lihat adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu? Tapi Imam Adz Dzahabi rahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan. Aamiin, semoga...

Bagaimana rasanya ketika kisah ini dibaca? Bukankah banyak pelajaran mahal yang bisa diambil?

Majelis cita-cita yang di bahas di atas bukan sebuah pertemuan yang sangat formal. Mereka “hanya” sedang duduk bersama. Berbicara ringan namun syarat makna. Mereka membincang asa yang berorientasi kemuliaan hidup di akhirat, bukan saja di dunia.

Benarlah bahwa perkataan muslim adalah doa. Doa-doa yang akhirnya Allah wujudkan menjadi nyata. Maka hendaklah tiap muslim menjaga lisannya. Perkataan empat pemuda istimewa ini bukan komentar tak jelas arah. Bukan pula omong kosong, atau bualan belaka seperti yang dilakukan sebagian pemuda hari ini di saat kongkow mereka. Kata-kata yang hanya menggambarkan hidup tanpa kejelasan visi disertai kerontangnya ruhiyah, naudzubillah...

Merekalah pemuda-pemuda dengan sentuhan Nabi yang ditempa dengan keimanan dan Quran. Para pemuda yang dibina dengan pendidikan terbaik. Mereka tumbuh menjadi pemuda yang berani bercita-cita dan mewujudkan apa yang mereka inginkan. Dengan keimanan yang menghujam, yakin seutuhnya atas izin dan pertolongan Allah. Maka ini jadi PR para orang tua dan pendidik untuk melahirkan kembali generasi gemilang seperti ini.

Benarlah pula bahwa salah satu fungsi sejarah adalah motivasi. Tidakkah ini memotivasi kita? Renungkan! Siapapun punya kesempatan istimewa.

Siapalah Abdullah bin Zubair? Sehingga kemudian ia bercita-cita ingin menjadi khalifah. Ia bukan dari keluarga istana (meski keluarganya adalah keluarga sahabat Nabi yang mulia). Namun ia tetap berani bercita-cita, dan yang terpenting berani untuk berusaha meraihnya.

Maka, berharaplah! Bercita-citalah! Setiap orang berhak memiliki impian dan asa. Ia boleh menggantungkannya setinggi langit, tapi ia harus siap untuk memperjuangkannya sekuat tenaga.

Pun bedakan dengan orang-orang yang hanya berkhayal. Perbedaan orang yang bercita-cita dan berkhayal adalah ketika dia melaksanakan, mencoba berupaya maksimal untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan orang yang hanya bermimpi dan berkhayal adalah yang tetap dalam tempat tidurnya. Tidak kemana-mana. Tidak bergerak sama sekali. Maka bagaimana mungkin ia akan meraih impian-impiannya?

Manusia boleh bercita-cita. Biarkan pijar semangat meraihnya terus berkobar dan menyinari kehidupan kita. Jangan biarkan padam! Mari bersama semaksimal mungkin dalam upaya menjadi hamba Allah yang mulia, sholih, dan berilmu. Sampai suatu hari kita akan menyaksikan hadits Nabi “bekerja”:

“Bekerjalah kalian! setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya masing-masing.”

Jum'at, 29 Agustus 2014 10:33 Ditulis oleh Nunu Karlina