Sekitar 4 atau 5 tahun lalu, antara usia 14 dan 15, saat kelas VIII atau kelas IX sekolah menengah pertama (SMP), malam-malam kita menjadi begitu berharga dan menjadi aktifitas yang membuatku rindu. Ingin rasanya kembali ke masa itu, atau sekedar mengulanginya kembali, hmmmm..
Aku masih ingat bagaimana kita mempersiapkan malam kita sore itu.. Dengan membelia 2 batang lilin, kalau tidak salah harganya masih Rp. 500,- / batangnya, hihihi lucu sekali. Dua lilin itu akan menjadi penerang kita disetiap malamnya, oh, dan tak lupa korek api batangannya satu.. Korek itu akan awet mungkin lebih dari satu minggu, namun untuk lilinnya mungkin hanya bertahan sampai hari ke tiga, itu pun kalau kita beruntung, hehe..
Aku juga masih ingat seharian kita sibu membersihkan balkon atap rumahku dari debu dan dari dedaunan yang berada disekitarnya.. Yang sulit adalah saat sampah telah terkumpul, kita harus memindahkannya ke karung goni. Tentu tidak akan sulit untuk memindahkan dedaunan, namun debu dan serbuk bunga yang akan menjadi buah dari pohon mangga itu yang sulit. Jika masih menggunung tentu mudah mengambilnya, tapi jika sudah tinggal sisa-sisanya saja maka kita akan menyapukannya ke saluran air hujan yang menuju ke bawah rumahku..
Setelah balkon bersih maka kita lanjut ke rumahmu untuk mengambil tikar yang sudah terbagi menjadi dua, meski sudah tidak bagus namun masih bisa digunakan dan memang sangat bermanfaat bagi kita. Terlebih dahulu kita meminta izin kepada mamamu yang tak lain adalah bibiku, dan syukurlah dia memperbolehkannya. Hanya saja dia terlihat heran saat kita menjawab pertanyaannya tentang untuk apa tikar itu? hehehehe
Semua berjalan lancar, kita pun memberihkan badan kita setelah seharian bermandikan keringat memberishkan balkon. Oh ya, pasti teman-teman yang membaca cerita kita terheran-heran bagaimana cara kita naik ke atas balkon yang menjadi bagian atap rumahku, walau tak terlalu luas -mungkin hanya sekitar satu meter, dan panjangnya sepanjaaang, yaa sepanjang rumahku bagian depan..
Ayo katakan. bagai mana kita bisa mencapai balkon yang pastinya tinggi itu, mungkin sekitar 2.5 meter atau 3 meter?? Hmm, entahlah berapa tingginya... Oke, akan ku beritahu. Kami berdua naik kesana lewat pohon mangga yang ada di pekarangan samping rumahku. Setiap orang yang akan naik kesana memang selalu naik pohon itu selain menggunakan tangga yang terbuat dari bambu tentunya, that is a handmade ladder, you know! Walau tentu bukan kami yang membuatnya hehehe..
Siang berganti malam, dan waktu pun berlalu dengan seluruh persiapan yang kami lakukan, akhirnya langit telah gelap gulita dan mulailah bermunculan bintang yang gemerlap mengangkasa. Sekita jam 18.30 WIB langit sudah gelap memang, dan bintang sudah dapat terlihat sedikit demi sedikit dan kemudian bertambah banyak banyak dan baaannnnyyyaaakkkk sekali.. (rasanya seperti sedang melihatnya langsung, indah sekali! subhanallah walhamdulillah :D)
Setelah shalat maghrib kamu langsung kerumahku, atau aku yang menjemput kerumahmu.. Kemudian kita mengambil tikar, bantal, korek api dan lilin yang sudah kita siapkan dirumahku (itu adalah benda-benda yang menjadi perlengkapan kita sehari-hari dikemudian harinya), kemudian kita mulai memanjat pohon satu persatu dengan saling mengoper perlengkepan kita. Setelah sampai di sudut balkon sebelah barat kita mulai menyalakan lilin dan meletakkannya tak jauh dari tempat kita menggelar tikar dan kemudian menaruh bantal di atasnya. ^_^
Segala sesuatunya sudah rapih dan kita mulai merebahkan badan kita mengahadap langit, kemudian kita mulai bercerita dan berimajinasi. Terkadang rasi-rasi bintang terlihat jelas dan rasi-rasi bintang yang kita bentuk sendiripun begitu indah dan lucu-lucu hahahaha
Ingatkah? Jika kamu menemukan bentuk rasi yang kamu ciptakan sendiri maka kamu akan mencoba memperlihatkannya kepadaku, begitupun aku sebaliknya.. Ramai sekali saat kita mencoba mengarahkan satu sama lain untuk melihat rasi bintang yang kita buat, hihihihi... Kegiatan ini kami namakan "berkemah", namun bukan berkemah seperti arti harfiahnya, ini hanya istilah yang kita gunakan untuk melihat bintang... (uuu, aku jadi kaaannnngggeeennn sekali sampai berkaca-kaca *_* hehehe).
Terkadang sekilas aku sering melihat seperti ada cahaya yang jatuh, aku terkaget dan menanyakan padamu pernahakn kamu melihat seperti ada cahaya yang jatuh? Awal mulanya kamu menjawab tidak tapi tak lama kemudian kamu bilang "eh iya, tadi aku ngeliat tapi kecil". Entah itu bintang jatuh atau hanya seberkas torehan cahaya yang terlihat oleh kita yang berasal dari dua buah benda langit yang saling bertabrakan di langit nan jauh disana.. Lama kelamaan kita sering melihatnya, bahkan adakalanya kita melihat "bintang jatuh" itu bersamaan :)...
Oh iya, teman-teman pembaca pasti ingin tahu juga bagaimana asal ceritanya kita bisa melakukan aktifitas ini. Berangkat dari hobi kami manjat pohon (eits, jangan samakan sama monkey yaa, awas loh!), suatu malam kami naik ke balkon untuk sekedar main-main dan sambil cerita-cerita (biasa deehhh, the girls), kemudian aku iseng menaiki genting yang tersusun rapih itu yang menaungi rumahku agar tidak kehujanan, kepanasan dan keanginan (?). Dia merasa heran untuk apa aku naik keatas, dan aku yang memang -bisa dikatakan- dari kecil menyukai bintang menaiki genting rumahku untuk melihatnya. Sekalin naik aku fikir hohohoho.. Kemudian diapun mengikutiku setelah aku sampaikan niatku melihat bintang ditempat yang lebih tinggi lagi dari balkon, setelah sampai dipuncak kami pun duduk-duduk berdua (rasanya pegal duduk dipuncak segitiga atap rumah, asal kalian tahu saja), dan mulailah kami berimajinasi seperti yang kami lakukan saat "berkemah". Bedanya kami kesakitan karena duduk disana dan pegal menengadahkan dagu kami ke angkasa.
Namun itu tak mengurangi rasa senang kami melihat bintang-bintang yang indah itu, nah, dari sanalah kami membuat gagasan untuk "berkemah" ini, lebih baikkan daripada bersakit-sakitan duduk diatas atap dan berpegal-pegalan menengadahkan dagu??.. hihihihi, sekarang sudah tahu kan?? :D
Di malam-malam berikutnya kami membawa cemilan dan kain sarung karna udara malam yang dingin menusuk tulang. Terkadang kami menggotong tangga bambu milik paman kami untuk naik ke balkon, dan tak jarang kakak dan adikku, adiknya dan saudara kami yang lain ikut naik.. Acara "berkemah" kami pun jadi ramai, namun intinya tetaplah kami bersenang-senang... (happyyyyyyy ^_^ )
Sekarang, hari-hari telah berlalu menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan dan bulan pun berganti tahun... Hmmm, setelah kami lulus SMP "berkemah" pun tak kami lakukan lagi karena kami harus terpisah saat melanjutakan sekolah ke jenjang berikutnya yakni SMK. Karena aku akan disekolahkan ditempat perantauan kedua orang tuaku dan tempat tetehku menimba ilmu maka kamipun berpisah (tidak untuk selamanya, alhamdulillah). Dan disinilah aku menuntut ilmu selanjutnya, Jakarta sang Ibu Kota Negara..
Sesekali kami melakukannya lagi -naik ke balkon malam-malam, namun tidak "berkemah" lagi. Hanya sekedar main-main disana sambil cerita-cerita (again yaaa, the girls hehehe).. Itu pun saat aku ada dirumah, kampung halamanku yang tak terlupakan.
Sekarang, setelah lulus SMK kami kembali bersama lagi.. The "Sunflower" back together.. (hey hey, ingatkaann pastinya sama "Sunflower"??)
Setelah lulus dia melanjutkan kuliah di Ibu Kota jadi kami bersama lagi, walau kami kuliah di tempat yang berbeda. Dan "berkemah" pun sulit untuk dilakukan disini, mengingat jarang sekali bintang-bintang terlihat karena mereka tertutup awan kotor yang terbentuk dari polusi, hmmm :(
Saat kita mudik nanti, kita lakukan itu lagi yuk Lia? Sepupuku, saudaraku, my lovely best friend ^_^
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ku haturkan Alhamdulillahi, rasa syukurku kepada Allah SWT atas nikmat yang telah Allah berikan padaku.. Love Allah :* ^_^
Salam hangatku untuk keluarga besar di Cirebon dan Bogor sana, semoga kalian sehat selalu dan dalam naungan kasih sayang Allah SWT. Barakallahu my big family :* ^_^


